Baru
Sesuai kesepakatan antara Erlang dan Laras tadi malam, mereka akan berangkat ke kampus bersama hari ini. Senyumnya bahkan sudah merekah sejak ia membuka kelopak matanya, ia tak sabar. Maka Laras buru-buru menyelesaikan segala persiapannya, bahkan ia hanya menghabiskan waktu sekitar tujuh menit untuk menyelesaikan sarapannya—ia bahkan kena tegur dari keluarganya karena makan seperti orang kesetanan. Maklum, gadis itu sangat bersemangat pagi ini.
“Gue udah di perempatan Godean Ras, tunggu di depan.” Itu adalah bubble chat terakhir yang Erlang kirimkan kepadanya 15 menit yang lalu. Lantas Laras langsung membawa tubuhnya keluar rumah dan berdiri di depan pagar rumahnya sembari menenteng helm bogo kesayangannya, karena sebentar lagi laki-laki itu pasti akan tiba.
Dari Laras berdiri, gadis itu melihat mobil HRV Turbo berwarna grey metallic mendekat dan berhenti tepat di depannya. Ia hanya geming di tempatnya dengan alis sedikit berjingkat, bertanya-tanya siapa tamu yang datang ke rumahnya sepagi ini?
Ketika kaca jendela mobil itu turun sepenuhnya, laki-laki yang Laras tunggu ternyata ada disana.
“Kenapa bengong? Ayo masuk,” ucap Erlang yang sedang duduk dibalik kemudi.
“Ini… mobil siapa?” tanya Laras masih dengan raut sedikit bingung karena pertama kali melihat Erlang membawa mobil.
Merasa gregetan dengan Laras yang masih setia berdiri di luar mobil miliknya, Erlang segera turun dan berjalan cepat menghampiri Laras.
“Sesi interviewnya di dalem aja, buruan masuk ah.” Bak pria-pria gentle yang ada di dunia fiksi, kuasa Erlang, tanpa perlu diperintah, berinisiatif membukakan pintu mobil untuk sang gadis. Saat Laras sudah masuk sepenuhnya ke dalam mobil dan duduk dengan nyaman dan aman, Erlang segera menutup pintu itu dan berlari kecil memutari mobil dan kembali duduk di belakang kemudi. Lantas daksanya mulai menginjak gas dengan perlahan untuk berangkat menuju ke kampus.
Buat Kawula Muda yang lagi di jalan, tetap berhati-hati ya. Semoga selamat sampai kantor atau kampus atau sekolah. Nah, biar Kawula Muda nggak bete karena macet, gue mau ngasih satu lagu hits dari the first Indonesian women yang tampil di Coachella. Ini dia Every Summertime dari Niki.
Begitulah sedikit cuplikan suara dari salah satu announcer radio yang sangat terkenal di kalangan para Kawula Muda yang dilanjutkan dengan suara merdu Niki menggema memenuhi ruang hening yang ada antara Laras dan Erlang. Bibir keduanya sama-sama tertutup rapat, tidak ada yang memulai pembicaraan sejak mereka meninggalkan perkarangan rumah Laras karena mereka fokus pada kegiatannya masing-masing. Erlang yang menaruh atensi sepenuhnya kepada jalanan yang ada didepannya, sementara sang gadis sibuk menatap sang pria dengan senyum jahil yang mengembang dari telinga ke telinga sambil bersedekap dada.
“Kenapa? Seneng lo dijemput pake ginian?” Merasa sedikit risih dengan aktivitas yang Laras sedang lakukan, Erlang akhirnya membuka ruang obrolan antara keduanya.
“Cieee cieeee mobilll baruuuuu. Pantesan dari jarak 1 kilo tadi udah keliatan kinclongnya. Dikasih sama abang sama papa ya??” timpal laras dengan ceria dan sedikit bercanda.
“Hm hm, ya lo tau lah kebiasaan di keluarga gue kayak gimana Ras.”
Mendengar jawaban dari lawan bicaranya, Laras menganggukkan kepala tanda menyetujui. Kemudian satu pertanyaan terlintas dipikirannya, “Terus selain ini, apa lagi? Nggak mungkin mobil doang kan yaa”
Laras yang mengenal Erlang dan seluk beluk keluarganya cukup lama, sudah tidak kaget dan hafal dengan tradisi yang ada di keluarga laki-laki itu. Tradisi seperti ini salah satunya. Di keluarga Erlang, setiap ada anggota keluarga yang baru memasuki dunia perkuliahan, maka akan mendapat guyuran fresh money dengan nominal yang tidak tanggung-tanggung dari para saudara dan orangtuanya. Dan dana itu bebas digunakan untuk apa saja asal jelas dan tidak untuk hal buruk atau aneh-aneh. Jujur saja saat pertama kali Laras mengetahui tradisi ini, ia merasa sedikit iri dan sempat meminta Erlang untuk memungutnya sebagai saudara angkat—dan langsung ditolak secara mentah oleh pria itu.
“Iya nggak, soalnya duitnya masih sisa banyak. Lo tahu kan Ras kalau gue nggak terlalu interest ke dunia otomotif. Makanya gue mikir sisanya gue invest-in aja sama beli properti. At least dengan begitu uang gue bisa muter.” Terang Erlang dengan santai.
“Kerenn-kerennn, ilmu manajemen keuangan lo top markotop,” jawab Laras dengan dua jempol yang diangkat tinggi.
“Wkwkwk, gue cuma berusaha maksimalin apa yang gue punya aja Ras.”
“Hm hm, betewe lo juga mau dapet hadiah dari aku juga nggak Lang?” Mendengar tawaran yang menarik dan kesempatan emas yang tak datang dua kali, Erlang dengan semangat menganggukkan kepalanya beberapa kali.
“Oke, sini gantian aku aja yang nyetir.” Jawab perempuan itu dengan wajah tersenyum manis berbumbu sedikit ketengilan.
“Oh, lo ceritanya mau gantian ngetreat gue gitu ya? Kayak couple-couple luar negeri gitu?” timpal Erlang tanpa merasa curiga sedikitpun dengan apa yang ada di kepala Laras.
“Nggak.”
“Kok nggak? Terus? Mau ngapain?”
“Mau gue baretin biar tercetak memori tak terlupakan. Hahahahaha.” Lantas pecah lah tawa nyaring Laras dan hembusan nafas panjang dari Erlang.



