Who Is She

Who Is She?

Semerbak harum cedar wood dari purrifier yang menyala memenuhi kamar berukuran enam belas meter persegi yang telah dihuni Marcel beberapa tahun belakangan. Dirinya saat ini sedang bersantai merebahkan diri di atas kasur kesayangannya sembari fokus membalas direct messages yang ia kirimkan kepada Aileen. Sangking fokusnya membalas, hingga membuat Marcel tak tahu bahwa Kenzi mengirim pesan beberapa saat yang lalu. Dirinya sempat terkejut saat membaca pesan itu, tidak mengira bahwa salah satu member yang sudah ia anggap seperti adik sendiri akan bertanya mendadak di tengah malam begini. Setelah diam beberapa saat memikirkan apa saja yang harus ia jelaskan kepada Kenzi nanti, Marcel langkahkan tungkainya menuju dimana Kenzie berada.

Hal pertama yang Marcel lakukan ketika sudah berada di depan pintu kamar Kenzi yang tidak tertutup secara sempurna adalah mengintip kedalam, memastikan apakah sang pemilik kamar sudah terlelap atau belum, dari celah kecil itu terlihat Kenzi yang sedang fokus bermain game online di personal computernya—diantara mereka bertujuh memang Hayza dan Kenzilah yang paling gemar bermain game. Setelah puas mengintip untuk memastikan, Marcel ketuk pintu itu dengan perlahan.

Tok tok

“Masuk,” ucap Kenzi tanpa mengalihkan fokusnya dari layar komputer di hadapannya. Dari sudut matanya Kenzi dapat melihat raga Marcel yang memasuki kamar dan langsung menuju kasur miliknya. 'Pasti mau bahas yang gue imess tadi' batin Kenzi, lantas segera ia selesaikan sesi bermainnya dan ikut merebahkan diri di atas kasur bersama Marcel.

“Lo kesini pasti mau bahas apa yang gua tanyain kan bang? Jadi gimana? Siapa tu cewek? Kok gue nggak pernah tau?” Rentetan pertanyaan to the point tanpa pembuka dan tanpa basa-basi dari Kenzi adalah pertanda dibukanya sesi bercerita diantara keduanya. Begitulah Kenzi, jika sudah kepalang kepo, ia tidak akan segan-segan melontarkan sederet pertanyaan sekaligus.

“Udah pertanyaannya panjang kayak gerbong kereta, nggak ada basi-basinya pula, kebiasaan,” ucap Marcel sembari geleng-geleng kepala. Marcel tidak heran dan memaklumi perangai Kenzi yang seperti itu, setelahnya Marcel mulai menjelaskan topik utama pembahasan mereka berdua malam ini.

“Jadi cewek itu fans kita Ken, lebih tepatnya fans gua—kayaknya sih. Makanya lo ngga pernah tahu dia. Gua tau akun twitternya gara-gara gua iseng coba nyari namanya di search bar dan ketemu. Terus habis itu gua mulai reply-reply tweetnya dia, sampek akhirnya tadi sore dia private akunnya mungkin risih gara-gara ada reply ghaib di tweetnya.... which is me. Karena gua nggak ada pilihan lain, akhirnya gua follow deh, terus gua dm mau minta maaf. Tapi malah lanjut dm an, gitu doang Ken.” Mendengar penuturan singkat dari Marcel tentu saja menimbulkan berbagai pertanyaan di kepala Kenzi, terbukti dengan tercetaknya kerutan di alisnya saat ini. Logikanya sedang mencerna sekaligus berpikir bagaimana bisa abangnya ini sesantai itu berinteraksi dengan salah satu fans mereka—mulai dari memfollow hingga melakukan komunikasi menggungakan Direct Messages. Bukan, bukan maksud Kenzi untuk negatif thinking tapi kalau di pikir menggunakan akal sehat miliknya, seharusnya tidak seperti itu. Apalagi Marcel menggunakan akun pribadinya, apakah Marcel tidak takut kalau nanti akun pribadinya tersebar? Jujur saja Kenzi heran dengan tingkah Marcel.

“Bang lo nggak takut kalau nanti dia nyebarin akun pribadi lo?” Tanya Kenzi

“Nggak, tapi gue juga nggak tahu kenapa gue bisa sesantai ini. Terus kalo dari hasil dm an gue tadi sama dia tadi, gue rasa dia nggak bakal nyebarin kok. Nih, baca aja dmnya.” Marcel angsurkan ponselnya kepada Kenzi, membiarkan Kenzi membaca seluruh runtutan percakapan yang terjadi antara dirinya dan Aileen disitu. Setelah Kenzi baca keseluruhan chat itu ia mendapatkan suatu kesimpulan, sepertinya Marcel memiliki perasaan kepada si Aileen ini yang entah baru perasaan suka atau yang bagaimana Kenzi tidak tahu. Kenzi bisa menyimpulkan seperti itu karena saat ia melihat profile picture yang di pajang Aileen di akunnya—setelah selesai membaca, Kenzi langsung mengecek akun Aileen tadi—Aileen adalah gadis yang cantik, jadi wajar kalau Marcel bertingkah begini.

“Bang tujuan lo kayak gini ke si Aileen apa bang? Lo suka sama dia? Nggak mungkin lo begini kalau cuma iseng. Terus lo habis ini mau gimana?”

“Iya, mungkin gue punya rasa suka sama dia. But im not too sure with my feelings yet. Gua juga belum tahu mau gimana habis ini, maybe i will go with the flow..., gua sekarang malah lebih kepikiran hal ini.... Gua nggak salah kan ngelakuin kayak gini, Ken?”