Married With My Bestfriend bagian dua

Di ruang tamu apartemen milik Aruna—atau sering dipanggil Oliv oleh para sahabatnya—kelima manusia dewasa itu sudah duduk dengan rapi melingkari makhluk kecil yang sedang tertidur dengan pulas. Si kecil terlelap dengan nyaman di kasur lantai yang Aruna gelar. Ia sama sekali tidak terganggu, bahkan ketika kelima manusia dewasa itu ribut berebut porsi sarapan.

“Ini kenapa jadi pada diem-diem an deh?” Jessy yang duduk di sebelah Aruna akhirnya membuka suara terlebih dahulu.

“Ya gue nggak tau harus tanya apa kalau Oliv belum cerita gimana ni bayi bisa disini” ujar Juna dengan tangan bersedekap di depan dada seraya menatap Aruna lurus-lurus.

“Oh iya sorry-sorry gue malah diem aja. Gue yakin kalian pasti ngira kalo bayi ini ditaruh di depan pintu apart gue sama sepucuk surat terus langsung ditinggal gitu aja kan? Well, kejadiannya tadi nggak begitu. Gue ketemu sama ibunya, bahkan kita ngobrol sebentar sebelum dia bener-bener ninggalin dan nyerahin ke gue.” Aruna sapukan manik matanya keseluruh wajah teman-temannya sebelum menaruh atensi ke bayi dihadapannya. Perlahan memori di otaknya mulai bekerja, menayangkan runtutan kejadian yang tak disangka-sangka tadi pagi.


Ting Tong Ting Tong Ting Tong

Suara bel yang ditekan terus-meneruh tanpa jeda mengusik Aruna yang masih nyaman bersembunyi di balik selimut hangatnya. Ia berniat bangun siang hari ini, setelah semalaman begadang merombak desain baju pesanan client-nya. Hingga tanpa diduga ada tamu yang dengan berani mengusik jam tidurnya.

Dengan hati merutuk, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke ruang depan. Saat pintu itu dibuka berdirilah seorang perempuan yang ia kenal baik dalam keadaan kacau balau sembari menggendong seoran bayi. Otaknya sempat berhenti bekerja karena tak mengira kehadiran perempuan itu ke apartemennya sepagi ini. Setelah tersadar Aruna langsung mempersilahkan sang tamu masuk.

Perempuan itu bernama Aubrey, salah satu sepupu jauhnya. Terakhir kali Aruna berkomunikasi Aubrey adalah setahun yang lalu sebelum ia menghilang bak ditelan bumi. Setelah meminum teh hangat yang dibuatkan Aruna, Aubrey langsung mengatakan maksud dan tujuannya mendatangi kesini. Aubrey ceritakan semua kejadian yang menimpanya belakangan ini. Bayi yang ada digendongannya ini hadir karena Aubrey yang tanpa sadar melakukan hubungan badan dengan seorang laki-laki di sebuah club karena terlalu mabuk, dan ketika dimintai mengenai pertanggungjawaban, laki-laki itu langsung melarikan diri.

“Selain itu, Aku sekarang sekarat Liv, aku penyakitan. Kata dokter, kemungkinanku untuk sembuh juga kecil. Karena itu aku dateng kesini Liv, aku mau minta tolong ke kamu. Kamu mau nolong aku, kan?” Tanya Aubrey dengan mata memerah karena menangis.

“Iya, iya aku pasti bantu. Apa yang bisa aku lakuin buat bantu kamu Brey?” Setelah mendengarkan kisah menyedihkan dari sang sepupu, Aruna sudah bertekad dalam hati akan mengabulkan apapun permintaan sang sepupu.

“Aku minta tolong sama kamu buat ngerawat bayiku. Maaf ya Liv, aku malah lari dan melimpahkan tanggungjawab sebesar ini ke kamu. Tapi aku nggak yakin bisa ngerawat dia dengan keadaan seperti ini. Cuma kamu satu-satunya orang yang aku percaya, Liv. Tolong kabulkan satu permintaan terakhirku ini aja.”


“Jadi gitu ceritanya.” Hening, tak ada respon yang keluar dari mulut keempat manusia itu setelah mendengarkan cerita panjang lebar Aruna. Mereka sama-sama bingung tak tahu harus bagaimana dan merasa iba kepada bayi yang sedang tertidur pulas itu.

“Eum guys? Haloo? Wajah kalian kenapa jadi mellow gitu dah? Ini gue harus gimanain ponakan gue?” Aruna lambaikan tangannya kedepan wajah temannya satu persatu, berusaha membuyarkan tatapan menyedihkan yang terpancar di wajah keempatnya.

“Emang lo sendiri mau gimana Liv? Yakin bisa ngerawat sendirian?” tanya Jessy kepadanya.

“Ya mau gimana lagi? Gue udah dikasih amanah segede ini masak gue ingkar? Paling gue sewa babysitter deh, kalian ada kenalan babysitter nggak?” Satu-satunya opsi yang terlintas dikepala Aruna adalah menyewa pengasuh, menurutnya itu merupakan win-win solution. Ia tetap bisa bebas bekerja dan pergi ke butik tanpa perlu khawatir memikirkan sang bayi dan disisi lain ada orang berpengalaman yang akan merawat si bayi.

“Lo yakin mau sewa babysitter? Mahal loh Liv belum lagi sekarang banyak berita kasus babysitter yang nggak bisa dipercaya. Gue aja merinding bayanginnya,” Timpal Jess, lagi-lagi. Belum sampai Aruna membuka mulut kembali, Hendrian bersuara.

“Gue ada saran, tapi kalo gue belum selesai ngomong jangan lo timpuk dulu,” ucap Hendrian dengan tampang sok serius.

“Ya udah cepetan nggak usah bertele-tele,” sahut Lukas sangsi. Pasalnya terkadang jawaban yang diberikan oleh temannya itu seringkali hanya bercanda dan tak bisa dianggap serius.

“Kalau saran gue ya Liv, lo bawa tu bayi ke rumah Lukas. Kalau perlu lo tinggal aja disana sekalian. Kalo lo tinggal disana sama ni bayi, gue yakin hidup lo bakal adem ayem. Lo nggak bakal dapet nyiyiran tetangga apart lo gara-gara bayi lo tengah malem nangis, terus di rumah Lukas juga ada Bi Wati yang pasti bisa bantuin lo ngurus bayi. Lumayan kan?” Beberapa detik setelah menyuarakan ide cemerlang setengah gilanya, kepala Hendrian langsung mendapat tempeleng keras dari Lukas.

“Apa-apaan saran lo hah?! Kenapa tiba-tiba jadi kerumah gue?!” tukas Lukas tak habis pikir dengan ucapan sahabatnya itu.

“Ah elah rumah lo yang segede gaban kayak begitu butuh penghuni lain biar nggak sepi-sepi amat. Lagian kasian juga Bi Wati nggak ada temennya gara-gara lo tinggal kerja mulu. Kenapa sih? Lo gamau bantuin si Olip? Lo ga kasian sama dia? Pelit amat dah.” Cerocos Hendrian dengan mulut manyun sembari mengusap-usap kepalanya yang terasa nyut-nyutan.

“Bukan gitu, maksud gue tuh — ”

“Gue setuju sih Liv sama idenya Hendri, udah lo nggak usah khawatir apa kata orang. Di sana ada Bi Wati, lo nggak hidup berdua doang. Nanti gue juga sering-sering kesana deh.” Timpal Jessy mendukung ide gila Hendrian.

“Sabi tuh. Gue setuju.” Juna yang sedari tadi hanya mendengarkan ternyata ikut mendukung, membuat Lukas dan Aruna saling bertatapan dengan wajah pucat merasa kalah telak. Keduanya sama-sama membatin apakah ide gila ketiga temannya ini akan membawa mereka kepada titik yang seperti apa?