09. Akdas

Terhitung sudah empat jam sudut ruang di salah satu restoran cepat saji itu diisi oleh sepasang manusia berbeda jenis. Keduanya sama-sama sedang khidmat berkutat dengan segala angka dan buku yang berserakan dihadapan mereka. Bak sedang berada dalam mode do not disturb, dua sejoli itu sama sekali tidak merasa terganggu dengan lalu lalang pengunjung yang ada—padahal resto cepat saji yang terkenal dengan logo M di Jalan Kaliurang itu cukup ramai saat ini. Dari semua cabang yang ada di kota Yogyakarta, mereka memilih untuk datang kesini dengan alasan agar merasakan satu nasib dengan para customer yang ada. Bagaimana tidak senasib jika kebanyakan pembeli yang mengisi bangku kosong pada jam hampir tengah malam ini adalah para mahasiswa layaknya mereka berdua.

Disebelah meja yang mereka gunakan, terlihat 2 cup mc flurry rasa oreo dan kemasan french fries yang telah keduanya lahap hingga tak bersisa. Antara kelaparan tapi tidak ingin menambah dosa timbangan yang sudah berat atau karena hanya ingin menumpang tempat sehingga membeli menu yang harganya tidak menguras dompet adalah pilihan yang tepat. Entahlah, hanya mereka dan tuhan yang tahu alasannya.

“Ras gue udah nih.” Setelah dilanda keheningan cukup lama, akhirnya sang adam bersuara kembali terlebih dahulu. Itu Erlangga atau lebih sering dipanggil Erlang dilingkungan pertemanannya—termasuk Laras. Ide belajar ini diusulkan oleh Laras, karena esok keduanya harus menghadapi kuis mata kuliah akuntansi dasar. Bagi mahasiswa baru layaknya mereka berdua, kuis mata kuliah akuntansi dasar menjadi momok yang menyeramkan, apalagi saat mereka mendapat testimoni dari para kakak tingkat yang berkata untuk jangan berharap mendapatkan nilai yang tinggi pada kuis mata kuliah ini. Maka disinilah mereka sekarang, berusaha penuh memeras otak demi mendapat nilai yang cukup—tidak perlu tinggi, yang penting tidak memalukan—untuk kuis esok hari.

“Bentarr, aku tinggal notal jumlahnya ini.” Mendengar Erlang mengatakan bahwa ia sudah selesai dengan pekerjaannya, jari lentik itu buru-buru menekan berbagai angka di kalkulator berwarna putih miliknya, kemudian angka sebesar 6.050 muncul di layar kecil alat hitung itu. Kemudian segera Laras tulis hasil yang ia dapat ke lembaran kertas folio di depannya.

“Enam ribu lima puluh dolar… nah, udah balance, gumamnya diikuti senyum bangga karena berhasil mendapatkan hasil yang seimbang antara kolom kredit dan debit. Melihat tingkah Laras yang seperti itu, Erlang lantas tertawa kecil sembari bermonolog dalam hati, “kayak anak kecil, kalau nulis pake dieja”.

“Udah?” tanyanya yang dijawab anggukan oleh si gadis. Kemudian kuasanya terulur untuk mengambil lembaran kertas milik Laras untuk selanjutnya ia bandingkan pekerjaan miliknya dengan milik Laras. Sementara Laras menanti dengan sedikit was-was.

“Ini nanti kalau sampek salah lagi, udalah nyerah aku,” kata Laras dalam hati. Pasalnya dari beberapa soal yang sudah dikerjakannya dengan Erlang tadi, pasti ada saja kesalahan yang ia perbuat dengan/atau tanpa sadar dan berakhir ia harus menerima hasil pekerjaannya dipenuhi coretan indah berwarna merah terang dari Erlang.

Memang begitu kebiasaan keduanya tiap kali melakukan sesi belajar bersama sejak SMA. Erlang tidak akan segan menyoret pekerjaan Laras dengan bolpoint merah sembari menjelaskan letak salah dan bagaimana seharusnya itu dikerjakan. Ketika Laras protes pertama kali karena tak terima pekerjaannya menjadi berantakan, Erlang hanya menjawab dengan enteng, “Biar nempel di otak lo Ras.”

Saat telinga Laras mendengar laki-laki itu memanggil namanya sesaat setelah pekerjaannya di periksa oleh Erlang, ia langsung menghela nafas dengan keras dan menyenderkan kepalanya ke meja lalu menutup kepalanya menggunakan buku paket akuntansi yang tebalnya melebihi kamus.

“Ah udahlah Lang, aku nyerah aja kuis akdas besok,” ucapnya dengan nada lelah dan frustasi. Pada titik ini, Laras sudah menerima dan berpasrah akan nilai kuisnya besok.

“Ras bangun deh, sini dengerin gue dulu. Gue baru manggil loh belom ngomong apa-apa.” Erlang singkirkan buku akuntansi yang ada di kepala Laras dan kemudian Erlang tepuk pelan tangan gadis itu untuk kembali ke posisi duduk semula.

“Mana lagi yang salah? Banyak ya pasti?” Mendengar kalimat itu keluar dari bibir Laras dengan nada sedikit jengkel, Erlang tahu bahwa perempuan yang ada disampingnya ini sudah mulai merasa bete dan jengah karena pekerjaanya terus-terusan tidak berhasil mencapai tingkat seratus persen benar.

“Kata siapa? Orang lo cuma salah dikit banget kok. Nih Liat. Cuma salah di akunnya. Gue tanya, kalau perusahaan dagang beli persediaan barang dagang pakai metode perpetual nyatet pembeliannya di akun apa?” tanya Erlang.

Inventory,” jawab Laras dengan cepat dan yakin tanpa keraguan sedikitpun.

“Nah terus kalau pakai metode periodik? Dicatet ke akun apa?” Erlang lemparkan sekali lagi pertanyaan ke lawan diskusinya itu.

“In.. ven.. tory juga???” sahut Laras dengan manik mata keatas menandakan ia sedang berpikir keras.

“Bukan, tapi di purchase Ras. Kalo metode periodik habis beli persediaan dicatet ke purchase, kalo metode perpetual lo udah bener, nyatetnya ke akun Inventory.” Jelasnya sembari menuliskan kata purchase di lembar jawaban milik Laras.

“Oh iya ya, paham-paham.” Penjelasan Erlang yang singkat dan mudah dicerna berhasil masuk ke otak Laras tanpa gangguan. Inilah salah satu alasan mengapa ia suka belajar bersama dengan laki-laki itu. Pun ketika ia tetap tidak paham dengan penjelasan Erlang, laki-laki itu akan kembali menjelaskan dengan sabar.

“Udah itu doang salah lo, itungannya udah bener semua. Akun-akun lain juga udah bener. Sekarang lo mau lanjut apa udahan, nih?” Mendengar penawaran yang diberikan Erlang, Laras buru-buru menutup semua buku yang ada dihadapan mereka dengan tersenyum kesenangan. Jujur ia sudah menanti sesi ini tiba.

Bukan, bukan pulang ke rumah yang Laras nanti sedari tadi, melainkan sesi bercerita dengan Erlang. Berbagai hal dan topik akan mereka berdua bahas, mulai dari yang remeh hingga yang penting. Seperti sekarang ini, awalnya topik yang mereka bahas berkutat seputar tugas ospek dan kuliah yang tiada habisnya hingga membahas tips and trick yang diberikan oleh senior mereka dalam menghadapi beberapa dosen killer yang ada di prodi keduanya.

Sesi bercerita—garis miring bergosip—berakhir saat Erlang mengetahui bahwa jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Saat laki-laki itu akan mengemasi barangnya, tangannya dihentikan oleh Laras yang meminta nilai kepadanya atas hasil pekerjannya tadi.

Lalu dengan cepat jemarinya meraih kembali bolpoin merah andalannya dan membubuhkan berbagai jenis penilaian yang bisa ia berikan.

“Kok tinggi banget nilainya? Kan tadi aku ada salah?” tanya Laras keheranan.

Maka dengan senyum tipis sembari mengusap lembut pucuk kepala Laras, ia menjawab, “Gapapa, hadiah buat effort lo yang nggak gampang nyerah. Good job.”