
Sungai Han
Dari balik kemudi mobil yang Marcel kendarai, netranya menangkap sosok yang ia nanti. Senyumnya tak luntur melihat sang gadis yang sedang berjalan mendekat. Dari kejauhan saja, aura kecantikan yang dipancarkan oleh gadis itu sudah bisa menyita perhatian Marcel.
Tuk tuk
Karena terlalu fokus memperhatikan sang gadis, membuat Marcel tak menyadari bahwa Aileen sudah berdiri di samping pintu mobil. Setelah tersadar dari lamanunannya dengan tergesa Marcel membuka kunci pintu itu dari dalam.
“Hai, lama nunggunya?” sapa Aileen dengan senyum manis yang terpatri di bibirnya sambil menyamankan posisi duduk. Walaupun ia terlihat santai seolah-seolah ia sudah terbiasa bertemu dengan Marcel, tapi percayalah, rongga dadanya saat ini sedang berdentum dengan sangat kencang. Ia merasa gugup dan tidak percaya diri dengan penampilannya sekarang, yang hanya mengenakan outfit casual* dan wajah tanpa polesan make up. Jika saja ia tahu bahwa Marcel akan menghampirinya seperti ini, pasti sebelum pergi tadi ia akan sedikit berdandan. Tapi mau bagaimana lagi, hal ini tidak di rencanakan.
“Nggak kok, kamu ngapain malem-malem ke Sungai Han? Sendirian pula,” tanya marcel.
“Bosen aja di apart, Freya nggak bisa di ajak. Dia lagi keluar sama temen-temen kuliahnya. Makanya aku keluar sendiri.” timpal Aileen.
“Kenapa nggak ngajak aku? Kan bisa aku temenin.” Alis Aileen sedikit terangkat mendengar penuturan Marcel, kalimat itu masih terasa asing di indera pendengarannya. Selain karena ia tidak berani mengajak Marcel keluar—takut mengganggu jadwal sang pria—juga karena Aileen tidak ingin cari mati dengan terang-terangan berkeliaran bersama seorang idol tampan di tengah-tengah Kota Seoul.
“Emang nggak ada pikiran buat ngajak kamu, pikirku sih biar kamu istirahat aja di apart. Pasti capek kan habis kerja seharian, nggak mungkin aku tega ngajak kamu cuma buat nemenin aku yang keluar nggak ada tujuannya gini,” jelas Aileen.
“Ya udah kalau gitu. Tapi kalo kamu aku ajak jalan-jalan sekarang, kamu mau kan Ai?”
“Kemana?”
“Nanti pasti tahu.” Marcel nyalakan mesin roda empat itu, saat akan menginjak pedal gas. Ujung netranya mendapati Aileen belum mengenakan sabuk pengamannya. Langsung saja Marcel mencondongkan badannya kearah Aileen untuk meraih sabuk pengaman itu dan memasangkannya dengan benar. Tentu saja Aileen kaget bukan main dengan tindakan tiba-tiba marcel, ia sempat menahan napas dan sedikit menarik kepalanya kebelakang karena jarak wajah Marcel dan dirinya tadi hanya terlampau dekat. Bahkan jika tadi Aileen majukan kepalanya kedepan beberapa inci saja, bibirnya sudah pasti mengenai pipi pria itu.
“Kalau naik mobil jangan lupa pakai sabuk pengaman Ai.” Peringat Marcel. Aileen hanya menjawab dengan anggukan kepala, lidahnya masih kelu untuk menjawab walaupun hanya sepatah kata. “Gila, gila. Dia kenapa gitu sih, ga ngerti apa kalau bikin jantung gue makin dag dig dug.” oceh Aileen dalam batin. Kemudian segera mereka pergi ke tempat tujuan Marcel.
Sepanjang perjalanan, suasana yang terjadi diantara keduanya sudah tidak secanggung tadi. Selain karena terbantu dengan musik yang Marcel nyalakan di speaker mobilnya, juga karena Marcel yang berusaha untuk mencari topik bahasan—memaksimalkan kesempatan pertamanya bisa berbincang santai dengan sang pujaan hati. Pertanyaan yang mereka berdua obrolkan pun hanya obrolan ringan seperti makanan favorit, warna favorit, hingga tempat favorit mereka untuk melakukan healing. Dari obrolan itu juga Marcel mengetahui bahwa Sungai Han adalah tempat favorite Aileen.
“Terus kamu kalau healing biasanya kemana Cel?” tanya Aileen penasaran.
“Sebenernya aku suka dateng ke Namsan Tower, cari angin sambil liatin Seoul pas malem, rasanya kayak bisa napas dengan bebas gitu. Tapi karena kamu suka Sungai Han. Aku ajak kamu ke tempat khusus. Tempat ini sering aku sama datengin sama anak-anak.” terang Marcel.
Beberapa saat kemudian, akhirnya tiba lah mereka di destinasi yang Marcel katakan. Keduanya berhenti di sebuah Restaurant yang bernuansa klasik. Restaurant ini masih berada di pinggir sungai Han yang berada delapan kilometer dari pusat Kota Seoul, tepatnya di distrik Mapo.
“Ayok Ai turun” ajak marcel kepada Aileen. Dirinya saat ini sudah mengenakan topi, masker, dan hoodie untuk menutupi identitasnya. “Ini kita mau makan di sini? Nanti kalo ada yang ngenalin kamu gimana?” Otak Aileen langsung memberikan kode peringatan, mengatakan bahwa dine-in di resto ini bukanlah ide yang bagus. Karena saat mobil mereka memasuki perkarangan restaurant sudah di penuhi oleh mobil yang berjejer, yang mengartikan bahwa di dalam restaurant itu juga penuh.
“Tenang aja, yang punya restaurant ini aku sama anak-anak. Restonya udah di desain punya ruangan khusus.Jadi kami bisa bebas tanpa harus takut ketahuan. Yuk turun.”
Marcel memakirkan mobilnya di belakang gedung bersama kendaraan para karyawannya juga tempat parkir ini dijaga oleh seorang satpam. Sehingga tidak semua orang bisa masuk ke area belakang restaurant. Kedua langsung masuk kedalam restaurant melalui pintu khusus karyawan. Aileen terus mengikuti Langkah marcel, hingga keduanya sampai di suatu ruangan yang memiliki kaca besar-besar yang menampilkan pemandangan hamparan Sungai Han yang indah.
Aileen sempat takjub beberapa saat, menamati perpaduan indahnya interior bernuansa klasik dengan sentuhan modern. Disini selain ada meja makan yang berada dekat dengan jendela, juga ada sofa beserta tv led berukuran 24 inch dengan playstation yang tersambung. Benar-benar ruangan yang cocok yang digunakan untuk bersantai. Hingga ia tersadar saat tangan Marcel dengan lembut meraih tangannya menuntun untuk duduk di meja makan itu.
“Pemandangannya cantik ya Cel.” Saat ini keduanya sudah duduk berhadap-hadapan, tak lupa tadi dengan gentle Marcel menarik kursi untuk Aileen dan mempersilahkannya duduk sebelum mendudukkan diri. Mereka kembali tenggelam dalam perbincangan ringan, hingga tiba-tiba seorang pegawai—dengan tag bertuliskan manajer masuk menginterupsi keduanya. Ada berbagai menu seafood yang ditawarkan di buku menu itu, Aileen hanya memesan haemul pajeon, spicy seafood japchae dan grilled galbi dengan jus jeruk. Ia memesan sedikit banyak karena mendengar Marcel yang hanya memesan minum.
Saat pesanan mereka sudah berada di atas meja makan, Aileen langsung menggeser piring makanan ke hadapan Marcel dan mengangsurkan sendok kepada Marcel.
Tapi marcel hanya diam seperti patung dan hanya menatap Aileen bingung. Greget karena Marcel yang tidak segera mengambil sendok yang ia berikan, Aileen langsung mengambil sendok itu dan memaksa Marcel untuk memegangnya.
“Nggak ada cerita cuma aku yang makan. Kamu juga harus ikut makan Cel. Nggak ada penolakan ya, kalo nolak aku suap kamu secara paksa.” Marcel ingin menolak, tapi saat baru saja bibirnya akan terbuka Aileen langsung mengatakan kalimat itu dengan nada yang menyiratkan ia tidak ingin dibantah—Marcel langsung mengatupkan mulutnya kembali, dan ikut memakan penasanan Aileen.
Aileen tertawa keras dalam hati saat melihat ekspresi Marcel yang kicep tidak berani membantah, benar-benar terlihat seperti seorang anak yang takut dimarahi oleh sang Bunda. Kemudian hatinya perlahan menghangat, bisa melihat Marcel yang saat ini ada di hadapannya dan bisa menghabiskan waktu bersama dengan santai di sebuah restaurant yang berada di pinggir Sungai Han benar-benar perpaduan yang tak ada dibayangannya. Indah, sangat indah.