
Sidang Meja Persegi
Suasana hening dan mencekam menyergap ruang makan apartemen member Seven Dreamer saat ini. Mereka sudah duduk di masing-masing kursi meja makan yang tersedia dengan tersangka utama yang duduk di kursi paling ujung. Tak lupa kelimanya—kecuali Kenzie—memberikan tatapan maut, menuntut penjelasan kepada sang tersangka. Sementara yang ditatap hanya bisa memperlihatkan wajah memelas dengan perasaan was-was. Pasalnya, jika sudah dalam mode serius seperti ini, adik-adiknya benar-benar menyeramkan. Marcel sudah memasrahkan diri akan diadili seperti apa dia nanti.
“Ekhem-ekhem..., baiklah karena semua pihak yang berkepentingan telah hadir, maka sidang malam ini dapat dimulai. Kepada para penuntut dipersilahkan mengajukan pertanyaan kepada terdakwa,” ujar Hayza dengan tampang tengil sok serius. Setelahnya yang terjadi malah mereka saling lempar pandang dan lempar kode. Saling suruh-menyuruh untuk melemparkan pertanyaan terlebih dahulu. Apabila situasi tersebut diterjemahkan ke bahasa lisan, percakapannya akan seperti ini. ‘Heh! Lo dulu sana yang tanya, kan lo yang ngajak sidang.’ ‘Nggak mau! Lo dulu aja, kan lo yang punya bukti tweetnya.’ ‘Nath, lo dulu Nath.’ ‘Ogah.’
“Jadi, berdasarkan bukti yang kemarin malem Ilo kirim di grup…, lo udah punya cewek Bang?” Akhirnya setelah saling lempar kode tidak jelas, Reynard yang pertama kali menyuarakan pertanyaannya. “Udah berapa lama lo pacaran sama dia Bang? Kok gue nggak pernah tahu?” Pertanyaan kedua datang dari Nathan. “Terus itu emang sengaja mau lo post di twitter? Mau pamer biar kita semua tahu? Apa lo salah akun Bang?” Kemudian pertanyaan ketiga ditanyakan oleh sang pengirim bukti di grup mereka—siapa lagi kalau bukan Ilo.
Mendapat pertanyaan bertubi-tubi membuat kepala Marcel pusing tujuh keliling, ia bingung harus menjawab dan menjelaskan mulai dari mana. Sejak semalam Marcel merutuki dirinya sendiri, bisa-bisanya ia seceroboh seperti itu. Untung saja akun twitternya adalah akun pribadi, jadi yang tahu kalau ia mem–posting foto Aileen hanya para adiknya sehingga tidak menimbulkan kekacauan besar. Walaupun ia harus disidang oleh mereka berenam, tapi ini lebih baik. Karena nasi sudah menjadi bubur, maka satu-satunya cara Marcel bisa menyelamatkan diri adalah dengan bercerita sejujur-jujurnya. Oh, jangan pernah memiliki ide untuk berbohong di situasi seperti ini jika tidak ingin ditendang keluar dari apartement. Mereka tidak akan segan-segan menendang siapapun keluar dari apartemen—terbukti dengan Hayza yang pernah ditendang keluar.
“Okay-okay, gua jawab satu-satu pertanyaan kalian. So, the girl that I posted last night isn’t my girlfriend—yet? Maybe? Pokoknya begitu. Namanya Aileen, she is one of our fans. Gua ketemu dia waktu event fansign terakhir kali, and that was our first met, Karena emang di event fansign sebelum-sebelumnya gua nggak pernah ketemu dia. Jadi jelas kalo dia bukan cewek gua. Terus buat pertanyaan Ilo, iya, gua salah akun waktu mau post foto itu jadi gua nggak ada niatan buat pamer atau apalah itu.” Mendengar jawaban Marcel, sontak kelimanya menaikkan sebelah alis mereka, raut heran, curiga, dan bingung menghiasi masing-masing wajah kelimanya. Sementara Kenzi sedari tadi tidak ikut menimbrung. Mendengarkan, menikmati, dan menahan tawa adalah tugas yang sedang dia laksanakan dan sialnya tugas terakhir merupakan tugas terberat bagi Kenzie. Mati-matian Kenzie menahan tawa karena tidak ingin mengganggu jalannya persidangan, padahal wajah memelas Marcel saat ini sangat cocok untuk ditertawakan.
“Fans? Lah gimana cara lo bisa dapet fotonya?” “Lo stalk sosmednya Bang?” “Lo diem-diem nyuri fotonya ya bang?! Wah parah-parah, nggak habis thinking gua” “Astaga tuhannn. Kalian nanya satu-satu bisa nggak sihh?!” erang Marcel frustasi. Seketika semuanya mengunci mulut rapat-rapat.
“Haahhhh.... Intinya gua bisa kenalan sama dia gara-gara nemu akun twitternya. Terus gua dm-dm an, ngobrol biasa. Kalo kalian tanya, motivasi gua apa sampek berani dm-dm an sama dia? Gua juga nggak tau. Terus kalau kalian tanya lagi, gua ini lagi pdkt apa nggak? Terus gua mau jadiin dia pacar apa nggak? Jawabannya masih sama. Gua nggak tahu. Sampek sini udah jelas? Mau nanya apalagi?” Mendengar penjelasan singkat, padat, dan frustasi dari Marcel membuat keenamnya hanya mengangguk-angguk mengerti.
“Bagaimana para penyidik apakah ada yang ditanyakan lagi atau merasa sidang ini sudah cukup?” tanya Hayza yang langsung dijawab dengan gelengan serempak oleh mereka.
“Baiklah, karena dirasa permasalahan yang dibahas dalam sidang kali ini sudah mendapat kejelasan. Maka saya nyatakan sidang ini saya tutup.”
Duk duk duk
Setelah Hayza menutup sidang menegangkan itu dengan mengetukkan pantat gelas yang ada didepannya ke permukaan meja makan, Marcel langsung bangkit dari kursi panas yang dia duduki dan melesatkan daksanya menuju tempat ternyaman baginya—kamarnya—dan mengunci pintu dari dalam. Hal itu sebagai bentuk antisipasi agar tidak ada yang memasuki kamarnya dan tiba-tiba melakukan interograsi kedua. Ia sandarkan punggungnya ke pintu sembari memijat pelan pelipisnya yang cenat-cenut bukan main. Kemudian ia langkahkan tungkainya menuju ranjang untuk merebahkan diri. Marcel buka ponselnya berniat menghubungi Aileen. Yah mungkin mengobrol dengan Aileen bisa sedikit meredakan rasa pening dikepalanya