Ting tong
Bunyi dari bel apartemen yang ditekan seseorang dari luar membuat Aileen bergegas melangkahkan kaki menuju ke ruang depan—membukakan pintu untuk sang tamu.
Saat pintu itu terbuka, pemandangan yang Aileen lihat adalah perawakan seorang laki-laki yang berpakaian serba hitam. Segera Aileen Tarik tangan laki-laki itu untuk masuk kedalam apartemennya.
“Kenapa nggak langsung masuk aja? Kan tadi di chat udah aku kasih tahu password pintunya,” ucap aileen sedikit mengomel.
Saat ini Aileen dan laki-laki itu duduk berhadapan-hadapan di sofa ruang tamu apartement milik Aileen. Benar, laki-laki yang saat ini sedang ada di hadapan Aileen adalah Marcel, ia benar-benar menepati perkataannya yang akan datang ke apartemen Aileen untuk mengambil cookies yang Aileen siapkan setelah ia selesai dengan jadwal kerjanya.
“Nggak enak Ai aku nerobos masuk malem-malem gini. Iya kalau waktu aku masuk kamu langung ngenalin kalau itu aku? Kalau nggak? Yang ada nanti malah bikin kamu jantungan lihat cowok pakek baju item-item kayak maling begini masuk apart kamu tiba-tiba,” jawab Marcel dengan sedikit bercanda. Situasi dan kondisi sekarang memang bisa menyebabkan Marcel di salah anggap sebagai 'maling' karena cara berpakaiannya yang mencurigakan, apalagi saat ini ia menemui Aileen di waktu hampir menuju tengah malam. Jika ditanya apakah Marcel merasa lelah saat ini karena harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk datang menemui Aileen dan disaat ia baru saja pulang bekerja? Jawabannya adalah iya. Dia tidak akan berbohong jika ia merasa lelah, tapi perlahan rasa lelah itu perlahan terangkat saat ia bisa melihat Aileen ada di hadapannya dengan mata kepalanya sendiri. Ya walaupun saat ia datang tadi harus terkena sedikit semprotan dari Aileen, tapi tidak masalah, gadis itu terlihat lucu ketika mengomel seperti itu.
“Ya kan maksud aku tuh—” Sesungguhnya Aileen tidak ada intensi mengomeli Marcel saat laki-laki itu baru saja mendaratkan pantatnya di sofa ruang tamu miliknya. Tapi karena Marcel yang tidak mau mengikuti intruksinya, jadilah mode mengomelnya yang seperti ibu-ibu menyala tanpa rencana.
Maksud Aileen memberitahukan kode sandi pintu apartemennya dan menyuruh Marcel langsung masuk adalah agar Marcel tidak perlu menunggu dirinya membukakan pintu. Bisa sajakan waktu Marcel datang dirinya sedang berada di ruangan yang menyebabkan ia tidak mendengar suara bel pintu? Selain itu juga untuk meminimalisir penghuni lain mengenali bahwa laki-laki yang berdiri di depan pintu apartemennya adalah seorang idol bernama Henry Marcel. Kendati niatnya meminimalisir sudah terbantu dengan pakaian penyamaran Marcel dan kondisi gedung apartemennya yang sepi karena sekarang waktu menunjukkan pukul sebelas malam, tapi tidak salah kan jika dirinya tetap antisipasi seperti itu?
“Udah ya, case closed. Masak kamu mau marah-marah ketemu aku? Nggak kangen? Aku kangen loh.” Sepenggal kalimat yang diucapkan Marcel menghentikan omelan Aileen yang belum selesai ia utarakan. Kala mulutnya mengatup, visinya baru bisa menamati guratan-guratan lelah yang terpatri di wajah sang adam. Ah Aileen merasa bodoh karena menyambut Marcel dengan omelan dan bukannya sambutan hangat, padahal laki-laki itu mau menahan rasa lelah hanya untuk datang kesini.
“Maaf, nggak maksud marah-marah. Kamu udah makan belom? Aku barusan banget angetin masakanku. Makan ya? Aku ambilin.” Keduanya sama-sama beranjak dari sofa namun dengan tujuan berbeda. Sang gadis menuju ke dapur untuk menyiapkan makanan sementara sang pria menuju ke meja makan dan menanti sang gadis disana.
“Kamu belum makan Ai?” tanya Marcel saat dirinya melihat Aileen mengambilkan makanan untuk porsi dua orang.
“Belum hehe, nungguin kamu,” jawab Aileen dengan senyum pepsodent.
“Kenapa? Kan bisa makan daritadi, nggak perlu nungguin aku.”
“Pengen aja, lebih enak makan berdua sama kamu daripada sendiri.”
“Kamu ini ya, nanti kalau sak—”
“Udah ya, case closed. Masak kamu makan bareng aku mau marah-marah terus? Ini aku yang masak loh.” Kalimat Marcel yang Aileen tiru membuat Aileen memenangkan sesi perdebatan dengan Marcel. Ia mengatkan kalimat itu dengan nada dibuat semirip Marcel dan wajah mengejek diakhir kalimat. Disisi lain Marcel hanya menggeleng-gelengkan kepala dan mengalah—tidak ingin memperpanjang.
Hening kemudian, hanya suara sendok yang beradu dengan piring yang mengisi ruang diantara keduanya. Tak membutuhkan waktu lama untuk Aileen dan Marcel menghabiskan semua hidangan yang ada di meja makan.
“Eumm enak Ai… kayaknya aku kalo makan masakan kamu bisa habis banyak deh. Terus tau-tau timbanganku naik banyak,” puji Marcel. Piringnya pun tak menyisakan apapun. Walaupun bukan menu mewah yang Aileen sediakan, tapi usaha dan skill memasak perempuan itu harus di acungi jempol.
“Hehehe syukur deh, aku sempat takut tadi kalau ada yang miss atau yang nggak kamu suka.” Setelah mengatakan itu, Aileen ijin ke Marcel untuk pergi ke dapur dan membersihkan semua peralatan makan yang keduanya barusan pakai. bawa bawa Kembali ke dapur
Setelah menyelesaikan semua cucian piringnya, Aileen berniat untuk kembali menghampiri Marcel. Namun saat membalikkan badannya, ia berjingkat kaget mengetahui Marcel berdiri menjulang di belakangnya tanpa mengeluarkan suara. “Ini Marcel ngapain disiniii??!! Mau ngapain?!” Batinnya berteriak panik.
Perlahan Marcel kikis jarak antara dirinya dengan Aileen hingga menipis. Tangan kanannya ia angkat dan ia tangkupkan di pipi kiri Aileen sambil mengelus pipi sang hawa dengan lembut. Netranya ia arahkan menghujam tepat di kedua netra Aileen.
“Kamu tadi nangis ya Ai? Aku sempat lihat tweet nya Freya. Kebetulan lewat timeline aku. Kamu nangis gara-gara aku ya?”
“E-eh?” Aileen gelagapan, dirinya tak tahu harus menjawab apa.
“Aku bikin kamu sakit hati ya?” kini kedua telapak tangan Marcel sudah menangkup kedua pipi Aileen. Raut wajahnya yang tadi menampilkan lengkung keatas sekarang mulai terlihat memuram.
“Nggak kok, cuma… aku ngerasa bersyukur aja sama kamu. Sama semua perhatian yang kamu kasih, kalimat-kalimat yang ngingetin aku buat jangan overthinking dan bilang kalau aku cantik mau gimanapun keadaannya. I feel overwhelmed because of that, makanya aku nangis. Mungkin ini kedengeran lebay dan alay... tapi makasih ya kamu udah hadir di kehidupan aku.” Niat Aileen untuk hanya menangis dua kali di hari ini ternyata dikhianati oleh dirinya sendiri. Dirinya tak kuasa menahan tangis saat mengatakan kalimat itu. Sehingga berjatuhanlah bulir-bulir bening dari kedua bola matanya. Mungkin orang lain akan menganggap kalau aileen terlalu lebay menangis karena hal-hal sederhana yang marcel lakukan. Tapi ia tidak peduli, apa yang ia rasakan saat ini adalah perasaan tulus tanpa di buat-buat.
Marcel lepas kedua telapak tangannya dari pipi aileen, kemudian ia hela tubuh mungil dan rapuh milik sang gadis kedalam rengkuhannya. Kedua tangan Aileen yang semula menggantung di samping tubuhnya perlahan terangkat dan membalas pelukan Marcel. Melalui pelukan itu hati keduanya dipenuhi perasaan hangat dan utuh, seolah-seolah pelukan itu memberitahukan bahwa disitulah tempat ternyaman untuk keduanya pulang.