
It's Not That Special
Hujan mengguyur langit kota Seoul sore hari ini, lumayan deras sehingga orang-orang lebih memilih untuk berdiam diri dan menikmati hujan dari dalam rumah saja. Begitu juga Aileen, ia sekarang sedang berada di apartemennya yang nyaman sembari menelpon bunda. Iya, Aileen beserta Freya sudah tinggal di Korea dan sudah mulai menjalani kegiatan perkuliahannya disini. Sampai saat ini semua masih berjalan dengan menyenangkan, ia mendapatkan banyak teman di kampusnya, ia bisa mencicipi berbagai makanan khas Korea bersama Freya, melakukan kegiatan piknik ala-ala dengan Freya di taman Sungai Han-sejauh ini Sungai Han adalah tempat favoritnya-dan lain sebagainya. Ditengah-tengah asyik mengobrol dengan Bunda, tiba-tiba seseorang mendobrak masuk ke apartemennya.
BRAK
“Aiiiiiiii Seven Dreamer udah release album repack ayooo beliiiiiii.”
Itu adalah suara dari pintu yang terbanting dengan keras, pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah 'Tuyul kesayangannya', panggilan khusus untuk Freya kalau dia sedang bertingkah seperti ini, yang heboh sendiri mengenai album repack Seven Dreamer yang baru saja dirilis. Sementara Aileen yang duduk di sofa kaget bukan main—walaupun seharusnya dia sudah terbiasa, tapi tetap saja kaget—jantungnya hampir jatuh ke perut akibat ulah Freya, ponselnya juga sempat melayang ke udara dan jatuh entah kemana. Ingin rasanya ia omeli Freya karena tingkahnya itu, namun karena itu Freya maka Aileen ampuni.
“Frey itu lama-lama pintu apart gua rusak yaampunnnn, nanti kalau apart gua nggak punya pintu gimana?!”
“ Ya gampang, kalau pintu apart lo rusak tinggal pindah aja bareng gua. Susah amat.” Cuek dan enteng sekali bukan jawabannya? Itulah Freya, omong-omong mereka berdua memang tidak tinggal bersama dengan alasan Aileen ingin mendapat ketenangan hidup dan agar apartemennya tidak cepat rusak—karena tingkah laku Freya yang grasak-grusuk—padahal, Freya sudah memohon-mohon hingga berguling-guling dilantai sampai-sampai Bunda ikut membujuk. Tapi sekali Aileen bilang ‘tidak’ ya tetap ‘tidak’, dan berakhir mereka tinggal di lantai yang berbeda.
“Halo dek, itu siapa yang nerobos masuk dek? halo? halo?” Mendengar dobrakan keras tentu saja Bunda khawatir bukan main, takut-takut jika yang mendobrak masuk ke apartemen Aileen adalah orang asing yang berniat jahat pada putri semata wayangnya. Karena suara bunda yang terdengar begitu khawatir Aileen langsung memusatkan atensinya untuk mencari benda pipih itu-yang ternyata jatuh kebawah kolong sofa.“Halo Bun, maaf tadi hp nya jatuh ke kolong. Yang dobrak masuk si Freya kok Bun bukan orang asing jangan khawatir ya.”
“Eh lin, itu yang telpon Mami?” Mendengar Aileen menyebut kata ‘bunda’ spontan Freya lemparkan pertanyaan, meminta konfirmasi apakah benar yang sedang melakukan panggilan adalah Mami cantiknya atau bukan.
“Iya, gua telponan sama bunda, kenapa?” Tanpa tedeng aling-aling Freya langsung menyambar handphone Aileen dan menyerobot ingin mengobrol dengan Bunda, sementara sang empunya hanya bisa menghela nafas dan memanjangkan sabar. Memahami bahwa manusia yang bertingkah laku seperti Freya ini langka dan tidak ada 'copy' annya.
“Halo Mamiiiii, Mami gimana disana? kangen Freya nggak mi? Freya kangen loh sama Mami sama masakannya Mami.” Cerah, wajah Freya saat ini begitu cerah ketika mengobrol dengan Bunda, hingga ia tidak memedulikan eksistensi Aileen yang berada disampingnya. Aileen sendiri hanya diam mendengarkan sembari menyunggingkan senyum melihat interaksi keduanya dan bersyukur Freya hadir dikehidupannya dan bunda yang sepi, sehingga ia tidak merasa sendiri terlebih Bunda. Maka ia biarkan Freya mengobrol dengan Bunda sampai puas, mungkin dengan mendengar ocehan Freya Bunda bisa terhibur, yang terpenting ia sudah mendengar suara Bunda walau sebentar.
“Okedeh Mami, nanti Freya sampein ke Aileen kalo perlu nanti Freya omelin anaknya. Freya tutup ya telponnya? Dadah Mamiii, Lopyuuuu.”
Tut
Sambungan telpon itu terputus, menandakan terputus jugalah komunikasi antar keduanya. Maka Aileen pusatkan atensinya kepada Freya, penasaran dengan apa yang disampaikan oleh Bunda. “Tadi Bunda bilang apa Frey, kok nyangkut ke gua juga?”
“Bunda lo curhat anak kesayangannya kok nggak pernah mau nelpon Bundanya, Cuma nge-imess doang. Bunda lo mau nelpon duluan juga nggak berani takut kalo ternyata pas mau telpon, lo nya lagi nggak bisa diganggu. Telpon sering-sering Aii, nggak kasian apa lo sama Bunda? Udah tinggal sendirian, kesepian pula.”
“Iyaa-iyaa, besok-besok gua telpon tiap hari. By the way, lo dobrak masuk kesini mau bahas apa?”
“Oh iya sampek lupa, ihhhh ayooo beli album Repack nya Seven Dreamerrrrr. Sekalian daftar buat fansign mumpung udah disini jadi bisa fansign offlineeee. Pengen ketemu langsung.” Sudah aileen duga pasti ada kaitannya dengan album Seven Dreamer yang baru saja dirilis hingga Freya bisa sebegitu hebohnya. “Emang lo udah tau mau beli dimana?”
“Udahhh, gua tadi udah searching beberapa toko plus alamat dan cara nyampe kesana. Besok beli yaaa please please pleaseeeeeeee.” Aileen hanya bisa memutar bola matanya mendengar rengekan Freya disertai jurus puppy eyes andalannya, jika sudah begini Aileen mana bisa menolak? Karena kalau tidak diiyakan nanti akan terjadi drama tangis-menangis. “iya-iya besok beli. Udah ah nggak usah sok imut begitu, mual gue liat muka lo.” Beruntung besok weekend, sehingga keduanya bisa berpergian seharian untuk memenuhi keinginan Freya. “yessss sip mantap deh.”
“Udah? lo kesini cuma mau bahas itu doang? Kalau iya ayo beli makan, gua udah keroncongan nih.”
“Belum, ada satu hal lagi yang mau gua tanya in ke lo, jawab jujur kalau sampek bohong gua beneran marah.” Tiba-tiba ekspresi dan bahasa tubuh freya berubah 180°, tentu Aileen langsung merasa ada yang tidak beres disini tapi ia terlalu bingung dengan maksud perkataan Freya. Ia merasa ia tidak melakukan kesalahan apapun, lalu kenapa Freya mengatakan hal seperti itu?
“Kenapa sih, jangan bikin gua dag dig dug deh Frey.”
“Gua mau minta pendapat dan lo harus kasih pendapat lo sejujur-jujurnya kalo lo ada di posisi gua lo mau gimana.”
“Oke iya, udah cepetan ah jangan bikin gua parno sendiri.”
“Jadi gua punya sahabat dari kecil, lengket banget kemana-mana selalu berdua sampek akhirnya kita ke Korea bareng. Tapi akhir-akhir ini gua liat sahabat gua itu kayaknya lagi deket sama orang deh, dia sering bales-bales an tweet di twitter. Gua nggak tau sih itu siapa, soalnya yang dibales akun gembokan jadi gua nggak bisa liat akunnya. Tapi yang bikin gua greget, sahabat gua itu diem-diem aja nggak ada cerita gitu ke gua dia lagi deket sama siapa. Padahal gua nungguin anaknya cerita sendiri, tapi kayaknya emang sahabat gua itu nggak peka banget deh Lin. Lo kalau jadi gua, lo mau gimana?” Pertanyaan panjang dari Freya dengan wajah datarnya mengejutkan Aileen, jujur saja Aileen tidak mempersiapkan jawaban apapun atas sindiran langsung yang dilontarkan Freya untuknya.
“Emmm… gua tanya langsung anaknya?” Ragu-ragu dan clueless harus menjawab apa, sehingga hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulut Aileen. Tangannya sudah menjadi sedingin es dan jantungnya berdetak berkali-kali lebih cepat.
“Oke kalau gitu, lo lagi deket sama siapa sih Lin? kenapa nggak cerita ke gua ? gua nungguin lo cerita tau, mulai dari awal gua liat lo bales-bales an tweet sampek sekarang, tapi lo nya tega banget nggak mau cerita ke gua. Sebel gua sama lo.” Baiklah, kalau sudah begini maka tidak ada jalan lain selain Aileen ceritakan semuanya, dia berani bersumpah dia tidak bermaksud untuk menyimpan hal ini dari Freya; Aileen belum cerita karena menurut Aileen itu hal yang biasa, tidak ada spesialnya, jadi belum saatnya untuk diceritakan.
“Oke gua certain dari awal, tapi jangan lo potong. Dan lo komentarnya pas gue udah selesai aja. Diem dan dengerin baik-baik gua nggak mau ngulang dua kali.”
“Oke, sok atuh langsung dimulai.”
“Jadi yang akhir-akhir ini sering bales-balesan tweet sama gua itu akun pribadinya Marcel. Iya, Marcel seven dreamer-DIEM JANGAN DIPOTONG. Lo inget kan waktu gua fansign dan tweet gue di notice akun official ? Malemnya Marcel nge-dm gue pakek akun pribadinya, tapi gara-gara gue log-out jadi gue ngga tau. Karena nggak gua bales-bales akhirnya dia nge-imess gue Frey, mulai dari situ kita jadi sering bales-balesan tweet sama imess an. Tapi frekuensi kita chatan nggak sesering itu, nggak kayak orang pacaran yang tiap hari chatan. Paling dia nge chat kalo gua habis bikin tweet dan ya udah chat nya pun cuma sebentar dan dikit plus nggak kemana-mana. Jadi makanya gua nggak cerita ke lo karena ya udah cuma gitu doang.” Begitulah rangkuman cerita dari Aileen, memang benar adanya kalau Aileen dan Marcel berkomunikasi hanya untuk sekedar mengobrol biasa layaknya teman. Tidak ada pertanyaan-pertanyaan menjurus seperti orang yang sedang melakukan pdkt, jadi Aileen woles-woles saja.
“Bentar, gua beneran kaget ini, tapi kayaknya cerita lo tadi belum ke detailnya. Itu si Marcel dapet nomer lo darimana coba? kok bisa-bisanya dia dapet nomer lo?”
“Please lo jangan histeris terus jangan cerita kesiapa-siapa. Ini beneran hal sensitif.”
“Gua pukul lu lama-lama, sama sahabat sendiri nggak percaya banget. Cepetan ah ngomong.”
Maka Aileen ceritakan kejadian mengenai Marcel yang mencuri nomornya secara diam-diam dari data Fansign. Setelah membeberkan hal tersebut, ia terheran-heran melihat Freya yang diam membeku dengan wajah syok; apa ada yang salah dari caranya bercerita? atau bagian mana yang salah hingga sahabatnya itu terdiam seperti itu? Disisi lain Freya sendiri benar-benar tidak menduga, mengetahui seorang Marcel bisa nekat mencuri nomor pribadi sahabatnya.
Isi kepala Freya saat ini dipernuhi berbagai pertanyaan. Pertanyaan yang pertama apakah marcel tidak diperbolehkan oleh para staff untuk meminta nomor Aileen hingga menyebabkan Marcel melakukan hal itu? Lalu apakah motif Marcel menghubungi Aileen hanya untuk sekedar berkomunikasi sebagai teman? Kemudian, kalau memang bukan sebagai teman apakah sahabatnya ini sadar kalau tujuan Marcel menguhubunginya bukan hanya sekedar untuk menjadi teman? Memikirkannya saja membuat kepala Freya cenat-cenut bukan main.
Tapi untuk pertanyaan nomor 2 dan nomor 3 Freya yakin jawabannya adalah TIDAK. Marcel menghubungi Aileen TIDAK hanya sekedar untuk menjadi TEMAN dan sahabatnya ini TIDAK menyadari maksud dan tujuan Marcel.
“Lin kalau gua pikir-pikir nih ya, kayaknya Marcel nggak sekedar iseng deh ngechat lo plus juga nggak sekedar pengen jadi temen. Lo inget kan pas fansign dia bilang ke lo langsung kalo dia pengen sering-sering ketemu lo? Terus habis itu dia sampek nekat nyuri nomor lo biar bisa komunikasi sama lo. Gua rasa dari runtutan kejadian yang seperti itu kayaknya dia punya interest ke lo, atau mungkin dia emang love at the first sight sama lo?”
Mendengar penuturan Freya ada secuil bagian dari otak Aileen yang mengatakan 'ya mungkin bisa jadi seperti itu', tapi disisi lain sebagian besar otaknya mengatakan hal yang sebaliknya. 'Ah tidak mungkin, Henry Marcel yang seorang bintang besar yang dielu-elukan dan diidam-idamkan oleh beribu-ribu orang memiliki ‘interest’ kepadanya yang hanya seorang… Aileen? Iya, seorang Valeri Aileen yang biasa saja dan hanya memiliki dunianya yang kecil'. Pernyataan kedua yang dibuat oleh otaknya itu menurut Aileen lebih logis dan terasa lebih pas dengan kenyataan, memangnya siapa dia? Kasta dimana Aileen berada dan kasta dimana Marcel berada sangat berbeda jauh, jadi Aileen sangat amat sadar dengan posisinya disini. ‘Jangan mimpi dan halu terlalu tinggi, ingat posisimu yang hanya sebagai fans biasa, Aileen’ Kalimat itu sudah menancap di kepalanya sejak awal.
“Nggak ah Frey, gua yakin deh Marcel nge-imess gua kemarin emang karena dia butuh teman ngobrol aja atau mungkin nanti bisa aja dia ngehubungin gua buat tanya pendapat mengenai cewek? Lagipula gua sadar posisi frey, kita ini cuma fans yang peran utamanya cuma buat ngedukung mereka dan nggak lebih.” Hahhh, Freya hanya menghela nafas, paham dengan jalan berpikir Aileen yang mencoba untuk sadar posisi, tapi dia juga begitu yakin dengan opininya mengenai Marcel yang kelihatannya ingin menjadi lebih dari sekedar teman dengan sahabatnya itu.
Jika opini Freya memang benar-benar sebuah fakta, maka menyadarkan Aileen untuk tidak denial adalah suatu pekerjaan yang sulit dan akan membutuhkan waktu yang lama—karena tingkat keras kepalanya seorang Aileen melebihi kerasnya batu—jadi daripada Freya berdebat dengan Aileen sekarang, ia lebih memilih mengalah dan melihat situasi dan kondisi kedepannya apakah opininya akan benar-benar terjadi atau hanya akan tetap menjadi sekedar opini.
“Ya udah kalau begitu, awas lu kalau besok-besok nggak mau cerita sampek harus gua todong kayak begini. Gua gibeng beneran.”
“Iyaaa gua bakal update terus ke lo kalau emang ada yang harus di update. Selain itu, lo pantau aja bales-balesan gue di twitter, kalau perlu akun gue lo bawa aja sekalian.” Daripada ribet kedepannya, jika Freya benar-benar meminta akun twitternya maka dengan ikhlas akan Aileen berikan, toh twitter nya juga bersih tidak ada hal-hal yang mencurigakan di sana dan Freya sudah mengenalnya luar dalam.
“Oke gua tagih nanti, kalau gitu ayo makan, tapi lo yang harus traktir. Salah sendiri main petak umpet sama gua, itung-itung permohonan maaf.”
“Cih, bilang aja lo lagi miskin makanya minta ditraktir.”
Akhirnya Aileen dapat bernafas lega, lega karena Freya tidak membombardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang dapat membuat Aileen pusing tujuh keliling juga lega karena Freya tidak mengajaknya berdebat. Jika seperti ini berarti apa yang ada di otak Aileen benar adanya, kan?
but who knows? we don't know how the universe works, do we?