Royals Melody

Nggak Salah Dengar, kan?

Nggak Salah Dengar, kan?

“Halo? Marcel? Kok diem aja?” Setelah 5 detik dipenuhi kesunyian, suara lembut Aileen terdengar memenuhi rungu Marcel. Memang mereka tadi sempat saling diam akibat tidak tahu harus membuka ruang obrolan darimana, hingga Aileen yang berinisiatif untuk memecah keheningan yang terjadi.

“Maaf Ai, habisnya bingung mau ngomong apa hehehe.” “Katanya tadi pengen telpon? Pengen ngobrol? Hayuk ngobrol kalau gitu... Eh Marcel udah di rumah emangnya?” “Udah, ini lagi nyantai di balkon sekalian cari angin. Aileen lagi ngapain? Nggak lagi nugas kah?” Untungnya jadwal Marcel hari ini selesai tidak terlalu larut, sehingga keinginanya mengobrol dengan Aileen melalui sambungan telepon di balkon apartemen sembari ditemani segelas teh chamomile hangat bisa terlaksana.

“Nggak, udah selesai kok. Ngapain malem-malem diluar? Angin malem tu nggak baik buat badan, nanti sakit loh Cel.” “Iyaa habis ini masuk ke kamar, jangan khawatir... Oh iya Ai kamu tadi waktu di fansign kenapa ngelamun kayak gitu? Ada masalah yang ganggu kamu?” Rasa penasaran yang Marcel simpan sedari tadi akhirnya tersuarakan, tapi lagi-lagi keheningan yang kembali mengisi. Marcel setia diam, tak ingin memburu-buru Aileen untuk menjawab, mungkin Aileen sedang berpikir haruskah ia bercerita kepadanya atau tidak—pikir Marcel. Seraya menunggu, Marcel teguk teh chamomile favoritnya dan tiba-tiba saja pikiran randomnya menemukan persamaan yang ada antara Aileen dan teh chamomile. Selain memiliki persamaan sebagai favorit Marcel, keduanya juga memiliki rasa yang sama—menenangkan, manis, dan hangat—bedanya teh chamomile merajai indra pengecapnya, sementara Aileen merajai kepala dan ruang di hatinya. Jiakh gombal.

Di tengah-tengah kegiatannya menikmati teh, Aileen memberikan jawaban diluar ekspektasi Marcel. “Hehe, tadi cuma lagi namatin Marcel aja, kamu ganteng banget soalnya.”

Uhuk! Uhuk! Uhuk!

Terkejut mendengar jawaban Ailen refleks Marcel terbatuk-batuk karena tersedak, bagaimana bisa Aileen melontarkan jawaban seperti itu dengan santainya? Telinga Marcel tidak salah dengar kan?

“Ehhh kamu kenapa Cel batuk-batuk kayak gitu? Flu?” Diseberang sana Aileen khawatir mendengar suara batuk Marcel yang mengerikan, padahal seingatnya sewaktu mereka bertemu tadi Marcel kelihatan sehat dan segar bugar.

“You what?!” Tanpa sadar suara Marcel meninggi dengan ekspresi terkejut tanpa dibuat-buat, masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar. “Apa cel?”
“What did you just said?!” “Emm, tadi aku tanya kamu kenapa batuk-batuk gitu? Flu?” “Nooooooo, the one before that. What do you mean by saying that?!” 'Ini dia kenapa tiba-tiba jadi lemot begini?! Dia ini emang nggak ngerti maksud gue apa kelewat polos sih?!' begitulah jeritan hati kecil Marcel yang gregetan dengan Aileen karena mendadak menjadi selambat siput menangkap maksud Marcel.

“Oooo yang ituuu… Tadi aku cuma namatin kamu, kamu ganteng banget soalnya. Kenapa? Ada yang salah ya aku bilang gitu?” Baiklah, berarti telinga Marcel memang tidak salah mendengar, dari sini Marcel tandai sifat unik Aileen yang menjadi pemalu ketika bertemu langsung tapi akan menjadi blak-blak an dan kelewat polos saat tidak bertemu langsung. Sungguh unik gadisnya ini... Eh? Gadisnya? Ah entahlah, tidak ingin memusingkan hal yang tidak penting Marcel memilih untuk kembali fokus kepada tujuannya menelpon Aileen. Ada hal yang lebih penting yang harus ia sampaikan sekarang.

“Nggak, nggak ada yang salah. By the way Ai, kamu weekend ini sibuk nggak?” “Paling Cuma jalan-jalan sama Freya atau kalau mager mungkin cuma di Apartemen aja. Kenapa Marcel?” “Kebetulan weekend ini aku sama anak-anak mau staycation di villa yang ada di Gapyeong, kami mau ngajak kamu sama Freya ikut. Kamu mau kan Ai?” Setelah tadi Marcel yang meragukan kemampuan pendengarannya, kini Aileen juga ikut melakukan hal yang sama. Ada banyak pertanyaan yang terlintas di kepala saat Aileen mendengar pertanyaan itu, mereka bertujuh mau mengajak Aileen dan Freya yang notabene fans sekaligus orang asing untuk ikut liburan? Yang benar saja?! Aileen benar-benar tidak habis pikir saat ini.

“Ini beneran? Jangan-jangan ini prank? Kamu jangan bercanda deh” “Serius, ini 100 persen beneran, bahkan Vier yang nyaranin buat ngajak kalian berdua ikutan. Katanya bakalan enak dan lebih seru kalau ngajak kalian, Vier dari tadi udah ribut sendiri ngerayu kami ber enam buat ngajak kalian liburan. Jadi ikut ya Ai? Please?”

Marcel Suka

Marcel Suka

Antrian panjang mengular memenuhi aula tempat diadakannya acara fansign album Seven Dreamer. Ada ratusan manusia yang sekarang sedang berdiri menunggu giliran agar bisa bertatap muka secara langsung dengan idola mereka, dan Aileen salah satu diantaranya. Aileen kesini tidak sendiri, ia bersama Freya yang saat ini sedang sibuk bercermin memastikan apakah penampilannya sudah sempurna atau belum. Kata Freya, ia harus tampil all out. Pun hari ini ia berperilaku sangat anggun nan lemah lembut, kontras dengan sikap Freya yang biasanya. “Cih jaga image banget dia” batin Aileen.

Kalau itu Freya, lalu bagaimana dengan Aileen sendiri? Jujur tak terlintas sedikitpun dikepalanya apa yang harus ia pakai, melihat gaun musim panas yang tergantung di lemari adalah pilihan terbaik menurut Aileen untuk menemui Marcel sore ini. Sorai perasaan gugup memenuhi seisi pikiran Aileen, gugup karena akhirnya bisa bertemu dengan Marcel secara langsung serta gugup memikirkan bagaimana impresi member Seven Dreamer ketika bertemu dengannya. Padahal, tadi waktu ia masih bertukar pesan dengan Marcel dirinya tidak segugup ini.

Semakin lama antrian di depannya semakin habis dan semakin terpangkas pula jarak antara Aileen berdiri dengan meja tempat para member berada. Sebenarnya sedari tadi Aileen menyadari kalau Marcel sempat beberapa kali mencuri pandang kepadanya, tapi tak ia pedulikan. Ia lebih memilih untuk menaruh perhatian kepada enam member lainnya sembari memikirkan kalimat apa yang harus ia sampaikan saat bertemu sapa nanti. Hingga tanpa disadari raga Aileen sudah berdiri tepat di depan Marcel yang memancarkan tatapan berbinar melihat kehadiran Aileen disini.

“Hai, long time no see Aileen.” Marcel yang lebih dahulu membuka percakapan, seraya mengangsurkan kuasanya untuk meraih album yang dibawa Aileen. Netra Marcel menangkap ada kegugupan yang sedang disembunyikan perempuan itu, melihatnya Marcel hanya bisa tertawa lirih, merasa gemas.

“Hai, yeah it's been awhile.”

“Akhirnya bisa ketemu di sini, ketemu langsung pula. Aileen gugup ya? Jangan gugup, santai aja sama Marcel. Ini bukan pertama kalinya Aileen ketemu Marcel kan?” Aileen hanya diam memandangi Marcel yang sibuk menorehkan entah apapun itu di albumnya sambil bercerita banyak hal—yang mana tak Aileen dengarkan. Diam-diam Aileen amati anak adam di depannya ini, mulai dari rambutnya yang baru di potong dengan gaya undercut, garis wajahnya yang tegas, iris kecoklatan yang selalu memberikan tatapan hangat, dan bibir yang sampai saat ini masih menampilkan senyum indah untuk dunia. “Tampan, sangat tampan.”

“Nih udah Marcel kasih kalimat khusus di album Aileen, habis ini Aileen bisa—Aileen? Kamu ngelamun? Haloo?” Marcel melambaikan tangannya di depan wajah Aileen yang diam tak berkedip. Pantas saja perempuan di depannya ini tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak tadi padahal Marcel sudah berbicara panjang lebar. Memangnya apa yang sedang Aileen pikirkan? Marcel ingin tahu, tapi simpan saja pertanyaan itu untuk nanti.

“Ahh iya maaf Marcel, tadi Marcel mau bilang apa?” Suara Marcel membuat Aileen kembali tersadar—Aileen merasa sepertinya tadi ia sempat terkena sihir entah darimana.

“Bukan hal yang penting kok, cuma mau bilang kalau Marcel senang bisa ketemu Aileen. But are you really okay?” Marcel mencoba memastikan, walaupun ia sudah tahu jawaban yang akan keluar dari bibir manis itu pasti frasa 'baik-baik saja'.

“I'm fine... i'm fine..., eh ini albumnya udah ya? Makasih Marcel, it's nice to see you. Semoga ketemu lagi, byeeee.” Setelah melontarkan kalimat itu buru-buru Aileen langkahkan kakinya untuk bergeser menemui member Seven Dreamer lainnya, sedikit malu karena tertangkap basah melamun menamati Marcel. Sebelum benar-benar berhadapan langsung dengan enam adik-adik Marcel, Aileen hembuskan nafasnya berusaha mengurangi rasa gugup dan khawatirnya. ‘here goes nothing.’


“Fyuhhh, akhirnya pantat gua ketemu kursi juga. Ternyata capek ya ikut fansign offline, bikin kaki pegel. Tapi enak sih bisa ngobrol langsung, lu sama mereka tadi ngobrol apa aja Lin?” Saat ini Aileen dan Freya sudah berpindah tempat ke salah satu café yang berada dekat dari venue acara fansign. Keduanya mampir untuk mendapatkan segelas matcha latte dan vanilla latte sembari mengistirahatkan kaki yang rasanya hampir lepas karena mengantri demi mendapatkan tanda tangan dari semua member.

“Ya biasa lah kayak umumnya Frey.” Kekhawatiran dan kegugupan Aileen mengenai reaksi keenam member Seven Dreamer ketika bertemu dirinya secara langsung benar-benar tidak terjadi. Kepalanya sempat memiliki asumsi bahwa para Member mempunyai impresi jelek kepadanya karena ia berani memulai sesuatu dengan Marcel. Nyatanya, ketika ia berhadapan langsung, mereka menyambut Aileen dengan baik. Terlebih Hayza, Nathan, dan Zavier yang menyapa dirinya seperti teman lama.

“Eh, tadi gua lihat lu sempat bengong ye pas ketemu Marcel? Nape lu? Mengagumi kalo Marcel ganteng?” “Emang Marcel ganteng kali Frey, btw lu tadi gimana ngobrol sama mereka? bahas apa aja?” Aileen alihkan topik pembicaraan dari hal yang menurutnya sedikit memalukan itu, untuk saat ini ia tidak ingin mengingatnya.

“Anjirr, lu tau? mereka tiap liat gua pasti langsung ngomong “temennya Aileen ya?” kecuali si Hayza, dia ngomong begini dong “gimana? seneng kan lo bisa ketemu gua?” terus, di album gua mereka pada nulis gua tau akun twiter lo, awas gua tandain lo kalo dilihat-lihat dari akun twitter lo, lo orangnya seru ya? mereka gitu pasti gara-gara liat tweet gue yang di qrt Marcel ya? Terus sekalian ngecek acc gue? Anjir malu gua.”

“Emangnya mereka nulis kayak begituan di album? gue kira cuma tanda tangan doang.”

“Lo belom liat punya lo? Liat gih Lin, nggak penasaran apa lo mereka nulis apa?” Maka setelahnya Aileen raih album miliknya yang berada di atas meja. Lembar demi lembar ia buka, belum menemukan apa yang Freya maksud. “Apa di halaman belakang sendiri ya?” pikirnya.

Benar saja, mereka menulis di halaman terakhir dan tulisan Marcel berada di bagian paling atas, ia baca baik-baik apa yang Marcel tuliskan dihalaman itu.

Blush

Terkejut setelah membaca apa yang tertulis di halaman yang sedang ia buka, sontak Aileen metutup albumnya dan Aileen masukkan kedalam tas. Pipinya langsung memerah hingga ketelinga, respon alami atas apa yang barusan ia baca.

“Heh, lu kenapa Lin? mereka nulis apaan sampek bikin lo kayak kepiting rebus begini? Siniin album lo, gua mau baca.” “Nggak usah nggak usah nggak perluuu, yang ada nanti lo makin ngeledek guaaaa.”

Apa yang marcel tulis tidak panjang, hanya beberapa baris, tapi beberapa baris itu memberikan dampak yang tidak baik untuk Aileen.

Halo cantik, akhirnya bisa ketemu langsung ya. Walaupun tadi cuma sebentar, tapi Marcel udah ngerasa puas bisa lihat Aileen. By the way, cantiknya Marcel kelihatan makin cantik pakai dress itu. Marcel suka.

Siapapun tolong bantu Aileen mencari tempat yang cocok untuk bersembunyi sekarang.

Antrian Panjang mengular memenuhi ruangan tempat diadakannya acara fansign album Seven Dreamer. Ada ratusan manusia yang sekarang sedang berdiri menunggu giliran agar bisa bertatap muka secara langsung dengan idola mereka dan aileen salah satu diantaranya. Aileen kesini tidak sendiri, ia bersama Freya yang saat ini sedang sibuk bercermin memastikan apakah penampilannya sudah sempurna atau belum. Kata Freya, ia harus tampil all out pun hari ini ia berperilaku sangat anggun nan lemah lembut. Kontras dengan Freya yang biasanya, ‘cih jaga image banget dia’ batin Aileen.

Kalau itu Freya, lalu bagaimana dengan Aileen sendiri? Jujur tak terlintas sedikitpun dikepalanya mengenai apa yang harus ia pakai, jadi Aileen hanya mengambil acak gaun musim panas yang tergantung dilemari, ia gugup bukan main. Gugup karena akhirnya bisa bertemu dengan Marcel secara langsung, juga gugup mengenai bagaimana impresi member 7 dreamer ketika bertemu dengannya. Aileen alihkan atensinya lurus kedepan, di atas panggung itu ketujuh idola kaum milenial sedang sibuk menyapa dan mengobrol ringan sembari membubuhkan tanda tangan di album para fans.

Semakin lama antrian didepannya semakin habis dan semakin terpangkas pula jarak antara Aileen berdiri dengan meja tempat para member berada. Sebenarnya sedari tadi Aileen menyadari kalau Marcel sempat beberapa kali mencuri pandang kepadanya, tapi tak ia pedulikan. Ia lebih fokus menamati ke-6 member lainnya sembari memikirkan kalimat apa yang harus ia sampaikan kepada mereka saat berhadapan nanti. Hingga tanpa disadari raganya sudah berdiri tepat di depan Marcel yang menatapnya dengan tatapan berbinar melihat kehadiran Aileen disini.

“Hai, long time no see aileen” Marcel yang lebih dahulu membuka percakapan, seraya mengangsurkan tangannya untuk meraih album yang dibawa Aileen. “Hai, yeah it's been awhile” Netra Marcel masih bisa menangkap ada kegugupan , melihat hal itu marcel hanya bisa tertawa lirih, merasa gemas.

“Akhirnya bisa ketemu disini dan ketemu langsung, aileen gugup ya? Ngga perlu gugup santai aja sama marcel kan ini bukan pertama kalinya ketemu sama marcel.” Aileen hanya diam memandangi marcel yang sibuk berbicara dan membubuhkan entah apapun itu di albumnya, ia amati anak adam di depannya ini. Mulai dari rambutnya yang baru di potong dengan gaya undercut, garis wajahnya yang tegas, mata almondnya yang berbinar dipenuhi bintang, dan bibir yang sampai saat ini masih menampilkan senyum manis untuk dunia. ‘tampan, sangat tampan’ .

“Nih udah marcel kasih kalimat khusus di album aileen, habis ini aileen bisa—aileen? Kamu ngelamun? Haloo?” Marcel lambaikan tangannya didepan wajah aileen yang saat ini sedang diam melamun tak berkedip, pantas saja perempuan didepannya ini sedari tadi tidak mengeluarkan sepatah kata pun padahal marcel sudah berbicara panjang lebar. Memangnya apa yang sedang aileen pikirkan? Marcel ingin tahu, tapi simpan saja untuk nanti.

“ahh iya maaf marcel tadi marcel mau bilang apa?” suara marcel membuat aileen kembali tersadar dari lamunannya—Aileen merasa sepertinya tadi ia terkena sihir entah darimana.

“Ini albumnya aileen udah ada tanda khusus dari marcel ya, habis ini aileen bisa kenalan sama member 7 dreamer yang lain, ngga perlu gugup anggap aja mereka teman aileen sendiri. But are you really okay?” “im fine im fine, makasih marcel. byee semoga ketemu lagi” setelah melontarkan kalimat itu buru-buru aileen langkahkan kakinya bergeser menuju meja member seven dreamer lainnya. ‘here goes nothing’


“fyuh akhirnya selesai juga, ternyata capek ya ikut fansign offline pegel dikaki. Tapi enak sih bisa ngobrol langsung, lu sama member seven dreamer tadi ngobrol apa aja lin.” Saat ini aileen dan freya sedang berada di salah satu café yang berada dekat dari venue acara fansign. Keduanya mampir untuk mendapatkan segelas matcha latte dan vanilla latte sembari mengistirahatkan kaki yang rasanya mau copot karena harus mengantri demi mendapatkan tanda tangan dari seluruh member seven dreamer.

“ya biasa lah kayak pada umumnya.” Kekhawatirannya dan kegugupannya mengenai reaksi ke-6 member Seven Dreamer ketika bertemu dirinya tidak terjadi. Nyata nya ketika ia berhadapan langsung, mereka menyambutnya dengan baik dan tidak mengungkit-ungkit mengenai kejadian marcel, terlebih ketika dirinya berhadapan dengan Hayza, Nathan, dan Zavier yang menyapanya seperti teman lama. Memang aileennya saja yang khawatir berlebihan.

“Eh tadi gua lihat lu sempat bengong ye pas ketemu marcel? Nape lu? Mengagumi kalo marcel ganteng?” “Emang marcel ganteng frey, btw lu tadi gimana waktu ngobrol sama mereka bahas apa aja?” Aileen alihkan topik pembicaraan dari hal yang menurutnya memalukan itu, ia benar-benar tidak ingin menginfatnya.

“Anjir lu tau mereka tiap liat gua pasti langsung ngomong “temennya aileen ya?” malah si hayza ketemu gua langsung ngomong “gimana? seneng kan lo bisa ketemua gua?” Mana di album gua pada nulis “gua tau akun tweet lo, awas gua tandain lo” “kalo dilihat-lihat dari akun twitter lo, lo orangnya seru ya?” mereka gitu pasti gara2 liat tweet gue yang di Qrt marcel ya? Anjir malu gua.”

“Emangnya mereka nulis kayak begituan juga ya di album? gue kira Cuma ttd doang”

“Lah lo belom lihat punya lo? Lihat gih ga penasaran apa lo mereka nulis apa?” Maka setelahnya Aileen raih album miliknya yang berada di atas meja. Lembar demi lembar ia buka, belum menemukan apa yang Freya maksud. ‘apa di halaman belakang sendiri ya?’

Benar saja, mereka menulis di dua halaman terakhir dari album aileen, terlihat tulisan marcel berada di bagian paling atas di halaman itu. aileen tahu karena dari gaya tulisan dan tanda tangan anak laki-laki itu. Ketika ia baca baik-baik apa yang ditulis oleh Marcel

Blush

Langsung aileen tutup dan aileen masukkan album itu kedalam tas. Pipinya langsung memerah hingga ketelinga, dadanya juga berdetak lebih cepat. “heh nape lu lin, mereka nulis apaan? sampek bikin lo kayak kepiting rebus kayak begitu? Sini gua baca” “ga usah ga usah ga perluuu, yang ada nanti lo makin ngeledek gua. Ga usahhh.”

Apa yang marcel tulis tidak Panjang, hanya 2 baris, tapi 2 baris itu sangat memberikan dampak yang tidak baik untuknya.

“Ai can I call you tonight? Since we cant talk much here. By the way, aileen sore ini terlihat sangat cantik pakai dress, marcel suka.”

Tolong bantu aileen mencari tempat yang cocok untuk sembunyi sekarang.

It's Not That Special

It's Not That Special

Hujan mengguyur langit kota Seoul sore hari ini, lumayan deras sehingga orang-orang lebih memilih untuk berdiam diri dan menikmati hujan dari dalam rumah saja. Begitu juga Aileen, ia sekarang sedang berada di apartemennya yang nyaman sembari menelpon bunda. Iya, Aileen beserta Freya sudah tinggal di Korea dan sudah mulai menjalani kegiatan perkuliahannya disini. Sampai saat ini semua masih berjalan dengan menyenangkan, ia mendapatkan banyak teman di kampusnya, ia bisa mencicipi berbagai makanan khas Korea bersama Freya, melakukan kegiatan piknik ala-ala dengan Freya di taman Sungai Han-sejauh ini Sungai Han adalah tempat favoritnya-dan lain sebagainya. Ditengah-tengah asyik mengobrol dengan Bunda, tiba-tiba seseorang mendobrak masuk ke apartemennya.

BRAK

“Aiiiiiiii Seven Dreamer udah release album repack ayooo beliiiiiii.”

Itu adalah suara dari pintu yang terbanting dengan keras, pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah 'Tuyul kesayangannya', panggilan khusus untuk Freya kalau dia sedang bertingkah seperti ini, yang heboh sendiri mengenai album repack Seven Dreamer yang baru saja dirilis. Sementara Aileen yang duduk di sofa kaget bukan main—walaupun seharusnya dia sudah terbiasa, tapi tetap saja kaget—jantungnya hampir jatuh ke perut akibat ulah Freya, ponselnya juga sempat melayang ke udara dan jatuh entah kemana. Ingin rasanya ia omeli Freya karena tingkahnya itu, namun karena itu Freya maka Aileen ampuni.

“Frey itu lama-lama pintu apart gua rusak yaampunnnn, nanti kalau apart gua nggak punya pintu gimana?!”

“ Ya gampang, kalau pintu apart lo rusak tinggal pindah aja bareng gua. Susah amat.” Cuek dan enteng sekali bukan jawabannya? Itulah Freya, omong-omong mereka berdua memang tidak tinggal bersama dengan alasan Aileen ingin mendapat ketenangan hidup dan agar apartemennya tidak cepat rusak—karena tingkah laku Freya yang grasak-grusuk—padahal, Freya sudah memohon-mohon hingga berguling-guling dilantai sampai-sampai Bunda ikut membujuk. Tapi sekali Aileen bilang ‘tidak’ ya tetap ‘tidak’, dan berakhir mereka tinggal di lantai yang berbeda.

“Halo dek, itu siapa yang nerobos masuk dek? halo? halo?” Mendengar dobrakan keras tentu saja Bunda khawatir bukan main, takut-takut jika yang mendobrak masuk ke apartemen Aileen adalah orang asing yang berniat jahat pada putri semata wayangnya. Karena suara bunda yang terdengar begitu khawatir Aileen langsung memusatkan atensinya untuk mencari benda pipih itu-yang ternyata jatuh kebawah kolong sofa.“Halo Bun, maaf tadi hp nya jatuh ke kolong. Yang dobrak masuk si Freya kok Bun bukan orang asing jangan khawatir ya.”

“Eh lin, itu yang telpon Mami?” Mendengar Aileen menyebut kata ‘bunda’ spontan Freya lemparkan pertanyaan, meminta konfirmasi apakah benar yang sedang melakukan panggilan adalah Mami cantiknya atau bukan.

“Iya, gua telponan sama bunda, kenapa?” Tanpa tedeng aling-aling Freya langsung menyambar handphone Aileen dan menyerobot ingin mengobrol dengan Bunda, sementara sang empunya hanya bisa menghela nafas dan memanjangkan sabar. Memahami bahwa manusia yang bertingkah laku seperti Freya ini langka dan tidak ada 'copy' annya.

“Halo Mamiiiii, Mami gimana disana? kangen Freya nggak mi? Freya kangen loh sama Mami sama masakannya Mami.” Cerah, wajah Freya saat ini begitu cerah ketika mengobrol dengan Bunda, hingga ia tidak memedulikan eksistensi Aileen yang berada disampingnya. Aileen sendiri hanya diam mendengarkan sembari menyunggingkan senyum melihat interaksi keduanya dan bersyukur Freya hadir dikehidupannya dan bunda yang sepi, sehingga ia tidak merasa sendiri terlebih Bunda. Maka ia biarkan Freya mengobrol dengan Bunda sampai puas, mungkin dengan mendengar ocehan Freya Bunda bisa terhibur, yang terpenting ia sudah mendengar suara Bunda walau sebentar.

“Okedeh Mami, nanti Freya sampein ke Aileen kalo perlu nanti Freya omelin anaknya. Freya tutup ya telponnya? Dadah Mamiii, Lopyuuuu.”

Tut

Sambungan telpon itu terputus, menandakan terputus jugalah komunikasi antar keduanya. Maka Aileen pusatkan atensinya kepada Freya, penasaran dengan apa yang disampaikan oleh Bunda. “Tadi Bunda bilang apa Frey, kok nyangkut ke gua juga?”

“Bunda lo curhat anak kesayangannya kok nggak pernah mau nelpon Bundanya, Cuma nge-imess doang. Bunda lo mau nelpon duluan juga nggak berani takut kalo ternyata pas mau telpon, lo nya lagi nggak bisa diganggu. Telpon sering-sering Aii, nggak kasian apa lo sama Bunda? Udah tinggal sendirian, kesepian pula.”

“Iyaa-iyaa, besok-besok gua telpon tiap hari. By the way, lo dobrak masuk kesini mau bahas apa?”

“Oh iya sampek lupa, ihhhh ayooo beli album Repack nya Seven Dreamerrrrr. Sekalian daftar buat fansign mumpung udah disini jadi bisa fansign offlineeee. Pengen ketemu langsung.” Sudah aileen duga pasti ada kaitannya dengan album Seven Dreamer yang baru saja dirilis hingga Freya bisa sebegitu hebohnya. “Emang lo udah tau mau beli dimana?”

“Udahhh, gua tadi udah searching beberapa toko plus alamat dan cara nyampe kesana. Besok beli yaaa please please pleaseeeeeeee.” Aileen hanya bisa memutar bola matanya mendengar rengekan Freya disertai jurus puppy eyes andalannya, jika sudah begini Aileen mana bisa menolak? Karena kalau tidak diiyakan nanti akan terjadi drama tangis-menangis. “iya-iya besok beli. Udah ah nggak usah sok imut begitu, mual gue liat muka lo.” Beruntung besok weekend, sehingga keduanya bisa berpergian seharian untuk memenuhi keinginan Freya. “yessss sip mantap deh.”

“Udah? lo kesini cuma mau bahas itu doang? Kalau iya ayo beli makan, gua udah keroncongan nih.”

“Belum, ada satu hal lagi yang mau gua tanya in ke lo, jawab jujur kalau sampek bohong gua beneran marah.” Tiba-tiba ekspresi dan bahasa tubuh freya berubah 180°, tentu Aileen langsung merasa ada yang tidak beres disini tapi ia terlalu bingung dengan maksud perkataan Freya. Ia merasa ia tidak melakukan kesalahan apapun, lalu kenapa Freya mengatakan hal seperti itu?

“Kenapa sih, jangan bikin gua dag dig dug deh Frey.”

“Gua mau minta pendapat dan lo harus kasih pendapat lo sejujur-jujurnya kalo lo ada di posisi gua lo mau gimana.”

“Oke iya, udah cepetan ah jangan bikin gua parno sendiri.”

“Jadi gua punya sahabat dari kecil, lengket banget kemana-mana selalu berdua sampek akhirnya kita ke Korea bareng. Tapi akhir-akhir ini gua liat sahabat gua itu kayaknya lagi deket sama orang deh, dia sering bales-bales an tweet di twitter. Gua nggak tau sih itu siapa, soalnya yang dibales akun gembokan jadi gua nggak bisa liat akunnya. Tapi yang bikin gua greget, sahabat gua itu diem-diem aja nggak ada cerita gitu ke gua dia lagi deket sama siapa. Padahal gua nungguin anaknya cerita sendiri, tapi kayaknya emang sahabat gua itu nggak peka banget deh Lin. Lo kalau jadi gua, lo mau gimana?” Pertanyaan panjang dari Freya dengan wajah datarnya mengejutkan Aileen, jujur saja Aileen tidak mempersiapkan jawaban apapun atas sindiran langsung yang dilontarkan Freya untuknya.

“Emmm… gua tanya langsung anaknya?” Ragu-ragu dan clueless harus menjawab apa, sehingga hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulut Aileen. Tangannya sudah menjadi sedingin es dan jantungnya berdetak berkali-kali lebih cepat.

“Oke kalau gitu, lo lagi deket sama siapa sih Lin? kenapa nggak cerita ke gua ? gua nungguin lo cerita tau, mulai dari awal gua liat lo bales-bales an tweet sampek sekarang, tapi lo nya tega banget nggak mau cerita ke gua. Sebel gua sama lo.” Baiklah, kalau sudah begini maka tidak ada jalan lain selain Aileen ceritakan semuanya, dia berani bersumpah dia tidak bermaksud untuk menyimpan hal ini dari Freya; Aileen belum cerita karena menurut Aileen itu hal yang biasa, tidak ada spesialnya, jadi belum saatnya untuk diceritakan.

“Oke gua certain dari awal, tapi jangan lo potong. Dan lo komentarnya pas gue udah selesai aja. Diem dan dengerin baik-baik gua nggak mau ngulang dua kali.”

“Oke, sok atuh langsung dimulai.”

“Jadi yang akhir-akhir ini sering bales-balesan tweet sama gua itu akun pribadinya Marcel. Iya, Marcel seven dreamer-DIEM JANGAN DIPOTONG. Lo inget kan waktu gua fansign dan tweet gue di notice akun official ? Malemnya Marcel nge-dm gue pakek akun pribadinya, tapi gara-gara gue log-out jadi gue ngga tau. Karena nggak gua bales-bales akhirnya dia nge-imess gue Frey, mulai dari situ kita jadi sering bales-balesan tweet sama imess an. Tapi frekuensi kita chatan nggak sesering itu, nggak kayak orang pacaran yang tiap hari chatan. Paling dia nge chat kalo gua habis bikin tweet dan ya udah chat nya pun cuma sebentar dan dikit plus nggak kemana-mana. Jadi makanya gua nggak cerita ke lo karena ya udah cuma gitu doang.” Begitulah rangkuman cerita dari Aileen, memang benar adanya kalau Aileen dan Marcel berkomunikasi hanya untuk sekedar mengobrol biasa layaknya teman. Tidak ada pertanyaan-pertanyaan menjurus seperti orang yang sedang melakukan pdkt, jadi Aileen woles-woles saja.

“Bentar, gua beneran kaget ini, tapi kayaknya cerita lo tadi belum ke detailnya. Itu si Marcel dapet nomer lo darimana coba? kok bisa-bisanya dia dapet nomer lo?”

“Please lo jangan histeris terus jangan cerita kesiapa-siapa. Ini beneran hal sensitif.”

“Gua pukul lu lama-lama, sama sahabat sendiri nggak percaya banget. Cepetan ah ngomong.”

Maka Aileen ceritakan kejadian mengenai Marcel yang mencuri nomornya secara diam-diam dari data Fansign. Setelah membeberkan hal tersebut, ia terheran-heran melihat Freya yang diam membeku dengan wajah syok; apa ada yang salah dari caranya bercerita? atau bagian mana yang salah hingga sahabatnya itu terdiam seperti itu? Disisi lain Freya sendiri benar-benar tidak menduga, mengetahui seorang Marcel bisa nekat mencuri nomor pribadi sahabatnya.

Isi kepala Freya saat ini dipernuhi berbagai pertanyaan. Pertanyaan yang pertama apakah marcel tidak diperbolehkan oleh para staff untuk meminta nomor Aileen hingga menyebabkan Marcel melakukan hal itu? Lalu apakah motif Marcel menghubungi Aileen hanya untuk sekedar berkomunikasi sebagai teman? Kemudian, kalau memang bukan sebagai teman apakah sahabatnya ini sadar kalau tujuan Marcel menguhubunginya bukan hanya sekedar untuk menjadi teman? Memikirkannya saja membuat kepala Freya cenat-cenut bukan main.

Tapi untuk pertanyaan nomor 2 dan nomor 3 Freya yakin jawabannya adalah TIDAK. Marcel menghubungi Aileen TIDAK hanya sekedar untuk menjadi TEMAN dan sahabatnya ini TIDAK menyadari maksud dan tujuan Marcel. “Lin kalau gua pikir-pikir nih ya, kayaknya Marcel nggak sekedar iseng deh ngechat lo plus juga nggak sekedar pengen jadi temen. Lo inget kan pas fansign dia bilang ke lo langsung kalo dia pengen sering-sering ketemu lo? Terus habis itu dia sampek nekat nyuri nomor lo biar bisa komunikasi sama lo. Gua rasa dari runtutan kejadian yang seperti itu kayaknya dia punya interest ke lo, atau mungkin dia emang love at the first sight sama lo?”

Mendengar penuturan Freya ada secuil bagian dari otak Aileen yang mengatakan 'ya mungkin bisa jadi seperti itu', tapi disisi lain sebagian besar otaknya mengatakan hal yang sebaliknya. 'Ah tidak mungkin, Henry Marcel yang seorang bintang besar yang dielu-elukan dan diidam-idamkan oleh beribu-ribu orang memiliki ‘interest’ kepadanya yang hanya seorang… Aileen? Iya, seorang Valeri Aileen yang biasa saja dan hanya memiliki dunianya yang kecil'. Pernyataan kedua yang dibuat oleh otaknya itu menurut Aileen lebih logis dan terasa lebih pas dengan kenyataan, memangnya siapa dia? Kasta dimana Aileen berada dan kasta dimana Marcel berada sangat berbeda jauh, jadi Aileen sangat amat sadar dengan posisinya disini. ‘Jangan mimpi dan halu terlalu tinggi, ingat posisimu yang hanya sebagai fans biasa, Aileen’ Kalimat itu sudah menancap di kepalanya sejak awal.

“Nggak ah Frey, gua yakin deh Marcel nge-imess gua kemarin emang karena dia butuh teman ngobrol aja atau mungkin nanti bisa aja dia ngehubungin gua buat tanya pendapat mengenai cewek? Lagipula gua sadar posisi frey, kita ini cuma fans yang peran utamanya cuma buat ngedukung mereka dan nggak lebih.” Hahhh, Freya hanya menghela nafas, paham dengan jalan berpikir Aileen yang mencoba untuk sadar posisi, tapi dia juga begitu yakin dengan opininya mengenai Marcel yang kelihatannya ingin menjadi lebih dari sekedar teman dengan sahabatnya itu.

Jika opini Freya memang benar-benar sebuah fakta, maka menyadarkan Aileen untuk tidak denial adalah suatu pekerjaan yang sulit dan akan membutuhkan waktu yang lama—karena tingkat keras kepalanya seorang Aileen melebihi kerasnya batu—jadi daripada Freya berdebat dengan Aileen sekarang, ia lebih memilih mengalah dan melihat situasi dan kondisi kedepannya apakah opininya akan benar-benar terjadi atau hanya akan tetap menjadi sekedar opini.

“Ya udah kalau begitu, awas lu kalau besok-besok nggak mau cerita sampek harus gua todong kayak begini. Gua gibeng beneran.”

“Iyaaa gua bakal update terus ke lo kalau emang ada yang harus di update. Selain itu, lo pantau aja bales-balesan gue di twitter, kalau perlu akun gue lo bawa aja sekalian.” Daripada ribet kedepannya, jika Freya benar-benar meminta akun twitternya maka dengan ikhlas akan Aileen berikan, toh twitter nya juga bersih tidak ada hal-hal yang mencurigakan di sana dan Freya sudah mengenalnya luar dalam.

“Oke gua tagih nanti, kalau gitu ayo makan, tapi lo yang harus traktir. Salah sendiri main petak umpet sama gua, itung-itung permohonan maaf.”

“Cih, bilang aja lo lagi miskin makanya minta ditraktir.” Akhirnya Aileen dapat bernafas lega, lega karena Freya tidak membombardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang dapat membuat Aileen pusing tujuh keliling juga lega karena Freya tidak mengajaknya berdebat. Jika seperti ini berarti apa yang ada di otak Aileen benar adanya, kan?

but who knows? we don't know how the universe works, do we?

It's Not That Special

It's Not That Special

Hujan mengguyur langit kota Seoul sore hari ini, lumayan deras sehingga orang-orang lebih memilih untuk berdiam diri dan menikmati hujan dari dalam rumah saja. Begitu juga Aileen, ia sekarang sedang berada di ruang tamu apartemennya yang nyaman sembari menelpon bunda. Iya, Aileen beserta Freya sudah tinggal di Korea selama beberapa hari bahkan ia sudah mulai menjalani kegiatan perkuliahannya disini. Sampai saat ini semua masih berjalan dengan menyenangkan, ia mendapatkan banyak teman di kampusnya, ia bisa mencicipi berbagai makanan khas Korea Bersama Freya, melakukan kegiatan piknik ala-ala dengan Freya di taman Sungai Han-sejauh ini Sungai Han adalah tempat favoritnya-dan lain sebagainya. Ditengah-tengah asyik mengobrol dengan Bunda, tiba-tiba saja seseorang menerobos masuk ke Apartemennya.

BRAK

“Aiiiiiiii Seven Dreamer udah release album repack ayooo beliiiiiii.”

Itu suara dari pintu apartemennya yang terbanting dengan keras, pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah 'Tuyul kesayangannya', Panggilan khusus untuk Freya kalau dia sedang bertingkah seperti ini, yang heboh sendiri mengenai album repack Seven Dreamer yang baru saja dirilis. Sementara Aileen yang duduk di sofa merasa syok bukan main—walaupun seharusnya dia sudah terbiasa tapi tetap saja—jantungnya hampir saja jatuh ke perut akibat ulah Freya, ponselnya pun sempat melayang ke udara dan jatuh entah kemana. Ingin rasanya ia omeli Freya karena tingkahnya itu, namun karena itu Freya maka Aileen ampuni.

“Frey itu lama-lama pintu apart gua rusak yaampunnnn, nanti kalau apart gua nggak punya pintu gimana?!”

“ Ya gampang, kalau pintu apart lo rusak tinggal pindah aja bareng gua. Susah amat.” Cuek dan enteng sekali bukan jawabannya?Begitulah Freya, omong-omong mereka berdua memang tidak tinggal bersama dengan alasan Aileen ingin mendapat ketenangan hidup dan agar apartemennya tidak cepat rusak—karena tingkah laku Freya yang grasak-grusuk— padahal, Freya sudah memohon-mohon hingga berguling-guling dilantai sampai-sampai Bunda ikut membujuk. Tapi sekali Aileen bilang ‘tidak’ ya tetap ‘tidak’, dan berakhir mereka tinggal di gedung apartemen yang sama hanya berbeda lantai.

“Halo dek, itu siapa yang nerobos masuk dek? halo? halo?” mendengar dobrakan keras tentu saja bunda khawatir bukan main, takut-takut jika yang mendobrak masuk ke apartemen Aileen adalah orang asing yang berniat jahat pada putri semata wayangnya. Mendengar suara bunda yang begitu khawatir membuat Aileen langsung memusatkan atensinya untuk mencari benda pipih itu-yang ternyata jatuh kebawah kolong sofa. “Halo Bun, maaf tadi hp nya jatuh ke kolong. Yang dobrak masuk si Freya kok Bun bukan orang asing jangan khawatir ya.”

“Eh lin, itu yang telpon Mami?” Mendengar Aileen menyebut kata ‘bunda’ spontan Freya langsung melemparkan pertanyaan meminta konfirmasi apakah benar yang sedang melakukan panggilan benar Mami cantiknya atau bukan.

“Iya, gua telponan sama bunda, kenapa?” Tanpa tedeng aling-aling Freya langsung menyambar handphone Aileen dan menyerobot ingin berkomunikasi juga dengan Bunda, sementara sang empunya hanya bisa menghela nafas dan memanjangkan sabar. Memahami bahwa manusia yang bertingkah laku seperti Freya ini langka dan tidak ada 'copy' annya.

“Halo Mamiiiii, Mami gimana disana? kangen Freya nggak mi? Freya kangen loh sama Mami sama masakannya Mami juga.” Cerah, wajah Freya saat ini begitu cerah ketika mengobrol dengan Bunda, hingga ia tidak memedulikan kehadiran Aileen yang ada disampingnya. Aileen sendiri hanya diam mendengarkan sembari menyunggingkan senyum melihat interaksi keduanya dan bersyukur Freya hadir dikehidupannya dan bunda yang sepi, sehingga ia tidak merasa sendiri terlebih Bunda. Maka ia biarkan Freya mengobrol dengan Bunda sampai puas, mungkin dengan mendengar ocehan Freya Bunda bisa terhibur, yang terpenting ia sudah mendengar suara Bunda tadi walau sebentar.

“Okedeh Mami, nanti Freya sampein ke Aileen kalo perlu nanti Freya omelin anaknya gara-gara nggak pernah telpon Mami. Freya tutup ya telponnya ? Dadah Mamiii, Lopyuuuu.”

Tut

Sambungan telpon itu terputus, menandakan terputus jugalah komunikasi antar keduanya. Maka Aileen pusatkan atensinya kepada Freya, penasaran dengan apa yang disampaikan oleh Bunda kepada Freya karena menyangkut dirinya. “Tadi bunda bilang apa Frey, kok nyangkut ke gua juga?”

“Bunda lo curhat anak kesayangannya kok nggak pernah mau nelpon Bundanya, Cuma nge-imess doang. Bunda lo mau nelpon duluan juga nggak berani takut kalo ternyata pas mau telpon, lo nya lagi nggak bisa diganggu. Telpon sering-sering Aii, nggak kasian apa lo sama Bunda? udah tinggal sendirian, kesepian pula.”

“Iyaa-iyaa, besok-besok gua telpon tiap hari. By the way, lo dobrak masuk kesini mau bahas apa?”

“Oh iya sampek lupa, ihhhh ayooo beli album Repack nya Seven Dreamerrrrr. Sekalian daftar buat fansign mumpung udah disini jadi bisa fansign offlineeee. Pengen ketemu langsung.” Sudah aileen duga pasti ada kaitannya dengan album Seven Dreamer yang baru saja dirilis itu hingga Freya bisa sebegitu hebohnya. “Emang lo udah tau mau belinya dimana?”

“Udahhh, gua tadi udah searching beberapa toko plus alamat dan cara nyampe kesana. Besok beli yaaa please please pleaseeeeeeee.” Aileen hanya bisa memutar bola matanya mendengar rengekan Freya disertai jurus puppy eyes andalannya, jika sudah begini Aileen mana bisa menolak ? Karena kalau tidak diiyakan nanti akan terjadi drama tangis-menangis. “iya-iya besok beli. Udah ah nggak usah sok imut begitu, mual gue liat wajah lo.” Beruntung besok adalah weekend, sehingga keduanya bisa berpergian seharian demi mencari album itu. “yessss sip mantap dehhh.”

“Udah ? lo kesini Cuma mau bahas itu doang ? kalau iya ayo beli makan, gua udah keroncongan nih.”

“Belum, ada 1 hal lagi yang gua mau tanya in ke lo, jawab jujur kalau sampek bohong gua beneran marah.” Tiba-tiba ekspresi dan bahasa tubuh freya berubah 180°, tentu Aileen langsung merasa ada yang tidak beres disini tapi ia terlalu bingung dengan maksud perkataan Freya. Ia merasa ia tidak melakukan kesalahan apapun, lalu kenapa Freya mengatakan hal seperti itu?

“Kenapa sih, jangan bikin gua dag dig dug deh Frey.”

“Gua mau minta pendapat dan lo harus kasih pendapat lo sejujur-jujurnya kalo lo ada di posisi gua lo mau gimana.”

“Oke iya, udah cepetan ah jangan bikin gua parno sendiri.”

“Jadi gua punya sahabat dari kecil, lengket banget kemana-mana, sampek akhirnya kita berdua ke Korea bareng. Tapi akhir-akhir ini gua liat sahabat gua itu kayaknya lagi deket sama orang deh, dia sering bales-bales an tweet di twitter. Gua nggak tau sih siapa, soalnya dia bales-bales an sama akun gembokan jadi gua nggak bisa liat akunnya. Tapi yang bikin gua greget, sahabat gua itu diem-diem aja nggak ada cerita gitu ke gua dia lagi deket sama siapa. Padahal gua diem aja karena nungguin anaknya cerita sendiri, tapi kayaknya emang sahabat gua itu orangnya nggak peka banget deh Lin. Lo kalau jadi gua, lo mau gimana?” Pertanyaan panjang dari Freya dengan wajah datarnya mengejutkan Aileen. Jujur saja aileen tidak mempersiapkan jawaban apapun dan ia tahu pertanyaan itu adalah sindiran langsung untuknya.

“Emmm… gua tanya langsung anaknya?” Ragu-ragu dan clueless harus menjawab apa, sehingga hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulut Aileen. Seketika tangannya menjadi sedingin es dan jantungnya berdetak lebih cepat.

“Oke kalau gitu, lo lagi deket sama siapa sih Lin? kenapa nggak cerita ke gua ? gua nungguin lo cerita sendiri mulai dari awal gua liat lo bales-bales an tweet sampek sekarang, tapi lo nya tega banget nggak mau cerita ke gua. Sebel gua sama lo.” Baiklah, kalau sudah begini maka tidak ada jalan lain selain Aileen ceritakan semua, dia berani bersumpah dia tidak bermaksud untuk tidak cerita kepada Freya; Aileen belum cerita karena menurut Aileen itu hal yang biasa, tidak ada spesialnya jadi belum saatnya untuk diceritakan.

“oke gua certain dari awal, tapi jangan lo potong. Dan lo komentarnya pas gue udah selesai aja. Diem dan dengerin baik-baik gua nggak mau ngulang dua kali.”

“oke, sok atuh langsung dimulai.”

“Jadi yang akhir-akhir ini sering bales-balesan tweet sama gua itu akun pribadinya Marcel. Iya, Marcel seven dreamer-DIEM JANGAN DIPOTONG. Lo inget kan waktu habis gua fansign dan tweet gue di notice akun official ? Malemnya Marcel nge-dm gue pakek akun pribadinya itu, tapi karena gue log-out jadi gue ngga tau. Karena nggak gua bales-bales akhirnya dia nge-imess gue, mulai dari situ kita jadi sering bales-balesan tweet sama imess an. Tapi kita nggak sesering itu chat an Frey, nggak kayak orang pacaran yang tiap hari chatan. Nggak, paling dia nge chat kalo gua habis bikin tweet dan ya udah chat nya pun cuma sebentar dan dikit plus nggak kemana-mana. Jadi makanya gua nggak cerita ke lo karena ya udah cuma gitu doang.” Begitulah rangkuman cerita dari Aileen, memang benar adanya kalau Aileen dan Marcel berkomunikasi hanya untuk sekedar mengobrol biasa layaknya teman. Tidak ada pertanyaan-pertanyaan menjurus seperti orang yang sedang melakukan pdkt, jadi Aileen woles-woles saja.

“Bentar, gua beneran kaget ini, tapi kayaknya cerita lo tadi belum ke detailnya. Itu si Marcel dapet nomer lo darimana coba? kok bisa-bisanya dia dapet nomer lo?”

“Gua mau cerita jujur ya ini, tapi please lo jangan histeris terus jangan cerita kesiapa-siapa. Ini beneran hal sensitif.”

“Gua pukul lu lama-lama, sama sahabat sendiri nggak percaya banget. Cepetan ah ngomong.”

Maka Aileen ceritakan kejadian mengenai Marcel yang mencuri nomornya secara diam-diam dari data Fansign. Dan setelah mengatakan hal tersebut, jujur saja Aileen saat ini khawatir melihat Freya yang diam membeku dengan wajah syok, apa ada yang salah dari caranya bercerita? atau bagian mana yang salah hingga sahabatnya itu terdiam seperti itu? Sementara Freya sendiri benar-benar terkejut bukan main, mengetahui seorang Marcel bisa nekat mencuri data pribadi sahabatnya.

Isi kepala Freya saat ini dipernuhi pertanyaan mengenai apakah marcel tidak diperbolehkan oleh para staff untuk meminta nomor Aileen hingga menyebabkan Marcel melakukan hal itu? Lalu apakah motif Marcel menghubungi Aileen hanya untuk sekedar berkomunikasi sebagai teman? Kemudian, kalau memang bukan sebagai teman apakah sahabatnya ini sadar kalau tujuan marcel menguhubunginya bukan hanya sekedar untuk menjadi teman? Memikirkannya saja membuat kepala Freya cenat-cenut bukan main.

Tapi untuk pertanyaan nomor 2 dan nomor 3 Freya yakin jawabannya adalah TIDAK. Marcel menghubungi Aileen TIDAK hanya sekedar untuk menjadi TEMAN dan sahabatnya ini TIDAK menyadari maksud dan tujuan Marcel menghubunginya. “Lin kalau gua pikir-pikir nih ya, kayaknya Marcel nggak sekedar iseng deh ngehubungi lo plus juga nggak sekedar pengen jadi temen. Lo inget nggak pas fansign dia bilang ke lo langsung kalo dia pengen sering-sering ketemu lo? Terus habis itu dia sampek nekat nyuri nomor lo biar bisa komunikasi sama lo. Gua rasa dari runtutan kejadian yang seperti itu kayaknya dia punya interest ke lo, atau mungkin dia emang love at the first sight sama lo?”

Mendengar penuturan Freya ada secuil bagian dari otaknya yang mengatakan bahwa 'ya mungkin bisa saja seperti itu', tapi disisi lain sebagian besar otaknya mengatakan hal yang sebaliknya. 'Ah tidak mungkin seorang Henry Marcel yang seorang bintang besar yang dielu-elukan dan diidam-idamkan oleh beribu-ribu orang memiliki ‘interest’ kepadanya yang hanya seorang…Aileen? Iya, seorang Valeri Aileen yang biasa saja dan hanya memiliki dunianya yang kecil'. Pernyataan kedua yang dibuat oleh otaknya itu menurut Aileen lebih logis dan terasa lebih pas dengan kenyataan, memangnya siapa dia? Kasta dimana Aileen berada dan kasta dimana Marcel berada sangat berbeda jauh, jadi Aileen sangat amat sadar dengan posisinya disini. Lagipula diluar sana masih banyak perempuan yang jauh lebih cocok untuk bersama Marcel dibanding dirinya. *‘Jangan mimpi dan halu terlalu tinggi, ingat posisimu yang hanya sebagai fans biasa, Aileen’* kalimat itu sudah menancap di kepalanya sejak awal Marcel menghubunginya.

“Nggak ah frey, gua yakin deh Marcel nge-imess gua kemarin emang karena dia butuh teman ngobrol aja atau mungkin nanti bisa aja dia ngehubungin gua buat tanya pendapat mengenai cewek? lagipula gua sadar posisi frey, kita ini cuma fans yang peran utamanya cuma buat ngedukung mereka dan nggak lebih.” Freya hanya menghela nafas, paham dengan jalan berpikir Aileen yang mencoba untuk sadar posisi, tapi disisi lain dia begitu yakin dengan opininya yang mengatakan kalau Marcel ingin lebih dari sekedar menjadi teman.

Jika opininya itu memang benar-benar sebuah fakta, maka menyadarkan Aileen untuk tidak denial adalah suatu pekerjaan yang sulit dan akan membutuhkan waktu yang lama. Karena jika otak Aileen sudah mengatakan 'tidak' maka akan tetap 'tidak', sebegitu keras kepalanya seorang Aileen. Jadi daripada freya berdebat dengan Aileen sekarang, ia lebih memilih mengalah dan melihat situasi dan kondisi kedepannya apakah opininya itu akan benar-benar terjadi atau hanya akan tetap menjadi sekedar opini.

“Ya udah kalau begitu, awas lu kalau besok-besok nggak mau cerita sampek harus gua todong kayak begini. Gua gibeng beneran.”

“Iyaaa gua bakal update terus ke lo kalau emang ada yang harus di update. Selain itu, lo pantau aja bales-balesan gue sama Marcel di twitter, kalau perlu akun gue lo bawa aja sekalian.” Daripada ribet kedepannya, jika Freya benar-benar meminta akun twitternya maka dengan ikhlas akan Aileen berikan, toh twitter nya juga bersih tidak ada hal-hal yang mencurigakan dan Freya sudah mengenalnya luar dalam.

“Oke gua tagih nanti, kalau gitu ayo makan, tapi lo yang harus traktir. Salah sendiri main petak umpet sama gua, itung-itung permohonan maaf.”

“Cih, bilang aja lo lagi miskin makanya minta ditraktir.” Akhirnya Aileen dapat bernafas lega karena Freya tidak membombardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang dapat membuat Aileen pusing tujuh keliling juga lega karena freya tidak mengajaknya berdebat. Jika seperti ini berarti apa yang ada di otak Aileen benar adanya, kan?

but who knows? we don't know how the universe works, do we?

Kejadian di Balik Layar

Kejadian di Balik Layar

Suasana hening dan mencekam menyergap ruang tamu apartemen member Seven Dreamer saat ini, mereka semua sudah duduk di sofa dengan keenamnya mengarahkan tatapan menuntut menanti penjelasan dari Marcel. Sementara yang ditatap hanya bisa memperlihatkan wajah memelas dengan perasaan was-was, walaupun kejadian yang dilakukannya tadi bukanlah hal yang dapat menimbulkan permasalahan-menurut Marcel-tapi tetap saja ia merasa takut. Pasalnya, jika sudah dalam mode serius dan interogasi seperti ini, adik-adiknya benar-benar menyeramkan. Marcel sudah memasrahkan diri akan diadili seperti apa dia dan hanya bisa berharap semoga ia tidak akan dipanggang di atas kompor Nathan.

“Jadi, ada alasan apa bang lo tiba-tiba bales tweet dari fans. Padahal biasanya lo bales kalo pas lagi menpa aja. Dan berdasarkan yang dibilang Ilo di grup chat tadi, kayaknya ada maksud terselubung disini.” Marcel sebenarnya bingung harus menjelaskan seperti apa, haruskah dia jujur atau berbohong, tapi jika dia berbohong rasanya juga percuma. Mereka sudah hidup bersama selama bertahun-tahun, jadi tidak ada yang bisa disembunyikan. Dengan merapalkan doa dan harap-harap cemas, berharap dia tidak akan salah memberi jawaban. “Namanya Aileen, dia baru pertama kali fansign sama gua tadi. Sebenernya nggak ada yang spesial, kita cuma ngobrol hal-hal ringan pada umumnya kok. Tapi memang waktu fansign sama dia rasanya beda, ga tau kenapa.” Itu benar adanya, entah kenapa Marcel merasakan ada yang berbeda dari Aileen walaupun mereka baru pertama kali bertemu.

“Apa mungkin, lo bisa langsung jatuh cinta pada pandangan pertama bang ?”

“Kayaknya enggak sih, cuman first impression sama auranya dia beda aja, warm and positif ? Maybe ? I'm not sure, tapi itu yang gua rasain tadi”

“Terus lo bisa ketemu twitternya dari mana ? Kan ada beribu-ribu tweet fans yang ngetag akun official hari ini. Nggak mungkin kan lo scroll cari satu-satu bang ?” Jackpot! Reynard berhasil melesatkan pertanyaan yang paling dihindari oleh Marcel. Bingung harus menjelaskan darimana, ia hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan tersenyum bodoh karena merasa tertangkap basah.

“Hehe…gua jelasin tapi jangan dimarahin ya ? please ?”

“Tergantung” Serempak mereka berenam menjawab, sudah kepo tingkat dewa dan merasa gregetan dengan tingkah Marcel.

“Jadii…tadi habis fansign…. Gua… ke ruangan-“

“OH ABANG KE RUANGAN STAFF BUAT NYURI DATA DIEM-DIEM YA?!” Telak, kalah telak. Marcel hanya bisa diam membeku memperhatikan reaksi mereka, setelah usahanya untuk menjelaskan dipotong oleh Ceilo dengan fakta yang 100% valid kebenarannya. Sebenarnya Ceilo sudah menduga akan seperti itu kejadiannya, darimana Marcel bisa mendapat username fans kalau bukan dari data yang disimpan oleh staff ? Dia hanya menunggu Marcel berkata jujur saja.

Sementara ke lima manusia lainnya hanya bisa menghela nafas dan geleng-geleng kepala heran, mengetahui seperti itu kejadiannya. (kalau dijabarkan dalam kalimat mungkin mereka akan mengatakan “yaampun abang gua ada-ada aja tingkahnya” “ternyata dia bisa kayak gitu juga ya” “bibit-bibit bucin ini mah, fix” dan lain sebagainya)

“Bang lu tahu kan itu ga boleh ?”

“Iya tahu, gua tahu kalau kayak gitu salah dan gua minta maaf.  Gua gatau harus gimana, Aileen bener bener bikin gua pengen kenal dia.”

“Terus habis ini lu mau gimana bang ? Mau langsung nge-imess orangnya ? Mau langsung pdkt ?”

“Nggak lah, gila aja gua kalau mau langsung pdkt. Gua masih sekedar pengen kenal dulu, siapa tahu bisa jadi temen, kan ?”

“Cih, ga percaya gua sama ‘nanti jadi temen’, paling juga bakalan jadi bucin sejati” celetuk Hayza dengan wajah yang julidable sekali dan disetujui oleh keenam yang lain. Karena menurut mereka, tidak mungkin seorang Marcel mau repot-repot mencuri data hanya untuk sekedar menjadi teman, kalau memang mau jadi teman tunggu saja di fansign berikutnya pasti akan bertemu.

“Saran gua kalo lo emang mau ngedeketin dia, hati-hati aja deh bang tau sendiri sasaeng kayak gimana. Terus konsultasi juga ke manajer Hyung, biar nanti kalo ada apa-apa bisa teratasi”

“Oke Ken tenang aja, jadi udah clear belom nih ?” ‘please udah pleaseeee’ teriak Marcel dari dalam hati, kepalanya sudah pening bukan main ingin segera melarikan diri dari sesi interogasi ini.

“Udah, tapi awas aja lo kalo sampek aneh-aneh lagi.”

“Yes! Nggak, nggak lagi gua aneh-aneh. Udah ya gua mau ke kamar, love you guys” Daksanya pun langsung melesat menuju ke kamar dan mengunci pintu dari dalam, takut – takut jikalau nanti ada sesi interogasi yang kedua. Membayangkannya saja langsung membuat Marcel bergidik ngeri.


Setelah membersihkan diri dan berbaring nyaman di kasurnya, kegiatan yang sedang dilakukan Marcel adalah merenung memandangi langit-langit kamarnya sembari senyum-senyum sendiri. Mengingat-ingat kejadian sore ini mulai dari fansign dengan Aileen hingga kenekatannya mencuri data Aileen, ia merasa itu bukan dirinya, tapi jelas-jelas dengan keadaan sadar sepenuhnya dia melakukannya. Tapi ah sudahlah, lupakan saja, toh sudah terjadi. Maka yang memenuhi kepalanya saat ini sudah berganti mengenai Aileen, ucapannya kepada Aileen mengenai mereka berdua yang harus bisa sering-sering bertemu setelah Aileen datang ke Korea bukan hanya sebuah kalimat, Marcel bersungguh-sungguh saat mengatakan itu tadi. Belum tahu maksud bertemu disini bertemu yang seperti apa dan bagaimana, tapi pada intinya Marcel ingin sering-sering  melihat Aileen. Maka setelahnya ia langsung membuka handphonenya, menuju sosial media dengan logo burung biru itu, dan menulis username Aileen di kolom pencarian. Marcel pandangi foto profil yang terpampang disana.

‘cantik’ batinnya

Tidak ada salahnya kan memuji ? lagipula itu merupakan fakta. Bahkan Ceilo pun juga mengakui Aileen cantik-di grup chat tadi sore-jadi jangan berpikir kemana-mana terlebih dahulu. Aha! tiba-tiba muncul lampu ide di atas kepalanya, kira–kira jika dia mengirim direct messages ke Aileen, bagaimana reaksi dan respon perempuan itu ? apakah akan kaget dan langsung percaya atau akan mencemooh Marcel, mengatakan bahwa Marcel hanya orang asing yang mengaku-ngaku menjadi Marcel ? Ia jadi penasaran, jadi mari cari tahu.

‘hihihihi bakalan lucu nanti kalo dia ga percaya gua asli Marcel’

Pagi yang Normal

Pagi yang Normal

Definisi pagi yang normal dan indah menurut Marcel adalah ketika matahari menyapa dengan indah dari ufuk timur, udara yang masih terasa segar memenuhi relung dadanya, ditemani dengan segelas teh chamomile  hangat sembari duduk di balkon apartemen, dan diiringi dengan suara latar yang indah; berupa omelan dari Reynard yang berusaha membangunkan Hayza,  teriakan frustasi Nathan untuk Zavier agar menjauh dari area dapur, dan Ceilo yang adu pendapat dengan Kenzi mengenai hal-hal yang remeh. Sebentar... seperti nya ada yang salah disini, bukan ? Bagaimana mungkin mendengar orang mengomel, berteriak, dan adu pendapat dipagi hari bisa dikatakan cara yang indah untuk memulai hari ? Tapi begitulah menurut Marcel.

Mau ditanya berulang kali pun, Marcel akan menjawab dengan jawaban yang sama. Lalu apakah Marcel tidak sakit kepala jika harus dihadapkan dengan keadaan seperti itu berulang kali ? Kalau boleh jujur, tentu saja. Apalagi saat awal-awal mereka hidup di satu atap yang sama. Namun, setelah mencoba memahami, marcel tahu, begitulah cara mereka menunjukkan kasih sayang.

Pagi ini pun tidak jauh berbeda dari yang biasanya, suara Reynard yang terdengar dari kamar Hayza berusaha membangungkan sang empunya kamar yang susah sekali dibangunkan—padahal mereka sedang diburu waktu. Sebenarnya sebelum Reynard mengomel, mereka semua sudah bergantian berusaha membangunkan Hayza. Tetapi memang karena kadar kebo anak itu yang sudah kronis, pada akhirnya membuat Reynard turun tangan juga.

“Ini beneran ya di hitungan ke 3 lo ga bangun, gua ambilin air se-ember biar sekalian lo mandi dikasur.” pada titik ini Reynard sudah mulai menyerah mencari cara untuk membangunkan manusia satu ini. Kalaupun Hayza tidak segera bangun, dia benar-benar akan menyiram anak itu dengan air dingin. Persetan dengan kasur Hayza yang akan basah kuyup, dia tidak main-main. Catat itu.

“5 menit lagi plis, kasurnya enak banget.”

“Satu...”

”...”

“Dua...”

”...”

“Tiga”

“…”

“Oke siap-siap berenang diatas kasur.”** ketika baru saja akan membalikkan badan untuk pergi mengambil air, Hayza spontan bangun dari posisinya yang nyaman. **“Ahhh iya-iya ini udah bangun, udah melek ini.” Katanya, padahal netranya masih merem melek menahan kantuk.

“Sini lo, ikut gua.” melihat hal itu, Reynard tidak segan-segan langsung menyeretnya menuju kamar mandi dan memposisikan Hayza dibawah pancuran shower. Sudah bisa ditebak bukan adegan selanjutnya yang terjadi?

“Reyyyyy dingin banget airnya astaaagaaaa, basah semuaaaa ini bajunyaaa.” Betul, tubuh Hayza langsung dihujam dengan air shower kekuatan penuh yang airnya sedingin air es. Tentu saja Hayza terlonjak kaget, Hei, siapapun pasti akan kaget ketika berada di posisi Hayza, kan?

“Ya jelas basah lah bego orang dikamar mandi, apa gunanya kalo bukan buat mandi.”

“Ini dingin banget sumpahhh, kenapa nggak nyalain air anget sih, kan enakk.” Mendengar kalimat itu membuat Reynard jengkel bukan main, kalau membunuh orang bukan tidakan berdosa sudah pasti akan ia lakukan sekarang juga. Dikamar mandi ini. 

“Udah lah ga usah kebanyakan bacot, mandi 5 menit. Lebih dari 5 menit gua dobrak ini kamar mandi,” ujarnya sembari menutup pintu kamar mandi.

Di sisi lain, dapur pun tidak kalah berisiknya. Zavier yang berniat membantu Nathan menyiapkan sarapan agar cepat selesai sehingga mereka bisa segera sarapan, di tolak mentah-mentah. Bahkan Nathan memberikan jarak aman untuk Zavier berdiri dari dirinya, sebesar 1,5 meter. Bukan tanpa alasan Nathan menolak bantuan anak itu, jika Zavier dibiarkan membantu yang terjadi nanti malah mereka tidak bisa segera sarapan dan dapur akan semakin terlihat berantakan. Jadi untuk keamanan dan kebaikan bersama, ini keputusan yang paling tepat. Kata Nathan, Zavier cukup diberikan peran menata meja makan itu sudah membantu.

“Pier ini sandwich nya taruh sana, udah jadi.”

“Oke Abang.”

“Ini buah nya di taruh sana juga, ditata yang cantik.”

“Oke Abang.”

“Ini minumnya juga bawa kesana, pelan-pelan. Hati-hati bawanya jangan sampek tumpah jangan sampek jatuh.”

“Oke abang.”

Yah seperti itulah kegiatan mereka berdua menyiapkan sarapan, Vier yang hanya melakukan tugas menata sarapan di meja makan saja bisa membuat Nathan sebawel dan sekhawatir itu, apalagi kalau dibiarkan ikut memasak ? maka dari itu lebih baik biarkan Nathan menguasai dapur sendirian.

Sementara di ruang tamu, Ceilo dan Kenzi sedang melakukan perdebatan seru mengenai hewan apa yang lebih cocok untuk dipelihara jika tinggal di apartemen, apakah anjing ? atau kucing ? Namun tidak ada yang mengalah, keduanya  tetap teguh dengan pendirian masing-masing.  Ken yang merasa kucing lebih cocok untuk diperlihara di apartemen sementara Ceilo berpendapat tidak masalah jika memelihara anjing di apartement.

“Cil pelihara kucing tu lebih cocok buat di apartement, kayak kita begini. Lu ga perlu bingung- bingung harus ngajak kucing jalan-jalan. Beda kalo sama anjing, harus sering diajak jalan ke taman buat nge-habisin energi mereka.”

“ Justru itu bang Ken enaknya, lumayan kan bisa bikin kita keluar rumah sambil jalan-jalan santai, nggak kekunci di rumah terus.”

“Tapi anjing juga butuh space rumah yang luas biar mereka bisa bebas main. Kalau kucing nggak, terus ras anjing juga kadang berisik cil, kasian tetangga kalo keganggu.”

“Ya kalo gitu pilih ras nya yang kecil dan ga berisik dong bang kan ada.”

“Nggak ah tetep prefer kucing gue, nggak repot.”

“Bang ken mah ga seru, padahal anjing lebih pinter tau daripada kucing.”

Mendengarkan semua suara itu dari balkon membuat marcel hanya bisa tersenyum teduh sambil geleng–geleng kepala, gemas dengan tingkah mereka yang seperti itu. Ah, benar-benar pagi yang indah menurutnya. Ketika teh chamomilenya tinggal separuh gelas terdengar teriakan dari Zavier, “ABANGGG-ABANGGG CEPETAN KESINIII INI SARAPANNYA UDAH JADIIII.” Pertanda bahwa sarapan sudah siap. Dengan langkah gontai dan gelas dikuasanya, ia masuk ke dalam apartemen dan langsung menuju ke ruang makan. Netranya menangkap kehadiran semua adiknya sudah disana, duduk dengan tenang dan mulai menyantap sarapan. Memang bukan sarapan mewah yang disiapkan oleh Nathan tapi paling tidak cukup mengenyangkan. Ia pun ikut bergabung dengan mereka dan mulai mengunyah dengan tenang.

“Bang marcel nanti jadwalnya ngapain aja ? Vier lupa hehehe.”

“Nanti kita syuting reality show dulu sampek siang, terus habis makan siang kita fansign, lanjut habis makan malem diskusi sama manajer hyung sama agensi buat nyiapin album repacked.”

“Oke deh berarti nanti pulangnya bisa ga terlalu malem ya ?”

‘Ting’

Satu notifikasi masuk dan terpampang di layar utama handphone milik Marcel, itu pesan dari manajernya menanyakan apakah mereka bertujuh sudah siap untuk berangkat atau belum.

“Iya, makanya segera berangkat biar nanti bisa pulang cepet. Manajer hyung udah nanyain kita udah siap berangkat belom ini. Cepetan dikit makannya.”

Mendengar hal itu, dengan secepat kilat mereka menyelesaikan kegiatan sarapan dan bergegas berangkat menjalani kegiatan mereka hari ini.

The Beginning

The Beginning

Lagu berjudul Hot Sauce dari boy grup Seven Dreamer terputar keras dari speaker yang berada di kamar perempuan berusia 23 tahun itu. Seven Dreamer, boygrup yang terdiri dari tujuh member generasi milenial yang sudah debut dari lima tahun lalu. Saat ini tingkat popularitas Seven Dreamer memang sedang naik-naiknya, kebanyakan fans mereka adalah kaum hawa, termasuk Aileen sendiri. Tidak ada alasan untuk tidak menyukai boygrup ini, selain karena mereka tampan dan bertalenta, juga karena lagu-lagu yang dibawakan sangat mudah dan enak untuk masuk ke indra pendengaran. Jika ditanya siapa idolanya? Maka aileen akan dengan semangat dan lantang menjawab, “MARCELLL,” si leader group kelahiran Kanada.

Hot sauce gipi dip that eh

Nal ttara neon twist that eh

Hot sauce taoreul ttae ooh

Immatdaero golla ma dish

“AILEEENNNNN... AIIIII... BUKA PINTUNYAAAA.”

“AILEEENNNNNNNN.”

“AIIIIIIIIII....”

Ditengah-tengah menghayati dan ikut melakukan gerakan 'aduk-aduk' Hot Sauce, dari luar terdengar suara cempreng menggelegar disertai gedoran dashyat di pintu kamar. 'Tu anak manggilin heboh bener' batinnya, Aileen sudah paham betul siapa itu hanya dari suara teriakannya. Dengan langkah santai, daksanya mendekat dan meraih gagang pintu. Disitu berdiri sesosok perempuan sebaya Aileen dengan tangan bersedekap dan tatapan jengkel bukan main, Freya Humeera, sahabat karib Aileeen sedari jaman Sekolah Dasar. Dilihat dari wajah yang sedang Freya tampilkan sekarang, maka setelah ini dapat Aileen pastikan sahabatnya itu akan—

“Lu ngapain sik pagi pagi nyalain speaker kenceng bener kayak orang kondangan?! Dipanggil-panggil diketok-ketok sampek nggak denger, habis ni suara gue?!” —Mengeluarkan skill mengomelnya. Tenang, Aileen sudah terbiasa kok dengan omelan sahabat karibnya itu. Jadi mau selama apapun Freya mengomel telinganya tidak akan terasa panas.

“Ya maap, kan gue pengen menikmati minggu pagi yang  cerah dengan suara indah mereka sekalian naikin good mood. Lagian tumben pakek ketok pintu segala biasanya asal nyelonong masuk ga pakek salam ga pakek pemberitahuan kayak tuyul.”

“Tuyul lu bilang?! Cantik-cantik begini lu bilang gue tuyul?! Wah tega bener lu sama temen sendiri, sakit hati gue Linn. Lagian salah mulu gue, nyelonong masuk diomelin pakek sopan santun ketok pintu dulu di tumbenin.” timpal Freya dengan sewot, omelan tidak jelasnya terus berlanjut bahkan setelah dia dipersilahkan masuk ke dalam kamar oleh Aileen. Aileen hanya diam mendengarkan, membiarkan sahabatnya itu mengomel hingga puas, dan setelah ngos-ngosan kehabisan nafas barulah Freya menutup bibir mungilnya.

“Udah selesai Frey ngomelnya? Untung gue sayang sama lo, kalo nggak udah gue tendang dari tadi. By the way kesambet apa lo pagi-pagi udah kesini, biasanya masih nempel dikasur?”

“Amnesia lu? Hari ini pengumuman beasiswa S2 Neo Academy bego.”

“Lah? Bukannya masih minggu depan?” ujar Aileen dengan raut bingung. Seingatnya tanggal pengumuman beasiswa yang tertera di Website kampus Neo Academy bukanlah hari ini, melainkan masih minggu depan. Ia dan Freya memang ikut mendaftar saat program beasiswa itu dibuka, keduanya tidak mendaftar di jurusan yang sama karena passion mereka yang memang berbeda—yang penting satu kampus, kata Freya saat itu.

“Amnesia beneran ternyata, gemes banget gue sama lo. Diliat noh kalender yang udah lu tandain gede-gede sama dokumen aplikasi yang lu kirim. Tanggal pengumumannya itu hari ini saudari Valerie Aileen . Makanya gue kesini pagi-pagi biar lihat pengumumannya bareng sama lo.”

“Eh beneran? Jam berapa pengumumannya? Jam 10 kan? Bentar gue mandi dulu bentarr.” Segera Aileen bergegas menyambar handuk dan berlari keluar kamarnya.

“Pantes kamar ini baunya kayak bunga Raflesia Arnoldi, asalnya dari lu ternyata.”

“Bodo amat.” timpal Aileen dari kamar mandi.


Setelah Aileen menyelesaikan ritual mandi paginya, segera mereka duduk berhadap-hadapan di atas karpet yang ada di kamar Aileen dengan handphone di masing-masing kuasanya—yang saat ini menampilkan halaman website Neo Academy.

“Udah log-in ke websitenya kan lo Frey ?”

“Udah, aduh dag dig dug banget gueee.”

“Dihitungan ke 3 ya, pencet bareng-bareng tombol ceknya.”

“Satu…”

“Dua…”

“Tiga…”

”....”

”....”

“AAAAAAAA GUE LOLOS FREYYY”

“AAAA GUEE JUGAAA LOLOSSS”

Begitulah teriakan histeris yang keluar dari keduanya, kemudian disusul dengan pelukan ala-ala teletubbies.

“Gimana dek? lolos beasiswanya?” Seorang wanita paling cantik dan paling Aileen sayang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang pintu kamar Aileen yang setengah terbuka sembari tersenyum teduh melihat keduanya. Iya, itu Bunda.

“Eh bunda, iyaaa bund Aii lolos ini bundd, huhuhu”

“Syukur kalau begitu, terus dek Freya gimana? Lolos juga kan?”

“Iya dong mii, Freya gitu loh urusan gini mah kecil.” jawab Freya seraya menampilkan jari kelingkingnya yang kecil.

“Alah lagak lu sok iye benerrr.”

“Sudah-sudah kalian ini kalau ketemu seperti Tom and Jerry kalau nggak ketemu nangis-nangis. Habis ini turun kebawah ya, kita makan besar sekalian ngerayain. Oke?”

“Siap mamiku cantik.”

Sekedar informasi, Freya memang lengket dengan Bunda sedari dulu dan 'mami cantik' adalah panggilan khusus yang diberikan Freya kepada Bunda, Bunda tentu tidak keberatan dan senang sekali setiap Freya mampir kerumah. Alasannya sederhana, Freya itu selalu ceria dan cerewet ketika bertemu dengan Bunda. Apa saja bisa dibicarakan dari a-z, berbeda dengan Aileen yang cenderung memfilter topik yang akan diceritakan kepada Bunda. Bukan, bukannya Aileen tidak mau bercerita, hanya saja terkadang dia merasa itu bukan hal yang terlalu penting untuk dibahas dengan Bunda.

“Aaaa kita ke Korea Linnnn”

“Akhirnya wish list kita berdua kesampaian huhuhu”

Perasaan bahagia dan excited membuncah dihati keduanya, tidak sabar merasakan bagaimana serunya berkuliah di luar negeri.

'Pasti seru'

The Beginning

The Beginning

Lagu berjudul Hot Sauce dari boy grup Seven Dreamer terputar keras dari kamar perempuan berusia 23 tahun itu. Seven dreamer, boy grup yang terdiri dari 7 member generasi millenial yang sudah debut dari 5 tahun lalu, saat ini sedang di gandrung i oleh para kaum millenial apalagi kaum hawa, termasuk Aileen sendiri. Tidak ada alasan untuk tidak menyukai boy grup ini, selain karena mereka tampan dan bertalenta, juga karena lagu-lagu yang dibawakan oleh mereka sangat mudah dan enak untuk masuk ke indra pendengaran. Jika ditanya siapa biasnya ? Maka aileen akan dengan semangat dan lantang menjawab, “MARCELLL,” si leader group kelahiran Kanada.

Hot sauce gipi dip that eh

Nal ttara neon twist that eh

Hot sauce taoreul ttae ooh

Immatdaero golla ma dish

“AILEEENNNNN.... AIIIII... BUKA PINTUNYAAAA”

“AILEEENNNNNNNN”

“AIIIIIIIIII.....”

Ditengah-tengah menghayati dan ikut melakukan gerakan 'aduk-aduk' Hot Sauce, dari luar terdengar suara cempreng menggelgar disertai gedoran dashyat di pintu kamarnya. 'Tu anak manggilin heboh bener' batinnya, Aileen sudah paham betul siapa itu hanya dari suara teriakannya. Dengan langkah santai, daksanya mendekat dan meraih gagang pintu. Disitu berdiri sesosok perempuan sebayanya dengan tangan bersedekap dan tatapan jengkel bukan main, Freya Humeera sahabat karibnya sedari jaman Sekolah Dasar. Dilihat dari wajahnya, maka setelah ini dapat dipastikan sahabatnya itu akan–

“Lu ngapain sik pagi pagi nyalain speaker kenceng bener kayak orang kondangan?! Dipanggil-panggil diketok-ketok sampek ga denger, habis ni suara gue?!” –mengeluarkan kemampuan mengomelnya. (Tenang, Aileen sudah terbiasa kok dengan omelan sahabat karibnya itu. Jadi mau selama apapun Freya mengomel telinganya tidak akan terasa panas.)

“Ya maap, kan gue pengen menikmati minggu pagi yang  cerah dengan suara indah mereka sekalian naikin good mood. Lagian tumben pakek ketok pintu segala biasanya asal nyelonong masuk ga pakek salam ga pakek pemberitahuan kayak tuyul.”

“Tuyul lu bilang ?! Cantik begini lu bilang gue tuyul ?! Wah tega bener lu sama temen sendiri, sakit hati gue Aii. Lagian salah mulu gue, nyelonong masuk diomelin pakek sopan santun ketok pintu dulu di tumbenin.”

“Dah lah serah lu Frey, by the way kesambet apa pagi-pagi udah kesini biasanya masih nempel dikasur ?”

“Amnesia lu ? hari ini pengumuman beasiswa S2 Neo Academy bego.”

“Lah ? Bukannya masih minggu depan ?”

“Bego beneran ternyata, gemes banget gue sama lo. Diliat noh kalender yang udah lu tandain gede-gede sama dokumen aplikasi yang lu kirim. tanggal pengumumannya itu hari ini saudari Valerie Aileen . Makanya gue kesini pagi-pagi biar buka pengumumannya bareng sama lo.”

“Eh beneran ? Jam berapa pengumumannya ? Jam 10 kan ? Bentar gue mandi dulu bentarr.”

“Pantesan, kamar ni baunya kayak bunga bakung, asalnya dari lu ternyata.”

“Bodo amat.”

___

“Udah log-in ke websitenya kan lo Frey ?”

“Udah, aduh dag dig dug banget gueee.”

“Dihitungan ke 3 ya, pencet bareng-bareng tombol ceknya.”

“Satu…”

“Dua…”

“Tiga…”

”....”

”....”

“AAAAAAAA GUE LOLOS FREYYY”

“AAAA GUEE JUGAAA LOLOSSS”

Begitulah teriakan histeris yang keluar dari keduanya, kemudian disusul dengan pelukan ala-ala teletubbies.

“Gimana dek ? lolos aplikasi beasiswanya ?” Sesosok wanita paling cantik dan paling aileen sayang tiba-tiba berdiri di belakang pintu sembari tersenyum teduh melihat keduanya. Iya, itu bunda.

“Eh bunda, iyaaa bund Aii lolos ini bundd huhuhu”

“Alhamdulillah, terus dek Freya gimana? Lolos juga kan ?”

“Iya dong mii, Freya gitu loh urusan gini mah kecil.”

“Alah lagak lu sok iye benerrr.”

“Sudah-sudah kalian ini kalau ketemu kayak Tom and Jerry kalau ga ketemu nangis-nangis. Habis ini turun kebawah ya, kita makan besar sekalian ngerayain. Oke ?”

“Siap mamiku cantik.”

Sekedar informasi, freya memang lengket dengan Bunda sedari dulu dan  'mami cantik' adalah panggilan khusus yang diberikan Freya kepada Bunda, Bunda tentu tidak keberatan dan senang sekali setiap Freya mampir kerumah. Alasannya sederhana, Freya itu selalu ceria dan cerewet ketika bertemu dengan Bunda. Apa saja bisa dibicarakan dari a-z, berbeda dengan Aileen yang cenderung memfilter topik yang akan diceritakan dengan Bunda. Bukan, bukannya Aileen tidak mau bercerita, hanya saja terkadang dia merasa itu bukan hal yang terlalu penting untuk dibahas dengan Bunda.

“Aaaa kita ke Korea Linnnn”

“Akhirnya wish list kita berdua kesampaian huhuhu”

Perasaan bahagia dan excited membuncah dihati keduanya, tidak sabar merasakan bagaimana serunya berkuliah di luar negeri.

'Pasti seru'