Married With My Bestfriend bagian tujuh belas

Pendar hangat dari sang surya yang menerobos masuk melalui jendela ruang keluarga, turut menemani ketiga manusia yang asik dengan aktivitas yang mereka lakukan. Lukas, Aruna, dan si kecil Arka sedang menikmati bersantai di minggu pagi yang tentram.

Mereka berkumpul setelah Aruna dan Lukas selesai dengan sesi sarapan bersama yang sudah lama tak terlaksana. Seperti biasa, jika di hari libur seperti ini, ruang keluarga akan Lukas sulap menjadi ruang bersantai. Mereka akan sama-sama merebahkan diri di Kasur lantai berukuran besar yang digelar oleh satu-satunya laki-laki yang ada di rumah ini.

Di ruangan itu terlihat Lukas yang fokus bermain PS 5 sementara Aruna yang sibuk bermain dengan Arka. Jika dulu Aruna akan lebih memilih menyelesaikan berbagai rancangan gaun di hari libur, namun sekarang hal itu sudah tidak berlaku lagi. Belakangan ini ia sangat menikmati menghabiskan waktu untuk bersantai, entah bermain dengan Arka seharian—apalagi saat ini Arka mulai aktif mengoceh—atau sekedar mengobrol santai dengan Lukas. Jadi, selama dia sakit seminggu belakangan, Aruna benar-benar merasakan kesepian.

“Aaaahh.” Itu suara Arka yang berteriak senang karena dibacakan buku bergambar hewan-hewan oleh Aruna. Iya, Aruna memang sering membacakan Arka buku cerita bayi hingga Lukas harus merelakan sebagian buku favoritnya dipindahkan ke rak lain dan diganti dengan koleksi buku milik Arka.

“Liv, gue kepikiran sesuatu dari beberapa hari yang lalu.” Lukas yang sedari tadi fokus bermain game sepakbola favoritnya tiba-tiba saja mengatakan hal tersebut. Ia jeda permainan itu dan merubah posisi badannya duduk sempurna menghadap Aruna.

“Apaan?” tanya Aruna penasaran.

“Lo udah bilang ortu lo masalah Arka? Liv?” Hening kemudian. Tak ada jawaban yang Aruna lontarkan atas pertanyaan yang diberikan oleh Lukas. Kepala pintarnya tiba-tiba kosong hingga menyebabkan Aruna tak mendapat jawaban. Ia menundukkan kepalanya, melihat wajah Arka yang tersenyum manis berseri-seri menatap dirinya.

“Belum Kas, gue nggak ta–”

“LUKAS?! ITU ANAK SIAPA?!” Belum sempat Aruna selesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja suara melengking dari seorang perempuan menginterupsi perbincangan serius antar keduanya. Spontan keduanya membelalakan mata dan berdiri tegap saat mengetahui siapa orang tersebut.

“ITU CUCU MAMA?! KAMU NIKAH DIEM-DIEM SAMA ARUNA TERUS PUNYA ANAK?! APA GIMANA?!” Iya, beliau adalah Mama Lukas yang datang berkunjung. Mama Lukas tidak terlalu sering berkunjung, hanya sesekali, dikarenakan beliau yang lebih memilih tinggal di Bogor. Maka dari itu, biasanya dia akan memberi kabar jika hendak datang. Namun mungkin kali ini beliau memiliki ide untuk memberikan kejutan kepada anak laki-lakinya, hingga terjadi kejadian seperti ini.

“Ma, bukan gitu, Lukas jelas–” Kali ini kalimat Lukas yang ganti terpotong oleh suara tangisan kencang Arka. Bayi itu reflek menangis karena kaget mendengar suara orang berteriak tiba-tiba. Aruna yang melihat itu langsung menggendong Arka dengan harapan bayi itu bisa segera tenang.

“Liv, bawa Arka ke kamar. Tenangin dulu, kasian dia kaget,” ucap Lukas sembari menatap Aruna. Yang ditatap, kembali menatap dengan raut ragu-ragu dan khawatir, tidak yakin meninggalkan Lukas sendirian di tengah situasi genting seperti ini.

“Udah sana Liv, gapapa, ga usah khawatir. Nanti kalo Arka udah tenang baru lo balik lagi kesini.” Mendengar penuturan Lukas, maka Aruna pamit mengundurkan diri dari hadapan Lukas dan Mamanya dan langsung menuju kamar Arka.

“Jadi namanya Arka ya? Udah berapa bulan?”

“Ma! Mama itu bisa nggak sih nggak usah teriak? Kasian kan anaknya jadi nangis gara-gara kaget denger suara cempreng Mama.” Bukannya menjawab pertanyaan sang Mama, Lukas malah ganti mengomel. Jujur saja, Lukas sendiri kaget hingga terlonjak saat mendengar teriakan Mamanya apalagi Arka yang tidak terbiasa mendengar suara kencang? Jadi jangan salahkan Lukas jika ia bersikap seperti ini.

“Ya gimana Mama nggak teriak? Mama kesini tujuannya pengen ketemu kamu, eh malah dapet surprise kayak gitu. Untung Mama nggak sampai jantungan ngeliatnya,” timpal wanita itu dengan santai.

“Mama tunggu di dapur, Mama mau denger penjelasan kamu sama Aruna.” Tanpa mendengar jawaban Lukas, perempuan paruh baya itu langsung melangkahkan kaki melenggang meninggalkan ruang tengah. Sementara Lukas, sibuk mengacak-ngacak rambutnya dengan frustasi.


“Ma, kan udah dijelasin tadi, Arka itu bukan anak Lukas sama Oliv. Mama kenapa ngeyel terus sih besok minta silaturahmi ke rumahnya Oliv?” Sesi perdebatan ini sudah terjadi cukup lama hingga membuat energi Lukas mulai terkuras karena menahan emosi.

Bagaimana tidak? Setelah menjelaskan dengan detail mengenai semuanya tiba-tiba saja Sang Ibunda meminta Aruna untuk menghubungi keluarganya yang ada di Bandung untuk bersiap-siap karena keluarga Lukas akan pergi silaturahmi kesana, besok. Lukas heran dan kesal kenapa Mamanya itu sangat memaksa untuk pergi kesana, yang Lukas yakini pasti ada maksud lain dari hanya sekedar silaturahmi.

“Ya kenapa sih? Salah emangnya? Lagipula ya Kas, kamu ini sama Aruna udah tinggal bareng satu rumah tapi statusnya nggak jelas begini. Pamali. Udah ah Mama nggak nerima penolakan, pokoknya besok kesana titik. Oh ya Aruna, habis ini tolong bawa Arka ke kamar Mama ya, Mama mau gendong calon cucu. Terus jangan lupa kabarin orang tua kamu,” ucap sang Mama final dan langsung pergi meninggalkan dua manusia dewasa yang duduk dengan lesu.

“Arggh kenapa jadi kacau gini sihh!!” Erangan frustasi itu berasal dari Lukas, kepalanya serasa mau pecah saat ini. Harusnya tidak seperti ini kejadiannya, sebenarnya dari semalam Lukas sudah mulai memikirkan alur yang tepat mengenai cara memberitahu keluarganya dan keluarga Aruna mengenai Arka dan situasi mereka berdua. Tapi ternyata rencana hanyalah rencana, dan semua terjadi di luar kendalinya.

“Udah Kas gapapa, ga usah lo bawa pusing. Kalau emang Mama lo mintanya begitu ya udah turutin aja. Lagipula yang penting Mama lo bisa nerima Arka. Udah ya gapapa,” ucap Aruna seraya mengelus pundak Lukas berusaha menenangkan. Sejak tadi yang dilakukan Aruna hanyalah diam dan mendengarkan. Dia akan mengatakan sekenanya jika memang diperlukan. Aruna sudah memasrahkan diri akan nasibnya saat tiba-tiba Mama Lukas datang kesini. Pada awalnya, Aruna menduga bahwa ia dan Arka akan mendapatkan umpatan dan caci maki karena berani menumpang dan tinggal di rumah Lukas, tapi ternyata ia salah. Mama Lukas cukup santai saat mendengarkan penjelasan mereka berdua bahkan tidak memberikan tatapan curiga sama sekali.

“Tapi Liv, reaksi keluarga lo bakal gimana kalau tahu tiba-tiba keluarga gue mau kesana? Anjir, bukan kayak gini rencana gue.”

“Udah tenang aja, itu urusan gue. Lo sekarang istirahat sana deh atau ngapain kek. Gue mau ambil Arka terus ke kamar Mama lo dulu ya, bye.” Tak ingin membuat Mama Lukas menunggu lama, Aruna lekas meninggalkan ruang makan dan bergegas menuju ke kamar Arka. Namun saat ditengah jalan dia berhenti mendadak karena mengingat sesuatu.

“Tadi Mamanya Lukas kok tahu nama gue Aruna? Padahal kan gue belum pernah ketemu??” begitulah pertanyaan yang ada di batinnya.