
Benarkah?
Hujan mengguyur daratan kota Seoul sore hari ini, cukup deras hingga menyebabkan para manusia memilih untuk berdiam diri di dalam kediaman mereka masing-masing. Begitupun Aileen, ia sekarang sedang berada di ruang tamu apartemennya yang nyaman sembari menelpon Bunda. Di tengah-tengah keasyikannya berceloteh dengan Bunda, tiba-tiba seseorang mendobrak masuk ke apartemennya.
BRAK
“AILENNN, NGAKU LO! SEMALEM DAPET FOTO MARCEL DARIMANA?!!” Suara itu berasal dari pintu yang terbanting dengan keras disusul suara teriakan seseorang yang tak asing bagi Aileen. Pelaku utamanya tidak lain dan tidak bukan adalah ‘tuyul kesayangannya'—panggilan khusus untuk Freya jika bertingkah seperti ini. Aileen kaget bukan main, jantungnya hampir saja merosot ke perut, ponselnya juga sampai melayang ke udara dan jatuh entah kemana.
“Frey itu lama-lama pintu apart gua rusak yaampunnnn, nanti kalau apart gua nggak ada pintunya gimana coba?!” seru Aileen. “Ya nggak gimana-gimana. Kalau pintu apart lo rusak, tinggal pindah ke apart gua. Tinggal bareng. Gitu aja susah amat,” balas Freya. Cuek dan enteng sekali bukan jawabannya? Memang begitulah seorang Freya, omong-omong mereka berdua memang tinggal di unit apartemen yang berbeda. Alasannya karena Aileen ingin mendapat ketenangan hidup dan agar perabotan apartemennya tidak cepat rusak—dari tingkah laku Freya yang grasah-grusuh—padahal, Freya sudah memohon-mohon hingga berguling-guling dilantai bahkan Bunda ikut turun tangan membujuk Aileen agar mau tinggal bersama Freya. Tapi sekali Aileen mengatakan “Tidak” ya tetap “Tidak”.
“Halo dek, itu siapa yang dobrak pintu apart kamu? Halo? Halo?” Mendengar suara pintu yang terbanting dan teriakan keras tentu membuat Bunda khawatir bukan main, takut-takut jika ada orang asing yang berniat mencelakakan putri semata wayangnya. Karena suara bunda yang terdengar begitu khawatir dari pengeras suara ponselnya, membuat Aileen langsung memusatkan atensinya mencari benda pipih itu—yang ternyata jatuh kebawah kolong sofa.
“Halo Bun? Maaf tadi hpnya jatuh ke kolong. Itu tadi Freya kok Bun, anaknya nggak sengaja buka pintu pakai tenaga dalam makanya jadi kebanting, jangan khawatir ya Bun.” “Eh lin, itu Mami?” Mendengar Aileen menyebut kata ‘Bunda’ spontan Freya melemparkan pertanyaan, meminta konfirmasi apakah benar yang sedang berada di sambungan telepon adalah Mami cantiknya atau bukan.
“Iya gua teleponan sama Bunda, kenapa?” Tanpa aba-aba Freya langsung menyambar handphone Aileen dan menyerobot ingin mengobrol dengan Bunda, Aileen hanya bisa menghela nafas dan memanjangkan sabar. Memahami bahwa manusia sejenis Freya ini tidak ada duplikatnya. Cerah, wajah Freya terlihat sangat cerah selama ia mengobrol dengan Bunda. Freya menceritakan banyak hal mengenai kegiatan yang sudah ia dan Aileen lakukan selama berada di Korea. Sementara Aileen sendiri hanya diam mendengarkan, seraya menyunggingkan senyum melihat interaksi diantara keduanya. Dirinya bersyukur, atas kehadiran Freya di kehidupannya dan Bunda yang kosong, sehingga ia tidak merasakan sepi. Aileen biarkan Freya mengobrol dengan Bunda sampai puas, mungkin dengan mendengar ocehan Freya Bunda bisa terhibur. “Okedeh Mami, Freya tutup telponnya ya? Kalo kangen sama Freya, langsung telpon Freya aja. Dadah mamiii, lopyuuuu.”
Tut
Bunyi itu menjadi penanda terputusnya telpon antar keduanya, segera Freya letakkan handphone Aileen di meja kecil yang ada di depan mereka kemudian ia ubah posisi duduknya menghadap Aileen sepenuhnya dengan menampilkan ekspresi serius. Seketika suhu udara yang melingkupi keduanya turun ke titik terendah.
“Kenapa Frey? Lo kok mendadak serius gini?” cicit Aileen, jujur saja bulu kuduknya mulai meremang sekarang. “Semalem foto Marcel yang lo tweet dapet darimana?” tanya Freya penuh selidik. Ah ternyata perihal itu yang ingin Freya bahas, semalam memang Aileen sudah berjanji kepada Freya bahwa hari ini ia akan bercerita mengenai asal mula dirinya bisa mendapatkan foto Marcel itu.
“Oke, gua certain dari awal. Tapi disclaimer dulu, gue nggak ada maksud buat sembunyiin ini dari lo. Gue cuma masih ragu-ragu, makanya belum cerita. Jadi awal kejadiannya itu gini….” Aileen uraikan semua kejadian dari awal hingga akhir secara runtut, taklupa ia tunjukkan semua percakapan yang terjadi diantara dirinya dengan Marcel baik di dm twitter maupun i-messages. Tak ada yang terlewat dan tak ada yang ditutup-tutupi, toh dirinya bercerita kepada sahabatnya sendiri.
Hingga Aileen selesai bercerita Freya masih dalam posisi diam seperti patung. Kepalanya masih memproses segala penuturan dari Aileen serta sedang berada di persimpangan antara haruskah ia percaya atau tidak. Bukan, bukannya Freya meragukan Aileen, namun karguannya lebih mengarah kepada apakah yang menghubungi Aileen benarlah seorang Henry Marcel? Kemudian sebersit pertanyaan lain terlintas di kepalanya.
“Lin kalau dipikir-pikir nih ya, di sini gua ngomongnya Marcel sebagai cowok ya bukan sebagai idol terus gua anggep itu beneran Marcel walaupun gua masih nggak percaya sih, kayaknya dia nggak sekedar iseng deh ngechat lo. I mean kayakya dia punya interest deh sama lo.” Jika berpikir menggunakan logika pada umumnya, tingkah kaum adam yang seperti itu menunjukkan tanda-tanda sedang melakukan pendekatan bukan? Iya, Freya yakin seratus persen tanpa koma.
Mendengar penuturan Freya barusan ada secuil bagian dari otak Aileen yang mengatakan 'ya, mungkin bisa jadi seperti itu', tapi disisi lain sebagian besar otaknya mengatakan hal yang sebaliknya. 'Ah nggak mungkin, Henry Marcel yang seorang bintang besar yang dielu-elukan dan diidam-idamkan oleh beribu-ribu orang memiliki ketertarikan kepadanya yang hanya seorang…, Aileen? Iya, seorang Valeri Aileen yang biasa saja dan hanya memiliki dunianya yang kecil'.
Menurut Aileen pernyataan kedua yang dibuat oleh otaknya lebih logis dan terasa lebih pas dengan kenyataan, memangnya siapa dia? Kasta dimana Aileen berpijak dan kasta dimana Marcel berada sangat berbeda jauh, bagai langit dan bumi. Jadi Aileen sangat amat sadar dengan posisinya disini. ‘Jangan mimpi dan halu terlalu tinggi, ingat posisimu yang hanya sebagai fans biasa, Aileen’ Kalimat itu sudah menancap di kepalanya sejak lama.
“Nggak ah Frey, gua yakin deh Marcel nge-chat gua dari kemarin emang karena dia butuh teman ngobrol aja atau mungkin nanti bisa aja dia ngehubungin gua buat tanya pendapat mengenai cewek? Lagipula gua sadar posisi Frey, kita ini cuma fans yang peran utamanya ngedukung mereka dan nggak lebih.” Hahhh..., Freya hanya menghela nafas, paham dengan jalan berpikir Aileen yang mencoba untuk sadar posisi, tapi dia juga begitu yakin dengan opininya mengenai Marcel yang kelihatannya ingin menjadi lebih dari sekedar teman dengan Aileen.
Jika opini Freya memang benar-benar sebuah fakta, maka menyadarkan Aileen untuk tidak denial adalah suatu pekerjaan yang sulit dan akan membutuhkan waktu yang lama—karena tingkat keras kepala seorang Aileen melebihi kerasnya batu—jadi daripada Freya berdebat dengan Aileen sekarang, ia lebih memilih mengalah dan melihat situasi dan kondisi kedepannya apakah opininya akan benar-benar terjadi atau hanya akan tetap menjadi sekedar opini.
“Ya udah kalau begitu, awas lu kalau besok-besok nggak mau cerita sampek harus gua todong kayak begini. Gua gibeng beneran.” “Iyaaa gua bakal update terus ke lo kalau emang ada yang harus di update. Selain itu, lo pantau aja bales-balesan gue di twitter, kalau perlu akun gue lo bawa aja sekalian.” Daripada ribet kedepannya, jika Freya benar-benar meminta akun twitternya maka dengan ikhlas akan Aileen berikan, toh twitter nya juga bersih tidak ada hal-hal yang mencurigakan di sana. “Oke gua tagih nanti, kalau gitu ayo makan, tapi lo yang harus traktir. Salah sendiri main petak umpet sama gua, itung-itung permohonan maaf.”
“Cih, bilang aja lo lagi miskin makanya minta ditraktir.” Akhirnya Aileen dapat bernafas lega, lega karena Freya tidak membombardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang dapat membuat Aileen pusing tujuh keliling juga lega karena Freya tidak mengajaknya berdebat. Jika seperti ini berarti asumsi Aileen benar adanya, kan?
but who knows? we don't know how the universe works, do we?