Pagi yang Normal

Pagi yang Normal

Definisi pagi yang normal dan indah menurut Marcel adalah ketika matahari menyapa dengan indah dari ufuk timur, udara yang masih terasa segar memenuhi relung dadanya, ditemani dengan segelas teh chamomile  hangat sembari duduk di balkon apartemen, dan diiringi dengan suara latar yang indah; berupa omelan dari Reynard yang berusaha membangunkan Hayza,  teriakan frustasi Nathan untuk Zavier agar menjauh dari area dapur, dan Ceilo yang adu pendapat dengan Kenzi mengenai hal-hal yang remeh. Sebentar... seperti nya ada yang salah disini, bukan ? Bagaimana mungkin mendengar orang mengomel, berteriak, dan adu pendapat dipagi hari bisa dikatakan cara yang indah untuk memulai hari ? Tapi begitulah menurut Marcel.

Mau ditanya berulang kali pun, Marcel akan menjawab dengan jawaban yang sama. Lalu apakah Marcel tidak sakit kepala jika harus dihadapkan dengan keadaan seperti itu berulang kali ? Kalau boleh jujur, tentu saja. Apalagi saat awal-awal mereka hidup di satu atap yang sama. Namun, setelah mencoba memahami, marcel tahu, begitulah cara mereka menunjukkan kasih sayang.

Pagi ini pun tidak jauh berbeda dari yang biasanya, suara Reynard yang terdengar dari kamar Hayza berusaha membangungkan sang empunya kamar yang susah sekali dibangunkan—padahal mereka sedang diburu waktu. Sebenarnya sebelum Reynard mengomel, mereka semua sudah bergantian berusaha membangunkan Hayza. Tetapi memang karena kadar kebo anak itu yang sudah kronis, pada akhirnya membuat Reynard turun tangan juga.

“Ini beneran ya di hitungan ke 3 lo ga bangun, gua ambilin air se-ember biar sekalian lo mandi dikasur.” pada titik ini Reynard sudah mulai menyerah mencari cara untuk membangunkan manusia satu ini. Kalaupun Hayza tidak segera bangun, dia benar-benar akan menyiram anak itu dengan air dingin. Persetan dengan kasur Hayza yang akan basah kuyup, dia tidak main-main. Catat itu.

“5 menit lagi plis, kasurnya enak banget.”

“Satu...”

”...”

“Dua...”

”...”

“Tiga”

“…”

“Oke siap-siap berenang diatas kasur.”** ketika baru saja akan membalikkan badan untuk pergi mengambil air, Hayza spontan bangun dari posisinya yang nyaman. **“Ahhh iya-iya ini udah bangun, udah melek ini.” Katanya, padahal netranya masih merem melek menahan kantuk.

“Sini lo, ikut gua.” melihat hal itu, Reynard tidak segan-segan langsung menyeretnya menuju kamar mandi dan memposisikan Hayza dibawah pancuran shower. Sudah bisa ditebak bukan adegan selanjutnya yang terjadi?

“Reyyyyy dingin banget airnya astaaagaaaa, basah semuaaaa ini bajunyaaa.” Betul, tubuh Hayza langsung dihujam dengan air shower kekuatan penuh yang airnya sedingin air es. Tentu saja Hayza terlonjak kaget, Hei, siapapun pasti akan kaget ketika berada di posisi Hayza, kan?

“Ya jelas basah lah bego orang dikamar mandi, apa gunanya kalo bukan buat mandi.”

“Ini dingin banget sumpahhh, kenapa nggak nyalain air anget sih, kan enakk.” Mendengar kalimat itu membuat Reynard jengkel bukan main, kalau membunuh orang bukan tidakan berdosa sudah pasti akan ia lakukan sekarang juga. Dikamar mandi ini. 

“Udah lah ga usah kebanyakan bacot, mandi 5 menit. Lebih dari 5 menit gua dobrak ini kamar mandi,” ujarnya sembari menutup pintu kamar mandi.

Di sisi lain, dapur pun tidak kalah berisiknya. Zavier yang berniat membantu Nathan menyiapkan sarapan agar cepat selesai sehingga mereka bisa segera sarapan, di tolak mentah-mentah. Bahkan Nathan memberikan jarak aman untuk Zavier berdiri dari dirinya, sebesar 1,5 meter. Bukan tanpa alasan Nathan menolak bantuan anak itu, jika Zavier dibiarkan membantu yang terjadi nanti malah mereka tidak bisa segera sarapan dan dapur akan semakin terlihat berantakan. Jadi untuk keamanan dan kebaikan bersama, ini keputusan yang paling tepat. Kata Nathan, Zavier cukup diberikan peran menata meja makan itu sudah membantu.

“Pier ini sandwich nya taruh sana, udah jadi.”

“Oke Abang.”

“Ini buah nya di taruh sana juga, ditata yang cantik.”

“Oke Abang.”

“Ini minumnya juga bawa kesana, pelan-pelan. Hati-hati bawanya jangan sampek tumpah jangan sampek jatuh.”

“Oke abang.”

Yah seperti itulah kegiatan mereka berdua menyiapkan sarapan, Vier yang hanya melakukan tugas menata sarapan di meja makan saja bisa membuat Nathan sebawel dan sekhawatir itu, apalagi kalau dibiarkan ikut memasak ? maka dari itu lebih baik biarkan Nathan menguasai dapur sendirian.

Sementara di ruang tamu, Ceilo dan Kenzi sedang melakukan perdebatan seru mengenai hewan apa yang lebih cocok untuk dipelihara jika tinggal di apartemen, apakah anjing ? atau kucing ? Namun tidak ada yang mengalah, keduanya  tetap teguh dengan pendirian masing-masing.  Ken yang merasa kucing lebih cocok untuk diperlihara di apartemen sementara Ceilo berpendapat tidak masalah jika memelihara anjing di apartement.

“Cil pelihara kucing tu lebih cocok buat di apartement, kayak kita begini. Lu ga perlu bingung- bingung harus ngajak kucing jalan-jalan. Beda kalo sama anjing, harus sering diajak jalan ke taman buat nge-habisin energi mereka.”

“ Justru itu bang Ken enaknya, lumayan kan bisa bikin kita keluar rumah sambil jalan-jalan santai, nggak kekunci di rumah terus.”

“Tapi anjing juga butuh space rumah yang luas biar mereka bisa bebas main. Kalau kucing nggak, terus ras anjing juga kadang berisik cil, kasian tetangga kalo keganggu.”

“Ya kalo gitu pilih ras nya yang kecil dan ga berisik dong bang kan ada.”

“Nggak ah tetep prefer kucing gue, nggak repot.”

“Bang ken mah ga seru, padahal anjing lebih pinter tau daripada kucing.”

Mendengarkan semua suara itu dari balkon membuat marcel hanya bisa tersenyum teduh sambil geleng–geleng kepala, gemas dengan tingkah mereka yang seperti itu. Ah, benar-benar pagi yang indah menurutnya. Ketika teh chamomilenya tinggal separuh gelas terdengar teriakan dari Zavier, “ABANGGG-ABANGGG CEPETAN KESINIII INI SARAPANNYA UDAH JADIIII.” Pertanda bahwa sarapan sudah siap. Dengan langkah gontai dan gelas dikuasanya, ia masuk ke dalam apartemen dan langsung menuju ke ruang makan. Netranya menangkap kehadiran semua adiknya sudah disana, duduk dengan tenang dan mulai menyantap sarapan. Memang bukan sarapan mewah yang disiapkan oleh Nathan tapi paling tidak cukup mengenyangkan. Ia pun ikut bergabung dengan mereka dan mulai mengunyah dengan tenang.

“Bang marcel nanti jadwalnya ngapain aja ? Vier lupa hehehe.”

“Nanti kita syuting reality show dulu sampek siang, terus habis makan siang kita fansign, lanjut habis makan malem diskusi sama manajer hyung sama agensi buat nyiapin album repacked.”

“Oke deh berarti nanti pulangnya bisa ga terlalu malem ya ?”

‘Ting’

Satu notifikasi masuk dan terpampang di layar utama handphone milik Marcel, itu pesan dari manajernya menanyakan apakah mereka bertujuh sudah siap untuk berangkat atau belum.

“Iya, makanya segera berangkat biar nanti bisa pulang cepet. Manajer hyung udah nanyain kita udah siap berangkat belom ini. Cepetan dikit makannya.”

Mendengar hal itu, dengan secepat kilat mereka menyelesaikan kegiatan sarapan dan bergegas berangkat menjalani kegiatan mereka hari ini.