Marcel Suka

Marcel Suka

Antrian panjang mengular memenuhi aula tempat diadakannya acara fansign album Seven Dreamer. Ada ratusan manusia yang sekarang sedang berdiri menunggu giliran agar bisa bertatap muka secara langsung dengan idola mereka, dan Aileen salah satu diantaranya. Aileen kesini tidak sendiri, ia bersama Freya yang saat ini sedang sibuk bercermin memastikan apakah penampilannya sudah sempurna atau belum. Kata Freya, ia harus tampil all out. Pun hari ini ia berperilaku sangat anggun nan lemah lembut, kontras dengan sikap Freya yang biasanya. “Cih jaga image banget dia” batin Aileen.

Kalau itu Freya, lalu bagaimana dengan Aileen sendiri? Jujur tak terlintas sedikitpun dikepalanya apa yang harus ia pakai, melihat gaun musim panas yang tergantung di lemari adalah pilihan terbaik menurut Aileen untuk menemui Marcel sore ini. Sorai perasaan gugup memenuhi seisi pikiran Aileen, gugup karena akhirnya bisa bertemu dengan Marcel secara langsung serta gugup memikirkan bagaimana impresi member Seven Dreamer ketika bertemu dengannya. Padahal, tadi waktu ia masih bertukar pesan dengan Marcel dirinya tidak segugup ini.

Semakin lama antrian di depannya semakin habis dan semakin terpangkas pula jarak antara Aileen berdiri dengan meja tempat para member berada. Sebenarnya sedari tadi Aileen menyadari kalau Marcel sempat beberapa kali mencuri pandang kepadanya, tapi tak ia pedulikan. Ia lebih memilih untuk menaruh perhatian kepada enam member lainnya sembari memikirkan kalimat apa yang harus ia sampaikan saat bertemu sapa nanti. Hingga tanpa disadari raga Aileen sudah berdiri tepat di depan Marcel yang memancarkan tatapan berbinar melihat kehadiran Aileen disini.

“Hai, long time no see Aileen.” Marcel yang lebih dahulu membuka percakapan, seraya mengangsurkan kuasanya untuk meraih album yang dibawa Aileen. Netra Marcel menangkap ada kegugupan yang sedang disembunyikan perempuan itu, melihatnya Marcel hanya bisa tertawa lirih, merasa gemas.

“Hai, yeah it's been awhile.”

“Akhirnya bisa ketemu di sini, ketemu langsung pula. Aileen gugup ya? Jangan gugup, santai aja sama Marcel. Ini bukan pertama kalinya Aileen ketemu Marcel kan?” Aileen hanya diam memandangi Marcel yang sibuk menorehkan entah apapun itu di albumnya sambil bercerita banyak hal—yang mana tak Aileen dengarkan. Diam-diam Aileen amati anak adam di depannya ini, mulai dari rambutnya yang baru di potong dengan gaya undercut, garis wajahnya yang tegas, iris kecoklatan yang selalu memberikan tatapan hangat, dan bibir yang sampai saat ini masih menampilkan senyum indah untuk dunia. “Tampan, sangat tampan.”

“Nih udah Marcel kasih kalimat khusus di album Aileen, habis ini Aileen bisa—Aileen? Kamu ngelamun? Haloo?” Marcel melambaikan tangannya di depan wajah Aileen yang diam tak berkedip. Pantas saja perempuan di depannya ini tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak tadi padahal Marcel sudah berbicara panjang lebar. Memangnya apa yang sedang Aileen pikirkan? Marcel ingin tahu, tapi simpan saja pertanyaan itu untuk nanti.

“Ahh iya maaf Marcel, tadi Marcel mau bilang apa?” Suara Marcel membuat Aileen kembali tersadar—Aileen merasa sepertinya tadi ia sempat terkena sihir entah darimana.

“Bukan hal yang penting kok, cuma mau bilang kalau Marcel senang bisa ketemu Aileen. But are you really okay?” Marcel mencoba memastikan, walaupun ia sudah tahu jawaban yang akan keluar dari bibir manis itu pasti frasa 'baik-baik saja'.

“I'm fine... i'm fine..., eh ini albumnya udah ya? Makasih Marcel, it's nice to see you. Semoga ketemu lagi, byeeee.” Setelah melontarkan kalimat itu buru-buru Aileen langkahkan kakinya untuk bergeser menemui member Seven Dreamer lainnya, sedikit malu karena tertangkap basah melamun menamati Marcel. Sebelum benar-benar berhadapan langsung dengan enam adik-adik Marcel, Aileen hembuskan nafasnya berusaha mengurangi rasa gugup dan khawatirnya. ‘here goes nothing.’


“Fyuhhh, akhirnya pantat gua ketemu kursi juga. Ternyata capek ya ikut fansign offline, bikin kaki pegel. Tapi enak sih bisa ngobrol langsung, lu sama mereka tadi ngobrol apa aja Lin?” Saat ini Aileen dan Freya sudah berpindah tempat ke salah satu café yang berada dekat dari venue acara fansign. Keduanya mampir untuk mendapatkan segelas matcha latte dan vanilla latte sembari mengistirahatkan kaki yang rasanya hampir lepas karena mengantri demi mendapatkan tanda tangan dari semua member.

“Ya biasa lah kayak umumnya Frey.” Kekhawatiran dan kegugupan Aileen mengenai reaksi keenam member Seven Dreamer ketika bertemu dirinya secara langsung benar-benar tidak terjadi. Kepalanya sempat memiliki asumsi bahwa para Member mempunyai impresi jelek kepadanya karena ia berani memulai sesuatu dengan Marcel. Nyatanya, ketika ia berhadapan langsung, mereka menyambut Aileen dengan baik. Terlebih Hayza, Nathan, dan Zavier yang menyapa dirinya seperti teman lama.

“Eh, tadi gua lihat lu sempat bengong ye pas ketemu Marcel? Nape lu? Mengagumi kalo Marcel ganteng?” “Emang Marcel ganteng kali Frey, btw lu tadi gimana ngobrol sama mereka? bahas apa aja?” Aileen alihkan topik pembicaraan dari hal yang menurutnya sedikit memalukan itu, untuk saat ini ia tidak ingin mengingatnya.

“Anjirr, lu tau? mereka tiap liat gua pasti langsung ngomong “temennya Aileen ya?” kecuali si Hayza, dia ngomong begini dong “gimana? seneng kan lo bisa ketemu gua?” terus, di album gua mereka pada nulis gua tau akun twiter lo, awas gua tandain lo kalo dilihat-lihat dari akun twitter lo, lo orangnya seru ya? mereka gitu pasti gara-gara liat tweet gue yang di qrt Marcel ya? Terus sekalian ngecek acc gue? Anjir malu gua.”

“Emangnya mereka nulis kayak begituan di album? gue kira cuma tanda tangan doang.”

“Lo belom liat punya lo? Liat gih Lin, nggak penasaran apa lo mereka nulis apa?” Maka setelahnya Aileen raih album miliknya yang berada di atas meja. Lembar demi lembar ia buka, belum menemukan apa yang Freya maksud. “Apa di halaman belakang sendiri ya?” pikirnya.

Benar saja, mereka menulis di halaman terakhir dan tulisan Marcel berada di bagian paling atas, ia baca baik-baik apa yang Marcel tuliskan dihalaman itu.

Blush

Terkejut setelah membaca apa yang tertulis di halaman yang sedang ia buka, sontak Aileen metutup albumnya dan Aileen masukkan kedalam tas. Pipinya langsung memerah hingga ketelinga, respon alami atas apa yang barusan ia baca.

“Heh, lu kenapa Lin? mereka nulis apaan sampek bikin lo kayak kepiting rebus begini? Siniin album lo, gua mau baca.” “Nggak usah nggak usah nggak perluuu, yang ada nanti lo makin ngeledek guaaaa.”

Apa yang marcel tulis tidak panjang, hanya beberapa baris, tapi beberapa baris itu memberikan dampak yang tidak baik untuk Aileen.

Halo cantik, akhirnya bisa ketemu langsung ya. Walaupun tadi cuma sebentar, tapi Marcel udah ngerasa puas bisa lihat Aileen. By the way, cantiknya Marcel kelihatan makin cantik pakai dress itu. Marcel suka.

Siapapun tolong bantu Aileen mencari tempat yang cocok untuk bersembunyi sekarang.