
Nggak Salah Dengar, kan?
“Halo? Marcel? Kok diem aja?” Setelah 5 detik dipenuhi kesunyian, suara lembut Aileen terdengar memenuhi rungu Marcel. Memang mereka tadi sempat saling diam akibat tidak tahu harus membuka ruang obrolan darimana, hingga Aileen yang berinisiatif untuk memecah keheningan yang terjadi.
“Maaf Ai, habisnya bingung mau ngomong apa hehehe.” “Katanya tadi pengen telpon? Pengen ngobrol? Hayuk ngobrol kalau gitu... Eh Marcel udah di rumah emangnya?” “Udah, ini lagi nyantai di balkon sekalian cari angin. Aileen lagi ngapain? Nggak lagi nugas kah?” Untungnya jadwal Marcel hari ini selesai tidak terlalu larut, sehingga keinginanya mengobrol dengan Aileen melalui sambungan telepon di balkon apartemen sembari ditemani segelas teh chamomile hangat bisa terlaksana.
“Nggak, udah selesai kok. Ngapain malem-malem diluar? Angin malem tu nggak baik buat badan, nanti sakit loh Cel.” “Iyaa habis ini masuk ke kamar, jangan khawatir... Oh iya Ai kamu tadi waktu di fansign kenapa ngelamun kayak gitu? Ada masalah yang ganggu kamu?” Rasa penasaran yang Marcel simpan sedari tadi akhirnya tersuarakan, tapi lagi-lagi keheningan yang kembali mengisi. Marcel setia diam, tak ingin memburu-buru Aileen untuk menjawab, mungkin Aileen sedang berpikir haruskah ia bercerita kepadanya atau tidak—pikir Marcel. Seraya menunggu, Marcel teguk teh chamomile favoritnya dan tiba-tiba saja pikiran randomnya menemukan persamaan yang ada antara Aileen dan teh chamomile. Selain memiliki persamaan sebagai favorit Marcel, keduanya juga memiliki rasa yang sama—menenangkan, manis, dan hangat—bedanya teh chamomile merajai indra pengecapnya, sementara Aileen merajai kepala dan ruang di hatinya. Jiakh gombal.
Di tengah-tengah kegiatannya menikmati teh, Aileen memberikan jawaban diluar ekspektasi Marcel. “Hehe, tadi cuma lagi namatin Marcel aja, kamu ganteng banget soalnya.”
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Terkejut mendengar jawaban Ailen refleks Marcel terbatuk-batuk karena tersedak, bagaimana bisa Aileen melontarkan jawaban seperti itu dengan santainya? Telinga Marcel tidak salah dengar kan?
“Ehhh kamu kenapa Cel batuk-batuk kayak gitu? Flu?” Diseberang sana Aileen khawatir mendengar suara batuk Marcel yang mengerikan, padahal seingatnya sewaktu mereka bertemu tadi Marcel kelihatan sehat dan segar bugar.
“You what?!” Tanpa sadar suara Marcel meninggi dengan ekspresi terkejut tanpa dibuat-buat, masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar. “Apa cel?”
“What did you just said?!”
“Emm, tadi aku tanya kamu kenapa batuk-batuk gitu? Flu?”
“Nooooooo, the one before that. What do you mean by saying that?!” 'Ini dia kenapa tiba-tiba jadi lemot begini?! Dia ini emang nggak ngerti maksud gue apa kelewat polos sih?!' begitulah jeritan hati kecil Marcel yang gregetan dengan Aileen karena mendadak menjadi selambat siput menangkap maksud Marcel.
“Oooo yang ituuu… Tadi aku cuma namatin kamu, kamu ganteng banget soalnya. Kenapa? Ada yang salah ya aku bilang gitu?” Baiklah, berarti telinga Marcel memang tidak salah mendengar, dari sini Marcel tandai sifat unik Aileen yang menjadi pemalu ketika bertemu langsung tapi akan menjadi blak-blak an dan kelewat polos saat tidak bertemu langsung. Sungguh unik gadisnya ini... Eh? Gadisnya? Ah entahlah, tidak ingin memusingkan hal yang tidak penting Marcel memilih untuk kembali fokus kepada tujuannya menelpon Aileen. Ada hal yang lebih penting yang harus ia sampaikan sekarang.
“Nggak, nggak ada yang salah. By the way Ai, kamu weekend ini sibuk nggak?” “Paling Cuma jalan-jalan sama Freya atau kalau mager mungkin cuma di Apartemen aja. Kenapa Marcel?” “Kebetulan weekend ini aku sama anak-anak mau staycation di villa yang ada di Gapyeong, kami mau ngajak kamu sama Freya ikut. Kamu mau kan Ai?” Setelah tadi Marcel yang meragukan kemampuan pendengarannya, kini Aileen juga ikut melakukan hal yang sama. Ada banyak pertanyaan yang terlintas di kepala saat Aileen mendengar pertanyaan itu, mereka bertujuh mau mengajak Aileen dan Freya yang notabene fans sekaligus orang asing untuk ikut liburan? Yang benar saja?! Aileen benar-benar tidak habis pikir saat ini.
“Ini beneran? Jangan-jangan ini prank? Kamu jangan bercanda deh” “Serius, ini 100 persen beneran, bahkan Vier yang nyaranin buat ngajak kalian berdua ikutan. Katanya bakalan enak dan lebih seru kalau ngajak kalian, Vier dari tadi udah ribut sendiri ngerayu kami ber enam buat ngajak kalian liburan. Jadi ikut ya Ai? Please?”