<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>Royals Melody</title>
    <link>https://royals-melody.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Fri, 03 Apr 2026 22:56:41 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Baru</title>
      <link>https://royals-melody.writeas.com/tradisi?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sesuai kesepakatan antara Erlang dan Laras tadi malam, mereka akan berangkat ke kampus bersama hari ini. Senyumnya bahkan sudah merekah sejak ia membuka kelopak matanya, ia tak sabar. Maka Laras buru-buru menyelesaikan segala persiapannya, bahkan ia hanya menghabiskan waktu sekitar tujuh menit untuk menyelesaikan sarapannya—ia bahkan kena tegur dari keluarganya karena makan seperti orang kesetanan. Maklum, gadis itu sangat bersemangat pagi ini. &#xA;&#xA;“Gue udah di perempatan Godean Ras, tunggu di depan.” Itu adalah bubble chat terakhir yang Erlang kirimkan kepadanya 15 menit yang lalu. Lantas Laras langsung membawa tubuhnya keluar rumah dan berdiri di depan pagar rumahnya sembari menenteng helm bogo kesayangannya, karena sebentar lagi laki-laki itu pasti akan tiba. &#xA;&#xA;Dari Laras berdiri, gadis itu melihat mobil HRV Turbo berwarna grey metallic mendekat dan berhenti tepat di depannya. Ia hanya geming di tempatnya dengan alis sedikit berjingkat, bertanya-tanya siapa tamu yang datang ke rumahnya sepagi ini?&#xA;&#xA;Ketika kaca jendela mobil itu turun sepenuhnya, laki-laki yang Laras tunggu ternyata ada disana.&#xA;&#xA;“Kenapa bengong? Ayo masuk,” ucap Erlang yang sedang duduk dibalik kemudi. &#xA;&#xA;“Ini… mobil siapa?” tanya Laras masih dengan raut sedikit bingung karena pertama kali melihat Erlang membawa mobil.&#xA;&#xA;Merasa gregetan dengan Laras yang masih setia berdiri di luar mobil miliknya, Erlang segera turun dan berjalan cepat menghampiri Laras. &#xA;&#xA;“Sesi interviewnya di dalem aja, buruan masuk ah.” Bak pria-pria gentle yang ada di dunia fiksi, kuasa Erlang, tanpa perlu diperintah, berinisiatif membukakan pintu mobil untuk sang gadis. Saat Laras sudah masuk sepenuhnya ke dalam mobil dan duduk dengan nyaman dan aman, Erlang segera menutup pintu itu dan berlari kecil memutari mobil dan kembali duduk di belakang kemudi. Lantas daksanya mulai menginjak gas dengan perlahan untuk berangkat menuju ke kampus. &#xA;---&#xA;Buat Kawula Muda yang lagi di jalan, tetap berhati-hati ya. Semoga selamat sampai kantor atau kampus atau sekolah. Nah, biar Kawula Muda nggak bete karena macet, gue mau ngasih satu lagu hits dari the first Indonesian women yang tampil di Coachella. Ini dia Every Summertime dari Niki.&#xA;&#xA;Begitulah sedikit cuplikan suara dari salah satu announcer radio yang sangat terkenal di kalangan para Kawula Muda yang dilanjutkan dengan suara merdu Niki menggema memenuhi ruang hening yang ada antara Laras dan Erlang. Bibir keduanya sama-sama tertutup rapat, tidak ada yang memulai pembicaraan sejak mereka meninggalkan perkarangan rumah Laras karena mereka fokus pada kegiatannya masing-masing. Erlang yang menaruh atensi sepenuhnya kepada jalanan yang ada didepannya, sementara sang gadis sibuk menatap sang pria dengan senyum jahil yang mengembang dari telinga ke telinga sambil bersedekap dada. &#xA;&#xA;“Kenapa? Seneng lo dijemput pake ginian?” Merasa sedikit risih dengan aktivitas yang Laras sedang lakukan, Erlang akhirnya membuka ruang obrolan antara keduanya. &#xA;&#xA;“Cieee cieeee mobilll baruuuuu. Pantesan dari jarak 1 kilo tadi udah keliatan kinclongnya. Dikasih sama abang sama papa ya??” timpal laras dengan ceria dan sedikit bercanda.&#xA;&#xA;“Hm hm, ya lo tau lah kebiasaan di keluarga gue kayak gimana Ras.”&#xA;&#xA;Mendengar jawaban dari lawan bicaranya, Laras menganggukkan kepala tanda menyetujui. Kemudian satu pertanyaan terlintas dipikirannya, “Terus selain ini, apa lagi? Nggak mungkin mobil doang kan yaa”&#xA;&#xA;Laras yang mengenal Erlang dan seluk beluk keluarganya cukup lama, sudah tidak kaget dan hafal dengan tradisi yang ada di keluarga laki-laki itu. Tradisi seperti ini salah satunya. Di keluarga Erlang, setiap ada anggota keluarga yang baru memasuki dunia perkuliahan, maka akan mendapat guyuran fresh money dengan nominal yang tidak tanggung-tanggung dari para saudara dan orangtuanya. Dan dana itu bebas digunakan untuk apa saja asal jelas dan tidak untuk hal buruk atau aneh-aneh. Jujur saja saat pertama kali Laras mengetahui tradisi ini, ia merasa sedikit iri dan sempat meminta Erlang untuk memungutnya sebagai saudara angkat—dan langsung ditolak secara mentah oleh pria itu. &#xA;&#xA;“Iya nggak, soalnya duitnya masih sisa banyak. Lo tahu kan Ras kalau gue nggak terlalu interest ke dunia otomotif. Makanya gue mikir sisanya gue invest-in aja sama beli properti. At least dengan begitu uang gue bisa muter.” Terang Erlang dengan santai. &#xA;&#xA;“Kerenn-kerennn, ilmu manajemen keuangan lo top markotop,” jawab Laras dengan dua jempol yang diangkat tinggi. &#xA;&#xA;“Wkwkwk, gue cuma berusaha maksimalin apa yang gue punya aja Ras.”&#xA;&#xA;“Hm hm, betewe lo juga mau dapet hadiah dari aku juga nggak Lang?” &#xA;Mendengar tawaran yang menarik dan kesempatan emas yang tak datang dua kali, Erlang dengan semangat menganggukkan kepalanya beberapa kali. &#xA;&#xA;“Oke, sini gantian aku aja yang nyetir.” Jawab perempuan itu dengan wajah tersenyum manis berbumbu sedikit ketengilan.&#xA;&#xA;“Oh, lo ceritanya mau gantian ngetreat gue gitu ya? Kayak couple-couple luar negeri gitu?” timpal Erlang tanpa merasa curiga sedikitpun dengan apa yang ada di kepala Laras.&#xA;&#xA;“Nggak.”&#xA;&#xA;“Kok nggak? Terus? Mau ngapain?”&#xA;&#xA;“Mau gue baretin biar tercetak memori tak terlupakan. Hahahahaha.”  Lantas pecah lah tawa nyaring Laras dan hembusan nafas panjang dari Erlang.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Sesuai kesepakatan antara Erlang dan Laras tadi malam, mereka akan berangkat ke kampus bersama hari ini. Senyumnya bahkan sudah merekah sejak ia membuka kelopak matanya, ia tak sabar. Maka Laras buru-buru menyelesaikan segala persiapannya, bahkan ia hanya menghabiskan waktu sekitar tujuh menit untuk menyelesaikan sarapannya—ia bahkan kena tegur dari keluarganya karena makan seperti orang kesetanan. Maklum, gadis itu sangat bersemangat pagi ini.</p>

<p>“Gue udah di perempatan Godean Ras, tunggu di depan.” Itu adalah bubble chat terakhir yang Erlang kirimkan kepadanya 15 menit yang lalu. Lantas Laras langsung membawa tubuhnya keluar rumah dan berdiri di depan pagar rumahnya sembari menenteng helm bogo kesayangannya, karena sebentar lagi laki-laki itu pasti akan tiba.</p>

<p>Dari Laras berdiri, gadis itu melihat mobil HRV Turbo berwarna grey metallic mendekat dan berhenti tepat di depannya. Ia hanya geming di tempatnya dengan alis sedikit berjingkat, bertanya-tanya siapa tamu yang datang ke rumahnya sepagi ini?</p>

<p>Ketika kaca jendela mobil itu turun sepenuhnya, laki-laki yang Laras tunggu ternyata ada disana.</p>

<p>“Kenapa bengong? Ayo masuk,” ucap Erlang yang sedang duduk dibalik kemudi.</p>

<p>“Ini… mobil siapa?” tanya Laras masih dengan raut sedikit bingung karena pertama kali melihat Erlang membawa mobil.</p>

<p>Merasa gregetan dengan Laras yang masih setia berdiri di luar mobil miliknya, Erlang segera turun dan berjalan cepat menghampiri Laras.</p>

<p>“Sesi interviewnya di dalem aja, buruan masuk ah.” Bak pria-pria gentle yang ada di dunia fiksi, kuasa Erlang, tanpa perlu diperintah, berinisiatif membukakan pintu mobil untuk sang gadis. Saat Laras sudah masuk sepenuhnya ke dalam mobil dan duduk dengan nyaman dan aman, Erlang segera menutup pintu itu dan berlari kecil memutari mobil dan kembali duduk di belakang kemudi. Lantas daksanya mulai menginjak gas dengan perlahan untuk berangkat menuju ke kampus.</p>

<hr/>

<p><em>Buat Kawula Muda yang lagi di jalan, tetap berhati-hati ya. Semoga selamat sampai kantor atau kampus atau sekolah. Nah, biar Kawula Muda nggak bete karena macet, gue mau ngasih satu lagu hits dari the first Indonesian women yang tampil di Coachella. Ini dia Every Summertime dari Niki.</em></p>

<p>Begitulah sedikit cuplikan suara dari salah satu announcer radio yang sangat terkenal di kalangan para Kawula Muda yang dilanjutkan dengan suara merdu Niki menggema memenuhi ruang hening yang ada antara Laras dan Erlang. Bibir keduanya sama-sama tertutup rapat, tidak ada yang memulai pembicaraan sejak mereka meninggalkan perkarangan rumah Laras karena mereka fokus pada kegiatannya masing-masing. Erlang yang menaruh atensi sepenuhnya kepada jalanan yang ada didepannya, sementara sang gadis sibuk menatap sang pria dengan senyum jahil yang mengembang dari telinga ke telinga sambil bersedekap dada.</p>

<p>“Kenapa? Seneng lo dijemput pake ginian?” Merasa sedikit risih dengan aktivitas yang Laras sedang lakukan, Erlang akhirnya membuka ruang obrolan antara keduanya.</p>

<p>“Cieee cieeee mobilll baruuuuu. Pantesan dari jarak 1 kilo tadi udah keliatan kinclongnya. Dikasih sama abang sama papa ya??” timpal laras dengan ceria dan sedikit bercanda.</p>

<p>“Hm hm, ya lo tau lah kebiasaan di keluarga gue kayak gimana Ras.”</p>

<p>Mendengar jawaban dari lawan bicaranya, Laras menganggukkan kepala tanda menyetujui. Kemudian satu pertanyaan terlintas dipikirannya, “Terus selain ini, apa lagi? Nggak mungkin mobil doang kan yaa”</p>

<p>Laras yang mengenal Erlang dan seluk beluk keluarganya cukup lama, sudah tidak kaget dan hafal dengan tradisi yang ada di keluarga laki-laki itu. Tradisi seperti ini salah satunya. Di keluarga Erlang, setiap ada anggota keluarga yang baru memasuki dunia perkuliahan, maka akan mendapat guyuran fresh money dengan nominal yang tidak tanggung-tanggung dari para saudara dan orangtuanya. Dan dana itu bebas digunakan untuk apa saja asal jelas dan tidak untuk hal buruk atau aneh-aneh. Jujur saja saat pertama kali Laras mengetahui tradisi ini, ia merasa sedikit iri dan sempat meminta Erlang untuk memungutnya sebagai saudara angkat—dan langsung ditolak secara mentah oleh pria itu.</p>

<p>“Iya nggak, soalnya duitnya masih sisa banyak. Lo tahu kan Ras kalau gue nggak terlalu interest ke dunia otomotif. Makanya gue mikir sisanya gue invest-in aja sama beli properti. At least dengan begitu uang gue bisa muter.” Terang Erlang dengan santai.</p>

<p>“Kerenn-kerennn, ilmu manajemen keuangan lo top markotop,” jawab Laras dengan dua jempol yang diangkat tinggi.</p>

<p>“Wkwkwk, gue cuma berusaha maksimalin apa yang gue punya aja Ras.”</p>

<p>“Hm hm, betewe lo juga mau dapet hadiah dari aku juga nggak Lang?”
Mendengar tawaran yang menarik dan kesempatan emas yang tak datang dua kali, Erlang dengan semangat menganggukkan kepalanya beberapa kali.</p>

<p>“Oke, sini gantian aku aja yang nyetir.” Jawab perempuan itu dengan wajah tersenyum manis berbumbu sedikit ketengilan.</p>

<p>“Oh, lo ceritanya mau gantian ngetreat gue gitu ya? Kayak couple-couple luar negeri gitu?” timpal Erlang tanpa merasa curiga sedikitpun dengan apa yang ada di kepala Laras.</p>

<p>“Nggak.”</p>

<p>“Kok nggak? Terus? Mau ngapain?”</p>

<p>“Mau gue baretin biar tercetak memori tak terlupakan. Hahahahaha.”  Lantas pecah lah tawa nyaring Laras dan hembusan nafas panjang dari Erlang.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://royals-melody.writeas.com/tradisi</guid>
      <pubDate>Mon, 15 Aug 2022 15:59:11 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>09. Akdas</title>
      <link>https://royals-melody.writeas.com/09?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Terhitung sudah empat jam sudut ruang di salah satu restoran cepat saji itu diisi oleh sepasang manusia berbeda jenis. Keduanya sama-sama sedang khidmat berkutat dengan segala angka dan buku yang berserakan dihadapan mereka. Bak sedang berada dalam mode do not disturb, dua sejoli itu sama sekali tidak merasa terganggu dengan lalu lalang pengunjung yang ada—padahal resto cepat saji yang terkenal dengan logo M di Jalan Kaliurang itu cukup ramai saat ini. Dari semua cabang yang ada di kota Yogyakarta, mereka memilih untuk datang kesini dengan alasan agar merasakan satu nasib dengan para customer yang ada. Bagaimana tidak senasib jika kebanyakan pembeli yang mengisi bangku kosong pada jam hampir tengah malam ini adalah para mahasiswa layaknya mereka berdua. &#xA;&#xA;Disebelah meja yang mereka gunakan, terlihat 2 cup mc flurry rasa oreo dan kemasan french fries yang telah keduanya lahap hingga tak bersisa. Antara kelaparan tapi tidak ingin menambah dosa timbangan yang sudah berat atau karena hanya ingin menumpang tempat sehingga membeli menu yang harganya tidak menguras dompet adalah pilihan yang tepat. Entahlah, hanya mereka dan tuhan yang tahu alasannya. &#xA;&#xA;“Ras gue udah nih.” Setelah dilanda keheningan cukup lama, akhirnya sang adam bersuara kembali terlebih dahulu. Itu Erlangga atau lebih sering dipanggil Erlang dilingkungan pertemanannya--termasuk Laras. Ide belajar ini diusulkan oleh Laras, karena esok keduanya harus menghadapi kuis mata kuliah akuntansi dasar. Bagi mahasiswa baru layaknya mereka berdua, kuis mata kuliah akuntansi dasar menjadi momok yang menyeramkan, apalagi saat mereka mendapat testimoni dari para kakak tingkat yang berkata untuk jangan berharap mendapatkan nilai yang tinggi pada kuis mata kuliah ini. Maka disinilah mereka sekarang, berusaha penuh memeras otak demi mendapat nilai yang cukup--tidak perlu tinggi, yang penting tidak memalukan--untuk kuis esok hari. &#xA;&#xA;“Bentarr, aku tinggal notal jumlahnya ini.” Mendengar Erlang mengatakan bahwa ia sudah selesai dengan pekerjaannya, jari lentik itu buru-buru menekan berbagai angka di kalkulator berwarna putih miliknya, kemudian angka sebesar 6.050 muncul di layar kecil alat hitung itu. Kemudian segera Laras tulis hasil yang ia dapat ke lembaran kertas folio di depannya.&#xA;&#xA;“Enam ribu lima puluh dolar… nah, udah balance, gumamnya diikuti senyum bangga karena berhasil mendapatkan hasil yang seimbang antara kolom kredit dan debit. Melihat tingkah Laras yang seperti itu, Erlang lantas tertawa kecil sembari bermonolog dalam hati, “kayak anak kecil, kalau nulis pake dieja”. &#xA;&#xA;“Udah?” tanyanya yang dijawab anggukan oleh si gadis. Kemudian kuasanya terulur untuk mengambil lembaran kertas milik Laras untuk selanjutnya ia bandingkan pekerjaan miliknya dengan milik Laras. Sementara Laras menanti dengan sedikit was-was. &#xA;&#xA;“Ini nanti kalau sampek salah lagi, udalah nyerah aku,” kata Laras dalam hati. Pasalnya dari beberapa soal yang sudah dikerjakannya dengan Erlang tadi, pasti ada saja kesalahan yang ia perbuat dengan/atau tanpa sadar dan berakhir ia harus menerima hasil pekerjaannya dipenuhi coretan indah berwarna merah terang dari Erlang.&#xA;&#xA;Memang begitu kebiasaan keduanya tiap kali melakukan sesi belajar bersama sejak SMA. Erlang tidak akan segan menyoret pekerjaan Laras dengan bolpoint merah sembari menjelaskan letak salah dan bagaimana seharusnya itu dikerjakan. Ketika Laras protes pertama kali karena tak terima pekerjaannya menjadi berantakan, Erlang hanya menjawab dengan enteng, “Biar nempel di otak lo Ras.”&#xA;&#xA;Saat telinga Laras mendengar laki-laki itu memanggil namanya sesaat setelah pekerjaannya di periksa oleh Erlang, ia langsung menghela nafas dengan keras dan menyenderkan kepalanya ke meja lalu menutup kepalanya menggunakan buku paket akuntansi yang tebalnya melebihi kamus. &#xA;&#xA;“Ah udahlah Lang, aku nyerah aja kuis akdas besok,” ucapnya dengan nada lelah dan frustasi. Pada titik ini, Laras sudah menerima dan berpasrah akan nilai kuisnya besok.&#xA;&#xA;“Ras bangun deh, sini dengerin gue dulu. Gue baru manggil loh belom ngomong apa-apa.” Erlang singkirkan buku akuntansi yang ada di kepala Laras dan kemudian Erlang tepuk pelan tangan gadis itu untuk kembali ke posisi duduk semula.  &#xA;&#xA;“Mana lagi yang salah? Banyak ya pasti?” Mendengar kalimat itu keluar dari bibir Laras dengan nada sedikit jengkel, Erlang tahu bahwa perempuan yang ada disampingnya ini sudah mulai merasa bete dan jengah karena pekerjaanya terus-terusan tidak berhasil mencapai tingkat seratus persen benar. &#xA;&#xA;“Kata siapa? Orang lo cuma salah dikit banget kok. Nih Liat. Cuma salah di akunnya. Gue tanya, kalau perusahaan dagang beli persediaan barang dagang pakai metode perpetual nyatet pembeliannya di akun apa?” tanya Erlang.&#xA;&#xA;“Inventory,&#34; jawab Laras dengan cepat dan yakin tanpa keraguan sedikitpun. &#xA;&#xA;“Nah terus kalau pakai metode periodik? Dicatet ke akun apa?” Erlang lemparkan sekali lagi pertanyaan ke lawan diskusinya itu. &#xA;&#xA;“In.. ven.. tory juga???” sahut Laras dengan manik mata keatas menandakan ia sedang berpikir keras. &#xA;&#xA;“Bukan, tapi di purchase Ras. Kalo metode periodik habis beli persediaan dicatet ke purchase, kalo metode perpetual lo udah bener, nyatetnya ke akun Inventory.” Jelasnya sembari menuliskan kata purchase di lembar jawaban milik Laras. &#xA;&#xA;“Oh iya ya, paham-paham.” Penjelasan Erlang yang singkat dan mudah dicerna berhasil masuk ke otak Laras tanpa gangguan. Inilah salah satu alasan mengapa ia suka belajar bersama dengan laki-laki itu. Pun ketika ia tetap tidak paham dengan penjelasan Erlang, laki-laki itu akan kembali menjelaskan dengan sabar. &#xA;&#xA;“Udah itu doang salah lo, itungannya udah bener semua. Akun-akun lain juga udah bener. Sekarang lo mau lanjut apa udahan, nih?” Mendengar penawaran yang diberikan Erlang, Laras buru-buru menutup semua buku yang ada dihadapan mereka dengan tersenyum kesenangan. Jujur ia sudah menanti sesi ini tiba.&#xA;&#xA;Bukan, bukan pulang ke rumah yang Laras nanti sedari tadi, melainkan sesi bercerita dengan Erlang. Berbagai hal dan topik akan mereka berdua bahas, mulai dari yang remeh hingga yang penting. Seperti sekarang ini, awalnya topik yang mereka bahas berkutat seputar tugas ospek dan kuliah yang tiada habisnya hingga membahas tips and trick yang diberikan oleh senior mereka dalam menghadapi beberapa dosen killer yang ada di prodi keduanya. &#xA;&#xA;Sesi bercerita—garis miring bergosip—berakhir saat Erlang mengetahui bahwa jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Saat laki-laki itu akan mengemasi barangnya, tangannya dihentikan oleh Laras yang meminta nilai kepadanya atas hasil pekerjannya tadi. &#xA;&#xA;Lalu dengan cepat jemarinya meraih kembali bolpoin merah andalannya dan membubuhkan berbagai jenis penilaian yang bisa ia berikan. &#xA;&#xA;“Kok tinggi banget nilainya? Kan tadi aku ada salah?” tanya Laras keheranan. &#xA;&#xA;Maka dengan senyum tipis sembari mengusap lembut pucuk kepala Laras, ia menjawab, “Gapapa, hadiah buat effort lo yang nggak gampang nyerah. Good job.” &#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Terhitung sudah empat jam sudut ruang di salah satu restoran cepat saji itu diisi oleh sepasang manusia berbeda jenis. Keduanya sama-sama sedang khidmat berkutat dengan segala angka dan buku yang berserakan dihadapan mereka. Bak sedang berada dalam mode <em>do not disturb</em>, dua sejoli itu sama sekali tidak merasa terganggu dengan lalu lalang pengunjung yang ada—padahal resto cepat saji yang terkenal dengan logo M di Jalan Kaliurang itu cukup ramai saat ini. Dari semua cabang yang ada di kota Yogyakarta, mereka memilih untuk datang kesini dengan alasan agar merasakan satu nasib dengan para <em>customer</em> yang ada. Bagaimana tidak senasib jika kebanyakan pembeli yang mengisi bangku kosong pada jam hampir tengah malam ini adalah para mahasiswa layaknya mereka berdua.</p>

<p>Disebelah meja yang mereka gunakan, terlihat 2 cup <em>mc flurry</em> rasa oreo dan kemasan <em>french fries</em> yang telah keduanya lahap hingga tak bersisa. Antara kelaparan tapi tidak ingin menambah dosa timbangan yang sudah berat atau karena hanya ingin menumpang tempat sehingga membeli menu yang harganya tidak menguras dompet adalah pilihan yang tepat. Entahlah, hanya mereka dan tuhan yang tahu alasannya.</p>

<p>“Ras gue udah nih.” Setelah dilanda keheningan cukup lama, akhirnya sang adam bersuara kembali terlebih dahulu. Itu Erlangga atau lebih sering dipanggil Erlang dilingkungan pertemanannya—termasuk Laras. Ide belajar ini diusulkan oleh Laras, karena esok keduanya harus menghadapi kuis mata kuliah akuntansi dasar. Bagi mahasiswa baru layaknya mereka berdua, kuis mata kuliah akuntansi dasar menjadi momok yang menyeramkan, apalagi saat mereka mendapat testimoni dari para kakak tingkat yang berkata untuk jangan berharap mendapatkan nilai yang tinggi pada kuis mata kuliah ini. Maka disinilah mereka sekarang, berusaha penuh memeras otak demi mendapat nilai yang cukup—tidak perlu tinggi, yang penting tidak memalukan—untuk kuis esok hari.</p>

<p>“Bentarr, aku tinggal notal jumlahnya ini.” Mendengar Erlang mengatakan bahwa ia sudah selesai dengan pekerjaannya, jari lentik itu buru-buru menekan berbagai angka di kalkulator berwarna putih miliknya, kemudian angka sebesar 6.050 muncul di layar kecil alat hitung itu. Kemudian segera Laras tulis hasil yang ia dapat ke lembaran kertas folio di depannya.</p>

<p>“Enam ribu lima puluh dolar… nah, udah <em>balance</em>, gumamnya diikuti senyum bangga karena berhasil mendapatkan hasil yang seimbang antara kolom kredit dan debit. Melihat tingkah Laras yang seperti itu, Erlang lantas tertawa kecil sembari bermonolog dalam hati, <em>“kayak anak kecil, kalau nulis pake dieja”.</em></p>

<p>“Udah?” tanyanya yang dijawab anggukan oleh si gadis. Kemudian kuasanya terulur untuk mengambil lembaran kertas milik Laras untuk selanjutnya ia bandingkan pekerjaan miliknya dengan milik Laras. Sementara Laras menanti dengan sedikit was-was.</p>

<p><em>“Ini nanti kalau sampek salah lagi, udalah nyerah aku,”</em> kata Laras dalam hati. Pasalnya dari beberapa soal yang sudah dikerjakannya dengan Erlang tadi, pasti ada saja kesalahan yang ia perbuat dengan/atau tanpa sadar dan berakhir ia harus menerima hasil pekerjaannya dipenuhi coretan indah berwarna merah terang dari Erlang.</p>

<p>Memang begitu kebiasaan keduanya tiap kali melakukan sesi belajar bersama sejak SMA. Erlang tidak akan segan menyoret pekerjaan Laras dengan bolpoint merah sembari menjelaskan letak salah dan bagaimana seharusnya itu dikerjakan. Ketika Laras protes pertama kali karena tak terima pekerjaannya menjadi berantakan, Erlang hanya menjawab dengan enteng, “Biar nempel di otak lo Ras.”</p>

<p>Saat telinga Laras mendengar laki-laki itu memanggil namanya sesaat setelah pekerjaannya di periksa oleh Erlang, ia langsung menghela nafas dengan keras dan menyenderkan kepalanya ke meja lalu menutup kepalanya menggunakan buku paket akuntansi yang tebalnya melebihi kamus.</p>

<p>“Ah udahlah Lang, aku nyerah aja kuis akdas besok,” ucapnya dengan nada lelah dan frustasi. Pada titik ini, Laras sudah menerima dan berpasrah akan nilai kuisnya besok.</p>

<p>“Ras bangun deh, sini dengerin gue dulu. Gue baru manggil loh belom ngomong apa-apa.” Erlang singkirkan buku akuntansi yang ada di kepala Laras dan kemudian Erlang tepuk pelan tangan gadis itu untuk kembali ke posisi duduk semula.</p>

<p>“Mana lagi yang salah? Banyak ya pasti?” Mendengar kalimat itu keluar dari bibir Laras dengan nada sedikit jengkel, Erlang tahu bahwa perempuan yang ada disampingnya ini sudah mulai merasa bete dan jengah karena pekerjaanya terus-terusan tidak berhasil mencapai tingkat seratus persen benar.</p>

<p>“Kata siapa? Orang lo cuma salah dikit banget kok. Nih Liat. Cuma salah di akunnya. Gue tanya, kalau perusahaan dagang beli persediaan barang dagang pakai metode perpetual nyatet pembeliannya di akun apa?” tanya Erlang.</p>

<p>“<em>Inventory</em>,” jawab Laras dengan cepat dan yakin tanpa keraguan sedikitpun.</p>

<p>“Nah terus kalau pakai metode periodik? Dicatet ke akun apa?” Erlang lemparkan sekali lagi pertanyaan ke lawan diskusinya itu.</p>

<p>“In.. ven.. tory juga???” sahut Laras dengan manik mata keatas menandakan ia sedang berpikir keras.</p>

<p>“Bukan, tapi di <em>purchase</em> Ras. Kalo metode periodik habis beli persediaan dicatet ke <em>purchase</em>, kalo metode perpetual lo udah bener, nyatetnya ke akun <em>Inventory</em>.” Jelasnya sembari menuliskan kata <em>purchase</em> di lembar jawaban milik Laras.</p>

<p>“Oh iya ya, paham-paham.” Penjelasan Erlang yang singkat dan mudah dicerna berhasil masuk ke otak Laras tanpa gangguan. Inilah salah satu alasan mengapa ia suka belajar bersama dengan laki-laki itu. Pun ketika ia tetap tidak paham dengan penjelasan Erlang, laki-laki itu akan kembali menjelaskan dengan sabar.</p>

<p>“Udah itu doang salah lo, itungannya udah bener semua. Akun-akun lain juga udah bener. Sekarang lo mau lanjut apa udahan, nih?” Mendengar penawaran yang diberikan Erlang, Laras buru-buru menutup semua buku yang ada dihadapan mereka dengan tersenyum kesenangan. Jujur ia sudah menanti sesi ini tiba.</p>

<p>Bukan, bukan pulang ke rumah yang Laras nanti sedari tadi, melainkan sesi bercerita dengan Erlang. Berbagai hal dan topik akan mereka berdua bahas, mulai dari yang remeh hingga yang penting. Seperti sekarang ini, awalnya topik yang mereka bahas berkutat seputar tugas ospek dan kuliah yang tiada habisnya hingga membahas <em>tips and trick</em> yang diberikan oleh senior mereka dalam menghadapi beberapa dosen killer yang ada di prodi keduanya.</p>

<p>Sesi bercerita—garis miring bergosip—berakhir saat Erlang mengetahui bahwa jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Saat laki-laki itu akan mengemasi barangnya, tangannya dihentikan oleh Laras yang meminta nilai kepadanya atas hasil pekerjannya tadi.</p>

<p>Lalu dengan cepat jemarinya meraih kembali bolpoin merah andalannya dan membubuhkan berbagai jenis penilaian yang bisa ia berikan.</p>

<p>“Kok tinggi banget nilainya? Kan tadi aku ada salah?” tanya Laras keheranan.</p>

<p>Maka dengan senyum tipis sembari mengusap lembut pucuk kepala Laras, ia menjawab, “Gapapa, hadiah buat <em>effort</em> lo yang nggak gampang nyerah. <em>Good job</em>.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://royals-melody.writeas.com/09</guid>
      <pubDate>Tue, 26 Jul 2022 15:16:03 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Married With My Bestfriend bagian dua</title>
      <link>https://royals-melody.writeas.com/iam-married-with-my-bestfriend-bagian-42q6?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Di ruang tamu apartemen milik Aruna—atau sering dipanggil Oliv oleh para sahabatnya—kelima manusia dewasa itu sudah duduk dengan rapi melingkari makhluk kecil yang sedang tertidur dengan pulas. Si kecil terlelap dengan nyaman di kasur lantai yang Aruna gelar. Ia sama sekali tidak terganggu, bahkan ketika kelima manusia dewasa itu ribut berebut porsi sarapan.&#xA;&#xA;“Ini kenapa jadi pada diem-diem an deh?” Jessy yang duduk di sebelah Aruna akhirnya membuka suara terlebih dahulu.&#xA;&#xA;“Ya gue nggak tau harus tanya apa kalau Oliv belum cerita gimana ni bayi bisa disini” ujar Juna dengan tangan bersedekap di depan dada seraya menatap Aruna lurus-lurus.&#xA;&#xA;“Oh iya sorry-sorry gue malah diem aja. Gue yakin kalian pasti ngira kalo bayi ini ditaruh di depan pintu apart gue sama sepucuk surat terus langsung ditinggal gitu aja kan? Well, kejadiannya tadi nggak begitu. Gue ketemu sama ibunya, bahkan kita ngobrol sebentar sebelum dia bener-bener ninggalin dan nyerahin ke gue.” Aruna sapukan manik matanya keseluruh wajah teman-temannya sebelum menaruh atensi ke bayi dihadapannya. Perlahan memori di otaknya mulai bekerja, menayangkan runtutan kejadian yang tak disangka-sangka tadi pagi.&#xA;---&#xA;Ting Tong Ting Tong Ting Tong&#xA;&#xA;Suara bel yang ditekan terus-meneruh tanpa jeda mengusik Aruna yang masih nyaman bersembunyi di balik selimut hangatnya. Ia berniat bangun siang hari ini, setelah semalaman begadang merombak desain baju pesanan client-nya. Hingga tanpa diduga ada tamu yang dengan berani mengusik jam tidurnya.&#xA;&#xA;Dengan hati merutuk, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke ruang depan. Saat pintu itu dibuka berdirilah seorang perempuan yang ia kenal baik dalam keadaan kacau balau sembari menggendong seoran bayi. Otaknya sempat berhenti bekerja karena tak mengira kehadiran perempuan itu ke apartemennya sepagi ini. Setelah tersadar Aruna langsung mempersilahkan sang tamu masuk.&#xA;&#xA;Perempuan itu bernama Aubrey, salah satu sepupu jauhnya. Terakhir kali Aruna berkomunikasi Aubrey adalah setahun yang lalu sebelum ia menghilang bak ditelan bumi. Setelah meminum teh hangat yang dibuatkan Aruna, Aubrey langsung mengatakan maksud dan tujuannya mendatangi kesini. Aubrey ceritakan semua kejadian yang menimpanya belakangan ini. Bayi yang ada digendongannya ini hadir karena Aubrey yang tanpa sadar melakukan hubungan badan dengan seorang laki-laki di sebuah club karena terlalu mabuk, dan ketika dimintai mengenai pertanggungjawaban, laki-laki itu langsung melarikan diri. &#xA;&#xA;“Selain itu, Aku sekarang sekarat Liv, aku penyakitan. Kata dokter, kemungkinanku untuk sembuh juga kecil. Karena itu aku dateng kesini Liv, aku mau minta tolong ke kamu. Kamu mau nolong aku, kan?” Tanya Aubrey dengan mata memerah karena menangis.&#xA;&#xA;“Iya, iya aku pasti bantu. Apa yang bisa aku lakuin buat bantu kamu Brey?” Setelah mendengarkan kisah menyedihkan dari sang sepupu, Aruna sudah bertekad dalam hati akan mengabulkan apapun permintaan sang sepupu.&#xA;&#xA;“Aku minta tolong sama kamu buat ngerawat bayiku. Maaf ya Liv, aku malah lari dan melimpahkan tanggungjawab sebesar ini ke kamu. Tapi aku nggak yakin bisa ngerawat dia dengan keadaan seperti ini. Cuma kamu satu-satunya orang yang aku percaya, Liv. Tolong kabulkan satu permintaan terakhirku ini aja.”&#xA;---&#xA;“Jadi gitu ceritanya.” Hening, tak ada respon yang keluar dari mulut keempat manusia itu setelah mendengarkan cerita panjang lebar Aruna. Mereka sama-sama bingung tak tahu harus bagaimana dan merasa iba kepada bayi yang sedang tertidur pulas itu. &#xA;&#xA;“Eum guys? Haloo? Wajah kalian kenapa jadi mellow gitu dah? Ini gue harus gimanain ponakan gue?” Aruna lambaikan tangannya kedepan wajah temannya satu persatu, berusaha membuyarkan tatapan menyedihkan yang terpancar di wajah keempatnya.&#xA;&#xA;“Emang lo sendiri mau gimana Liv? Yakin bisa ngerawat sendirian?” tanya Jessy kepadanya.&#xA;&#xA;“Ya mau gimana lagi? Gue udah dikasih amanah segede ini masak gue ingkar? Paling gue sewa babysitter deh, kalian ada kenalan babysitter nggak?” Satu-satunya opsi yang terlintas dikepala Aruna adalah menyewa pengasuh, menurutnya itu merupakan win-win solution. Ia tetap bisa bebas bekerja dan pergi ke butik tanpa perlu khawatir memikirkan sang bayi dan disisi lain ada orang berpengalaman yang akan merawat si bayi.&#xA;&#xA;“Lo yakin mau sewa babysitter? Mahal loh Liv belum lagi sekarang banyak berita kasus babysitter yang nggak bisa dipercaya. Gue aja merinding bayanginnya,” Timpal Jess, lagi-lagi. Belum sampai Aruna membuka mulut kembali, Hendrian bersuara.&#xA;&#xA;“Gue ada saran, tapi kalo gue belum selesai ngomong jangan lo timpuk dulu,” ucap Hendrian dengan tampang sok serius.&#xA;&#xA;“Ya udah cepetan nggak usah bertele-tele,” sahut Lukas sangsi. Pasalnya terkadang jawaban yang diberikan oleh temannya itu  seringkali hanya bercanda dan tak bisa dianggap serius.&#xA;&#xA;“Kalau saran gue ya Liv, lo bawa tu bayi ke rumah Lukas. Kalau perlu lo tinggal aja disana sekalian. Kalo lo tinggal disana sama ni bayi, gue yakin hidup lo bakal adem ayem. Lo nggak bakal dapet nyiyiran tetangga apart lo gara-gara bayi lo tengah malem nangis, terus di rumah Lukas juga ada Bi Wati yang pasti bisa bantuin lo ngurus bayi. Lumayan kan?” Beberapa detik setelah menyuarakan ide cemerlang setengah gilanya, kepala Hendrian langsung mendapat tempeleng keras dari Lukas.&#xA;&#xA;“Apa-apaan saran lo hah?! Kenapa tiba-tiba jadi kerumah gue?!” tukas Lukas tak habis pikir dengan ucapan sahabatnya itu.&#xA;&#xA;“Ah elah rumah lo yang segede gaban kayak begitu butuh penghuni lain biar nggak sepi-sepi amat. Lagian kasian juga Bi Wati nggak ada temennya gara-gara lo tinggal kerja mulu. Kenapa sih? Lo gamau bantuin si Olip? Lo ga kasian sama dia? Pelit amat dah.” Cerocos Hendrian dengan mulut manyun sembari mengusap-usap kepalanya yang terasa nyut-nyutan. &#xA;&#xA;“Bukan gitu, maksud gue tuh — ”&#xA;&#xA;“Gue setuju sih Liv sama idenya Hendri, udah lo nggak usah khawatir apa kata orang. Di sana ada Bi Wati, lo nggak hidup berdua doang. Nanti gue juga sering-sering kesana deh.” Timpal Jessy mendukung ide gila Hendrian.&#xA;&#xA;“Sabi tuh. Gue setuju.” Juna yang sedari tadi hanya mendengarkan ternyata ikut mendukung, membuat Lukas dan Aruna saling bertatapan dengan wajah pucat merasa kalah telak. Keduanya sama-sama membatin apakah ide gila ketiga temannya ini akan membawa mereka kepada titik yang seperti apa?&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Di ruang tamu apartemen milik Aruna—atau sering dipanggil Oliv oleh para sahabatnya—kelima manusia dewasa itu sudah duduk dengan rapi melingkari makhluk kecil yang sedang tertidur dengan pulas. Si kecil terlelap dengan nyaman di kasur lantai yang Aruna gelar. Ia sama sekali tidak terganggu, bahkan ketika kelima manusia dewasa itu ribut berebut porsi sarapan.</p>

<p>“Ini kenapa jadi pada diem-diem an deh?” Jessy yang duduk di sebelah Aruna akhirnya membuka suara terlebih dahulu.</p>

<p>“Ya gue nggak tau harus tanya apa kalau Oliv belum cerita gimana ni bayi bisa disini” ujar Juna dengan tangan bersedekap di depan dada seraya menatap Aruna lurus-lurus.</p>

<p>“Oh iya sorry-sorry gue malah diem aja. Gue yakin kalian pasti ngira kalo bayi ini ditaruh di depan pintu apart gue sama sepucuk surat terus langsung ditinggal gitu aja kan? Well, kejadiannya tadi nggak begitu. Gue ketemu sama ibunya, bahkan kita ngobrol sebentar sebelum dia bener-bener ninggalin dan nyerahin ke gue.” Aruna sapukan manik matanya keseluruh wajah teman-temannya sebelum menaruh atensi ke bayi dihadapannya. Perlahan memori di otaknya mulai bekerja, menayangkan runtutan kejadian yang tak disangka-sangka tadi pagi.</p>

<hr/>

<p><strong>Ting Tong Ting Tong Ting Tong</strong></p>

<p>Suara bel yang ditekan terus-meneruh tanpa jeda mengusik Aruna yang masih nyaman bersembunyi di balik selimut hangatnya. Ia berniat bangun siang hari ini, setelah semalaman begadang merombak desain baju pesanan <em>client</em>-nya. Hingga tanpa diduga ada tamu yang dengan berani mengusik jam tidurnya.</p>

<p>Dengan hati merutuk, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke ruang depan. Saat pintu itu dibuka berdirilah seorang perempuan yang ia kenal baik dalam keadaan kacau balau sembari menggendong seoran bayi. Otaknya sempat berhenti bekerja karena tak mengira kehadiran perempuan itu ke apartemennya sepagi ini. Setelah tersadar Aruna langsung mempersilahkan sang tamu masuk.</p>

<p>Perempuan itu bernama Aubrey, salah satu sepupu jauhnya. Terakhir kali Aruna berkomunikasi Aubrey adalah setahun yang lalu sebelum ia menghilang bak ditelan bumi. Setelah meminum teh hangat yang dibuatkan Aruna, Aubrey langsung mengatakan maksud dan tujuannya mendatangi kesini. Aubrey ceritakan semua kejadian yang menimpanya belakangan ini. Bayi yang ada digendongannya ini hadir karena Aubrey yang tanpa sadar melakukan hubungan badan dengan seorang laki-laki di sebuah club karena terlalu mabuk, dan ketika dimintai mengenai pertanggungjawaban, laki-laki itu langsung melarikan diri.</p>

<p>“Selain itu, Aku sekarang sekarat Liv, aku penyakitan. Kata dokter, kemungkinanku untuk sembuh juga kecil. Karena itu aku dateng kesini Liv, aku mau minta tolong ke kamu. Kamu mau nolong aku, kan?” Tanya Aubrey dengan mata memerah karena menangis.</p>

<p>“Iya, iya aku pasti bantu. Apa yang bisa aku lakuin buat bantu kamu Brey?” Setelah mendengarkan kisah menyedihkan dari sang sepupu, Aruna sudah bertekad dalam hati akan mengabulkan apapun permintaan sang sepupu.</p>

<p>“Aku minta tolong sama kamu buat ngerawat bayiku. Maaf ya Liv, aku malah lari dan melimpahkan tanggungjawab sebesar ini ke kamu. Tapi aku nggak yakin bisa ngerawat dia dengan keadaan seperti ini. Cuma kamu satu-satunya orang yang aku percaya, Liv. Tolong kabulkan satu permintaan terakhirku ini aja.”</p>

<hr/>

<p>“Jadi gitu ceritanya.” Hening, tak ada respon yang keluar dari mulut keempat manusia itu setelah mendengarkan cerita panjang lebar Aruna. Mereka sama-sama bingung tak tahu harus bagaimana dan merasa iba kepada bayi yang sedang tertidur pulas itu.</p>

<p>“Eum guys? Haloo? Wajah kalian kenapa jadi mellow gitu dah? Ini gue harus gimanain ponakan gue?” Aruna lambaikan tangannya kedepan wajah temannya satu persatu, berusaha membuyarkan tatapan menyedihkan yang terpancar di wajah keempatnya.</p>

<p>“Emang lo sendiri mau gimana Liv? Yakin bisa ngerawat sendirian?” tanya Jessy kepadanya.</p>

<p>“Ya mau gimana lagi? Gue udah dikasih amanah segede ini masak gue ingkar? Paling gue sewa babysitter deh, kalian ada kenalan babysitter nggak?” Satu-satunya opsi yang terlintas dikepala Aruna adalah menyewa pengasuh, menurutnya itu merupakan win-win solution. Ia tetap bisa bebas bekerja dan pergi ke butik tanpa perlu khawatir memikirkan sang bayi dan disisi lain ada orang berpengalaman yang akan merawat si bayi.</p>

<p>“Lo yakin mau sewa babysitter? Mahal loh Liv belum lagi sekarang banyak berita kasus babysitter yang nggak bisa dipercaya. Gue aja merinding bayanginnya,” Timpal Jess, lagi-lagi. Belum sampai Aruna membuka mulut kembali, Hendrian bersuara.</p>

<p>“Gue ada saran, tapi kalo gue belum selesai ngomong jangan lo timpuk dulu,” ucap Hendrian dengan tampang sok serius.</p>

<p>“Ya udah cepetan nggak usah bertele-tele,” sahut Lukas sangsi. Pasalnya terkadang jawaban yang diberikan oleh temannya itu  seringkali hanya bercanda dan tak bisa dianggap serius.</p>

<p>“Kalau saran gue ya Liv, lo bawa tu bayi ke rumah Lukas. Kalau perlu lo tinggal aja disana sekalian. Kalo lo tinggal disana sama ni bayi, gue yakin hidup lo bakal adem ayem. Lo nggak bakal dapet nyiyiran tetangga apart lo gara-gara bayi lo tengah malem nangis, terus di rumah Lukas juga ada Bi Wati yang pasti bisa bantuin lo ngurus bayi. Lumayan kan?” Beberapa detik setelah menyuarakan ide cemerlang setengah gilanya, kepala Hendrian langsung mendapat tempeleng keras dari Lukas.</p>

<p>“Apa-apaan saran lo hah?! Kenapa tiba-tiba jadi kerumah gue?!” tukas Lukas tak habis pikir dengan ucapan sahabatnya itu.</p>

<p>“Ah elah rumah lo yang segede gaban kayak begitu butuh penghuni lain biar nggak sepi-sepi amat. Lagian kasian juga Bi Wati nggak ada temennya gara-gara lo tinggal kerja mulu. Kenapa sih? Lo gamau bantuin si Olip? Lo ga kasian sama dia? Pelit amat dah.” Cerocos Hendrian dengan mulut manyun sembari mengusap-usap kepalanya yang terasa nyut-nyutan.</p>

<p>“Bukan gitu, maksud gue tuh — ”</p>

<p>“Gue setuju sih Liv sama idenya Hendri, udah lo nggak usah khawatir apa kata orang. Di sana ada Bi Wati, lo nggak hidup berdua doang. Nanti gue juga sering-sering kesana deh.” Timpal Jessy mendukung ide gila Hendrian.</p>

<p>“Sabi tuh. Gue setuju.” Juna yang sedari tadi hanya mendengarkan ternyata ikut mendukung, membuat Lukas dan Aruna saling bertatapan dengan wajah pucat merasa kalah telak. Keduanya sama-sama membatin apakah ide gila ketiga temannya ini akan membawa mereka kepada titik yang seperti apa?</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://royals-melody.writeas.com/iam-married-with-my-bestfriend-bagian-42q6</guid>
      <pubDate>Fri, 27 May 2022 14:00:05 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Married With My Bestfriend bagian tujuh belas</title>
      <link>https://royals-melody.writeas.com/iam-married-with-my-bestfriend-bagian?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Pendar hangat dari sang surya yang menerobos masuk melalui jendela ruang keluarga, turut menemani ketiga manusia yang asik dengan aktivitas yang mereka lakukan. Lukas, Aruna, dan si kecil Arka sedang menikmati bersantai di minggu pagi yang tentram.  &#xA;&#xA;Mereka berkumpul setelah Aruna dan Lukas selesai dengan sesi sarapan bersama yang sudah lama tak terlaksana. Seperti biasa, jika di hari libur seperti ini, ruang keluarga akan Lukas sulap menjadi ruang bersantai. Mereka akan sama-sama merebahkan diri di Kasur lantai berukuran besar yang digelar oleh satu-satunya laki-laki yang ada di rumah ini. &#xA;&#xA;Di ruangan itu terlihat Lukas yang fokus bermain PS 5 sementara Aruna yang sibuk bermain dengan Arka. Jika dulu Aruna akan lebih memilih menyelesaikan berbagai rancangan gaun di hari libur, namun sekarang hal itu sudah tidak berlaku lagi. Belakangan ini ia sangat menikmati menghabiskan waktu untuk bersantai, entah bermain dengan Arka seharian—apalagi saat ini Arka mulai aktif mengoceh—atau sekedar mengobrol santai dengan Lukas. Jadi, selama dia sakit seminggu belakangan, Aruna benar-benar merasakan kesepian.&#xA;&#xA;“Aaaahh.” Itu suara Arka yang berteriak senang karena dibacakan buku bergambar hewan-hewan oleh Aruna. Iya, Aruna memang sering membacakan Arka buku cerita bayi hingga Lukas harus merelakan sebagian buku favoritnya dipindahkan ke rak lain dan diganti dengan koleksi buku milik Arka. &#xA;&#xA;“Liv, gue kepikiran sesuatu dari beberapa hari yang lalu.” Lukas yang sedari tadi fokus bermain game sepakbola favoritnya tiba-tiba saja mengatakan hal tersebut. Ia jeda permainan itu dan merubah posisi badannya duduk sempurna menghadap Aruna. &#xA;&#xA;“Apaan?” tanya Aruna penasaran.&#xA;&#xA;“Lo udah bilang ortu lo masalah Arka? Liv?” Hening kemudian. Tak ada jawaban yang Aruna lontarkan atas pertanyaan yang diberikan oleh Lukas. Kepala pintarnya tiba-tiba kosong hingga menyebabkan Aruna tak mendapat jawaban. Ia menundukkan kepalanya, melihat wajah Arka yang tersenyum manis berseri-seri menatap dirinya. &#xA;&#xA;&#34;Belum Kas, gue nggak ta–&#34; &#xA;&#xA;&#34;LUKAS?! ITU ANAK SIAPA?!&#34; Belum sempat Aruna selesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja suara melengking dari seorang perempuan menginterupsi perbincangan serius antar keduanya. Spontan keduanya membelalakan mata dan berdiri tegap saat mengetahui siapa orang tersebut. &#xA;&#xA;&#34;ITU CUCU MAMA?! KAMU NIKAH DIEM-DIEM SAMA ARUNA TERUS PUNYA ANAK?! APA GIMANA?!&#34; Iya, beliau adalah Mama Lukas yang datang berkunjung. Mama Lukas tidak terlalu sering berkunjung, hanya sesekali, dikarenakan beliau yang lebih memilih tinggal di Bogor. Maka dari itu, biasanya dia akan memberi kabar jika hendak datang. Namun mungkin kali ini beliau memiliki ide untuk memberikan kejutan kepada anak laki-lakinya, hingga terjadi kejadian seperti ini. &#xA;&#xA;&#34;Ma, bukan gitu, Lukas jelas–&#34; Kali ini kalimat Lukas yang ganti terpotong oleh suara tangisan kencang Arka. Bayi itu reflek menangis karena kaget mendengar suara orang berteriak tiba-tiba. Aruna yang melihat itu langsung menggendong Arka dengan harapan bayi itu bisa segera tenang.&#xA;&#xA;&#34;Liv, bawa Arka ke kamar. Tenangin dulu, kasian dia kaget,&#34; ucap Lukas sembari menatap Aruna. Yang ditatap, kembali menatap dengan raut ragu-ragu dan khawatir, tidak yakin meninggalkan Lukas sendirian di tengah situasi genting seperti ini. &#xA;&#xA;&#34;Udah sana Liv, gapapa, ga usah khawatir. Nanti kalo Arka udah tenang baru lo balik lagi kesini.&#34; Mendengar penuturan Lukas, maka Aruna pamit mengundurkan diri dari hadapan Lukas dan Mamanya dan langsung menuju kamar Arka. &#xA;&#xA;&#34;Jadi namanya Arka ya? Udah berapa bulan?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ma! Mama itu bisa nggak sih nggak usah teriak? Kasian kan anaknya jadi nangis gara-gara kaget denger suara cempreng Mama.&#34; Bukannya menjawab pertanyaan sang Mama, Lukas malah ganti mengomel. Jujur saja, Lukas sendiri kaget hingga terlonjak saat mendengar teriakan Mamanya apalagi Arka yang tidak terbiasa mendengar suara kencang? Jadi jangan salahkan Lukas jika ia bersikap seperti ini. &#xA;&#xA;&#34;Ya gimana Mama nggak teriak? Mama kesini tujuannya pengen ketemu kamu, eh malah dapet surprise kayak gitu. Untung Mama nggak sampai jantungan ngeliatnya,&#34; timpal wanita itu dengan santai. &#xA;&#xA;&#34;Mama tunggu di dapur, Mama mau denger penjelasan kamu sama Aruna.&#34; Tanpa mendengar jawaban Lukas, perempuan paruh baya itu langsung melangkahkan kaki melenggang meninggalkan ruang tengah. Sementara Lukas, sibuk mengacak-ngacak rambutnya dengan frustasi. &#xA;---&#xA;&#34;Ma, kan udah dijelasin tadi, Arka itu bukan anak Lukas sama Oliv. Mama kenapa ngeyel terus sih besok minta silaturahmi ke rumahnya Oliv?&#34; Sesi perdebatan ini sudah terjadi cukup lama hingga membuat energi Lukas mulai terkuras karena menahan emosi. &#xA;&#xA;Bagaimana tidak? Setelah menjelaskan dengan detail mengenai semuanya tiba-tiba saja Sang Ibunda meminta Aruna untuk menghubungi keluarganya yang ada di Bandung untuk bersiap-siap karena keluarga Lukas akan pergi silaturahmi kesana, besok. Lukas heran dan kesal kenapa Mamanya itu sangat memaksa untuk pergi kesana, yang Lukas yakini pasti ada maksud lain dari hanya sekedar silaturahmi. &#xA;&#xA;“Ya kenapa sih? Salah emangnya? Lagipula ya Kas, kamu ini sama Aruna udah tinggal bareng satu rumah tapi statusnya nggak jelas begini. Pamali. Udah ah Mama nggak nerima penolakan, pokoknya besok kesana titik. Oh ya Aruna, habis ini tolong bawa Arka ke kamar Mama ya, Mama mau gendong calon cucu. Terus jangan lupa kabarin orang tua kamu,” ucap sang Mama final dan langsung pergi meninggalkan dua manusia dewasa yang duduk dengan lesu. &#xA;&#xA;“Arggh kenapa jadi kacau gini sihh!!” Erangan frustasi itu berasal dari Lukas, kepalanya serasa mau pecah saat ini. Harusnya tidak seperti ini kejadiannya, sebenarnya dari semalam Lukas sudah mulai memikirkan alur yang tepat mengenai cara memberitahu keluarganya dan keluarga Aruna mengenai Arka dan situasi mereka berdua. Tapi ternyata rencana hanyalah rencana, dan semua terjadi di luar kendalinya. &#xA;&#xA;“Udah Kas gapapa, ga usah lo bawa pusing. Kalau emang Mama lo mintanya begitu ya udah turutin aja. Lagipula yang penting Mama lo bisa nerima Arka. Udah ya gapapa,” ucap Aruna seraya mengelus pundak Lukas berusaha menenangkan. Sejak tadi yang dilakukan Aruna hanyalah diam dan mendengarkan. Dia akan mengatakan sekenanya jika memang diperlukan. Aruna sudah memasrahkan diri akan nasibnya saat tiba-tiba Mama Lukas datang kesini. Pada awalnya, Aruna menduga bahwa ia dan Arka akan mendapatkan umpatan dan caci maki karena berani menumpang dan tinggal di rumah Lukas, tapi ternyata ia salah. Mama Lukas cukup santai saat mendengarkan penjelasan mereka berdua bahkan tidak memberikan tatapan curiga sama sekali. &#xA;&#xA;“Tapi Liv, reaksi keluarga lo bakal gimana kalau tahu tiba-tiba keluarga gue mau kesana? Anjir, bukan kayak gini rencana gue.”  &#xA;&#xA;“Udah tenang aja, itu urusan gue. Lo sekarang istirahat sana deh atau ngapain kek. Gue mau ambil Arka terus ke kamar Mama lo dulu ya, bye.” Tak ingin membuat Mama Lukas menunggu lama, Aruna lekas meninggalkan ruang makan dan bergegas menuju ke kamar Arka. Namun saat ditengah jalan dia berhenti mendadak karena mengingat sesuatu. &#xA;&#xA;“Tadi Mamanya Lukas kok tahu nama gue Aruna? Padahal kan gue belum pernah ketemu??” begitulah pertanyaan yang ada di batinnya.  &#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Pendar hangat dari sang surya yang menerobos masuk melalui jendela ruang keluarga, turut menemani ketiga manusia yang asik dengan aktivitas yang mereka lakukan. Lukas, Aruna, dan si kecil Arka sedang menikmati bersantai di minggu pagi yang tentram.</p>

<p>Mereka berkumpul setelah Aruna dan Lukas selesai dengan sesi sarapan bersama yang sudah lama tak terlaksana. Seperti biasa, jika di hari libur seperti ini, ruang keluarga akan Lukas sulap menjadi ruang bersantai. Mereka akan sama-sama merebahkan diri di Kasur lantai berukuran besar yang digelar oleh satu-satunya laki-laki yang ada di rumah ini.</p>

<p>Di ruangan itu terlihat Lukas yang fokus bermain PS 5 sementara Aruna yang sibuk bermain dengan Arka. Jika dulu Aruna akan lebih memilih menyelesaikan berbagai rancangan gaun di hari libur, namun sekarang hal itu sudah tidak berlaku lagi. Belakangan ini ia sangat menikmati menghabiskan waktu untuk bersantai, entah bermain dengan Arka seharian—apalagi saat ini Arka mulai aktif mengoceh—atau sekedar mengobrol santai dengan Lukas. Jadi, selama dia sakit seminggu belakangan, Aruna benar-benar merasakan kesepian.</p>

<p>“Aaaahh.” Itu suara Arka yang berteriak senang karena dibacakan buku bergambar hewan-hewan oleh Aruna. Iya, Aruna memang sering membacakan Arka buku cerita bayi hingga Lukas harus merelakan sebagian buku favoritnya dipindahkan ke rak lain dan diganti dengan koleksi buku milik Arka.</p>

<p>“Liv, gue kepikiran sesuatu dari beberapa hari yang lalu.” Lukas yang sedari tadi fokus bermain <em>game</em> sepakbola favoritnya tiba-tiba saja mengatakan hal tersebut. Ia jeda permainan itu dan merubah posisi badannya duduk sempurna menghadap Aruna.</p>

<p>“Apaan?” tanya Aruna penasaran.</p>

<p>“Lo udah bilang ortu lo masalah Arka? Liv?” Hening kemudian. Tak ada jawaban yang Aruna lontarkan atas pertanyaan yang diberikan oleh Lukas. Kepala pintarnya tiba-tiba kosong hingga menyebabkan Aruna tak mendapat jawaban. Ia menundukkan kepalanya, melihat wajah Arka yang tersenyum manis berseri-seri menatap dirinya.</p>

<p>“Belum Kas, gue nggak ta–”</p>

<p>“LUKAS?! ITU ANAK SIAPA?!” Belum sempat Aruna selesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja suara melengking dari seorang perempuan menginterupsi perbincangan serius antar keduanya. Spontan keduanya membelalakan mata dan berdiri tegap saat mengetahui siapa orang tersebut.</p>

<p>“ITU CUCU MAMA?! KAMU NIKAH DIEM-DIEM SAMA ARUNA TERUS PUNYA ANAK?! APA GIMANA?!” Iya, beliau adalah Mama Lukas yang datang berkunjung. Mama Lukas tidak terlalu sering berkunjung, hanya sesekali, dikarenakan beliau yang lebih memilih tinggal di Bogor. Maka dari itu, biasanya dia akan memberi kabar jika hendak datang. Namun mungkin kali ini beliau memiliki ide untuk memberikan kejutan kepada anak laki-lakinya, hingga terjadi kejadian seperti ini.</p>

<p>“Ma, bukan gitu, Lukas jelas–” Kali ini kalimat Lukas yang ganti terpotong oleh suara tangisan kencang Arka. Bayi itu reflek menangis karena kaget mendengar suara orang berteriak tiba-tiba. Aruna yang melihat itu langsung menggendong Arka dengan harapan bayi itu bisa segera tenang.</p>

<p>“Liv, bawa Arka ke kamar. Tenangin dulu, kasian dia kaget,” ucap Lukas sembari menatap Aruna. Yang ditatap, kembali menatap dengan raut ragu-ragu dan khawatir, tidak yakin meninggalkan Lukas sendirian di tengah situasi genting seperti ini.</p>

<p>“Udah sana Liv, gapapa, ga usah khawatir. Nanti kalo Arka udah tenang baru lo balik lagi kesini.” Mendengar penuturan Lukas, maka Aruna pamit mengundurkan diri dari hadapan Lukas dan Mamanya dan langsung menuju kamar Arka.</p>

<p>“Jadi namanya Arka ya? Udah berapa bulan?”</p>

<p>“Ma! Mama itu bisa nggak sih nggak usah teriak? Kasian kan anaknya jadi nangis gara-gara kaget denger suara cempreng Mama.” Bukannya menjawab pertanyaan sang Mama, Lukas malah ganti mengomel. Jujur saja, Lukas sendiri kaget hingga terlonjak saat mendengar teriakan Mamanya apalagi Arka yang tidak terbiasa mendengar suara kencang? Jadi jangan salahkan Lukas jika ia bersikap seperti ini.</p>

<p>“Ya gimana Mama nggak teriak? Mama kesini tujuannya pengen ketemu kamu, eh malah dapet surprise kayak gitu. Untung Mama nggak sampai jantungan ngeliatnya,” timpal wanita itu dengan santai.</p>

<p>“Mama tunggu di dapur, Mama mau denger penjelasan kamu sama Aruna.” Tanpa mendengar jawaban Lukas, perempuan paruh baya itu langsung melangkahkan kaki melenggang meninggalkan ruang tengah. Sementara Lukas, sibuk mengacak-ngacak rambutnya dengan frustasi.</p>

<hr/>

<p>“Ma, kan udah dijelasin tadi, Arka itu bukan anak Lukas sama Oliv. Mama kenapa ngeyel terus sih besok minta silaturahmi ke rumahnya Oliv?” Sesi perdebatan ini sudah terjadi cukup lama hingga membuat energi Lukas mulai terkuras karena menahan emosi.</p>

<p>Bagaimana tidak? Setelah menjelaskan dengan detail mengenai semuanya tiba-tiba saja Sang Ibunda meminta Aruna untuk menghubungi keluarganya yang ada di Bandung untuk bersiap-siap karena keluarga Lukas akan pergi silaturahmi kesana, besok. Lukas heran dan kesal kenapa Mamanya itu sangat memaksa untuk pergi kesana, yang Lukas yakini pasti ada maksud lain dari hanya sekedar silaturahmi.</p>

<p>“Ya kenapa sih? Salah emangnya? Lagipula ya Kas, kamu ini sama Aruna udah tinggal bareng satu rumah tapi statusnya nggak jelas begini. Pamali. Udah ah Mama nggak nerima penolakan, pokoknya besok kesana titik. Oh ya Aruna, habis ini tolong bawa Arka ke kamar Mama ya, Mama mau gendong calon cucu. Terus jangan lupa kabarin orang tua kamu,” ucap sang Mama final dan langsung pergi meninggalkan dua manusia dewasa yang duduk dengan lesu.</p>

<p>“Arggh kenapa jadi kacau gini sihh!!” Erangan frustasi itu berasal dari Lukas, kepalanya serasa mau pecah saat ini. Harusnya tidak seperti ini kejadiannya, sebenarnya dari semalam Lukas sudah mulai memikirkan alur yang tepat mengenai cara memberitahu keluarganya dan keluarga Aruna mengenai Arka dan situasi mereka berdua. Tapi ternyata rencana hanyalah rencana, dan semua terjadi di luar kendalinya.</p>

<p>“Udah Kas gapapa, ga usah lo bawa pusing. Kalau emang Mama lo mintanya begitu ya udah turutin aja. Lagipula yang penting Mama lo bisa nerima Arka. Udah ya gapapa,” ucap Aruna seraya mengelus pundak Lukas berusaha menenangkan. Sejak tadi yang dilakukan Aruna hanyalah diam dan mendengarkan. Dia akan mengatakan sekenanya jika memang diperlukan. Aruna sudah memasrahkan diri akan nasibnya saat tiba-tiba Mama Lukas datang kesini. Pada awalnya, Aruna menduga bahwa ia dan Arka akan mendapatkan umpatan dan caci maki karena berani menumpang dan tinggal di rumah Lukas, tapi ternyata ia salah. Mama Lukas cukup santai saat mendengarkan penjelasan mereka berdua bahkan tidak memberikan tatapan curiga sama sekali.</p>

<p>“Tapi Liv, reaksi keluarga lo bakal gimana kalau tahu tiba-tiba keluarga gue mau kesana? Anjir, bukan kayak gini rencana gue.”</p>

<p>“Udah tenang aja, itu urusan gue. Lo sekarang istirahat sana deh atau ngapain kek. Gue mau ambil Arka terus ke kamar Mama lo dulu ya, bye.” Tak ingin membuat Mama Lukas menunggu lama, Aruna lekas meninggalkan ruang makan dan bergegas menuju ke kamar Arka. Namun saat ditengah jalan dia berhenti mendadak karena mengingat sesuatu.</p>

<p><em>“Tadi Mamanya Lukas kok tahu nama gue Aruna? Padahal kan gue belum pernah ketemu??”</em> begitulah pertanyaan yang ada di batinnya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://royals-melody.writeas.com/iam-married-with-my-bestfriend-bagian</guid>
      <pubDate>Fri, 27 May 2022 13:41:20 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Ting tong</title>
      <link>https://royals-melody.writeas.com/ting-tong?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Ting tong&#xA;&#xA;Bunyi dari bel apartemen yang ditekan seseorang dari luar membuat Aileen bergegas melangkahkan kaki menuju ke ruang depan--membukakan pintu untuk sang tamu. &#xA;&#xA;Saat pintu itu terbuka, pemandangan yang Aileen lihat adalah perawakan seorang laki-laki yang berpakaian serba hitam. Segera Aileen Tarik tangan laki-laki itu untuk masuk kedalam apartemennya.&#xA; &#xA;“Kenapa nggak langsung masuk aja? Kan tadi di chat udah aku kasih tahu password pintunya,” ucap aileen sedikit mengomel. &#xA;&#xA;Saat ini Aileen dan laki-laki itu duduk berhadapan-hadapan di sofa ruang tamu apartement milik Aileen. Benar, laki-laki yang saat ini sedang ada di hadapan Aileen adalah Marcel, ia benar-benar menepati perkataannya yang akan datang ke apartemen Aileen untuk mengambil cookies yang Aileen siapkan setelah ia selesai dengan jadwal kerjanya. &#xA;&#xA;“Nggak enak Ai aku nerobos masuk malem-malem gini. Iya kalau waktu aku masuk kamu langung ngenalin kalau itu aku? Kalau nggak? Yang ada nanti malah bikin kamu jantungan lihat cowok pakek baju item-item kayak maling begini masuk apart kamu tiba-tiba,” jawab Marcel dengan sedikit bercanda. Situasi dan kondisi sekarang memang bisa menyebabkan Marcel di salah anggap sebagai &#39;maling&#39; karena cara berpakaiannya yang mencurigakan, apalagi saat ini ia menemui Aileen di waktu hampir menuju tengah malam. Jika ditanya apakah Marcel merasa lelah saat ini karena harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk datang menemui Aileen dan disaat ia baru saja pulang bekerja? Jawabannya adalah iya. Dia tidak akan berbohong jika ia merasa lelah, tapi perlahan rasa lelah itu perlahan terangkat saat ia bisa melihat Aileen ada di hadapannya dengan mata kepalanya sendiri.  Ya walaupun saat ia datang tadi harus terkena sedikit semprotan dari Aileen, tapi tidak masalah, gadis itu terlihat lucu ketika mengomel seperti itu. &#xA;&#xA;“Ya kan maksud aku tuh—” Sesungguhnya Aileen tidak ada intensi mengomeli Marcel saat laki-laki itu baru saja mendaratkan pantatnya di sofa ruang tamu miliknya. Tapi karena Marcel yang tidak mau mengikuti intruksinya, jadilah mode mengomelnya yang seperti ibu-ibu menyala tanpa rencana. &#xA;&#xA;Maksud Aileen memberitahukan kode sandi pintu apartemennya dan menyuruh Marcel langsung masuk adalah agar Marcel tidak perlu menunggu dirinya membukakan pintu. Bisa sajakan waktu Marcel datang dirinya sedang berada di ruangan yang menyebabkan ia tidak mendengar suara bel pintu? Selain itu juga untuk meminimalisir penghuni lain mengenali bahwa laki-laki yang berdiri di depan pintu apartemennya adalah seorang idol bernama Henry Marcel. Kendati niatnya meminimalisir sudah terbantu dengan pakaian penyamaran Marcel dan kondisi gedung apartemennya yang sepi karena sekarang waktu menunjukkan pukul sebelas malam, tapi tidak salah kan jika dirinya tetap antisipasi seperti itu?&#xA;&#xA;“Udah ya, case closed. Masak kamu mau marah-marah ketemu aku? Nggak kangen? Aku kangen loh.” Sepenggal kalimat yang diucapkan Marcel menghentikan omelan Aileen yang belum selesai ia utarakan. Kala mulutnya mengatup, visinya baru bisa menamati guratan-guratan lelah yang terpatri di wajah sang adam. Ah Aileen merasa bodoh karena menyambut Marcel dengan omelan dan bukannya sambutan hangat, padahal laki-laki itu mau menahan rasa lelah hanya untuk datang kesini. &#xA;&#xA;“Maaf, nggak maksud marah-marah. Kamu udah makan belom? Aku barusan banget angetin masakanku. Makan ya? Aku ambilin.” Keduanya sama-sama beranjak dari sofa namun dengan tujuan berbeda. Sang gadis menuju ke dapur untuk menyiapkan makanan sementara sang pria menuju ke meja makan dan menanti sang gadis disana. &#xA;&#xA;“Kamu belum makan Ai?” tanya Marcel saat dirinya melihat Aileen mengambilkan makanan untuk porsi dua orang.&#xA;&#xA;“Belum hehe, nungguin kamu,&#34; jawab Aileen dengan senyum pepsodent.&#xA;&#xA;“Kenapa? Kan bisa makan daritadi, nggak perlu nungguin aku.”&#xA;&#xA;“Pengen aja, lebih enak makan berdua sama kamu daripada sendiri.”&#xA;&#xA;“Kamu ini ya, nanti kalau sak—”&#xA;&#xA;“Udah ya, case closed. Masak kamu makan bareng aku mau marah-marah terus? Ini aku yang masak loh.&#34; Kalimat Marcel yang Aileen tiru membuat Aileen memenangkan sesi perdebatan dengan Marcel. Ia mengatkan kalimat itu dengan nada dibuat semirip Marcel dan wajah mengejek diakhir kalimat. Disisi lain Marcel hanya menggeleng-gelengkan kepala dan mengalah—tidak ingin memperpanjang.&#xA;&#xA;Hening kemudian, hanya suara sendok yang beradu dengan piring yang mengisi ruang diantara keduanya. Tak membutuhkan waktu lama untuk Aileen dan Marcel menghabiskan semua hidangan yang ada di meja makan.&#xA;&#xA;“Eumm enak Ai… kayaknya aku kalo makan masakan kamu bisa habis banyak deh. Terus tau-tau timbanganku naik banyak,&#34; puji Marcel. Piringnya pun tak menyisakan apapun. Walaupun bukan menu mewah yang Aileen sediakan, tapi usaha dan skill memasak perempuan itu harus di acungi jempol.&#xA;&#xA;“Hehehe syukur deh, aku sempat takut tadi kalau ada yang miss atau yang nggak kamu suka.” Setelah mengatakan itu, Aileen ijin ke Marcel untuk pergi ke dapur dan membersihkan semua peralatan makan yang keduanya barusan pakai. bawa bawa Kembali ke dapur &#xA;&#xA;Setelah menyelesaikan semua cucian piringnya, Aileen berniat untuk kembali menghampiri Marcel. Namun saat membalikkan badannya, ia berjingkat kaget mengetahui Marcel berdiri menjulang di belakangnya tanpa mengeluarkan suara.&#xA;&#34;Ini Marcel ngapain disiniii??!! Mau ngapain?!&#34; Batinnya berteriak panik.&#xA;&#xA;Perlahan Marcel kikis jarak antara dirinya dengan Aileen hingga menipis. Tangan kanannya ia angkat dan ia tangkupkan di pipi kiri Aileen sambil mengelus pipi sang hawa dengan lembut. Netranya ia arahkan menghujam tepat di kedua netra Aileen. &#xA;&#xA;“Kamu tadi nangis ya Ai? Aku sempat lihat tweet nya Freya. Kebetulan lewat timeline aku. Kamu nangis gara-gara aku ya?” &#xA;&#xA;“E-eh?” Aileen gelagapan, dirinya tak tahu harus menjawab apa.&#xA;&#xA;“Aku bikin kamu sakit hati ya?” kini kedua telapak tangan Marcel sudah menangkup kedua pipi Aileen. Raut wajahnya yang tadi menampilkan lengkung keatas sekarang mulai terlihat memuram. &#xA;&#xA;“Nggak kok, cuma… aku ngerasa bersyukur aja sama kamu. Sama semua perhatian yang kamu kasih, kalimat-kalimat yang ngingetin aku buat jangan overthinking dan bilang kalau aku cantik mau gimanapun keadaannya. I feel overwhelmed because of that, makanya aku nangis. Mungkin ini kedengeran lebay dan alay... tapi makasih ya kamu udah hadir di kehidupan aku.” Niat Aileen untuk hanya menangis dua kali di hari ini ternyata dikhianati oleh dirinya sendiri. Dirinya tak kuasa menahan tangis saat mengatakan kalimat itu. Sehingga berjatuhanlah bulir-bulir bening dari kedua bola matanya. Mungkin orang lain akan menganggap kalau aileen terlalu lebay menangis karena hal-hal sederhana yang marcel lakukan. Tapi ia tidak peduli, apa yang ia rasakan saat ini adalah perasaan tulus tanpa di buat-buat. &#xA;&#xA;Marcel lepas kedua telapak tangannya dari pipi aileen, kemudian ia hela tubuh mungil dan rapuh milik sang gadis kedalam rengkuhannya. Kedua tangan Aileen yang semula menggantung di samping tubuhnya perlahan terangkat dan membalas pelukan Marcel. Melalui pelukan itu hati keduanya dipenuhi perasaan hangat dan utuh, seolah-seolah pelukan itu memberitahukan bahwa disitulah tempat ternyaman untuk keduanya pulang.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Ting tong</p>

<p>Bunyi dari bel apartemen yang ditekan seseorang dari luar membuat Aileen bergegas melangkahkan kaki menuju ke ruang depan—membukakan pintu untuk sang tamu.</p>

<p>Saat pintu itu terbuka, pemandangan yang Aileen lihat adalah perawakan seorang laki-laki yang berpakaian serba hitam. Segera Aileen Tarik tangan laki-laki itu untuk masuk kedalam apartemennya.</p>

<p>“Kenapa nggak langsung masuk aja? Kan tadi di chat udah aku kasih tahu password pintunya,” ucap aileen sedikit mengomel.</p>

<p>Saat ini Aileen dan laki-laki itu duduk berhadapan-hadapan di sofa ruang tamu apartement milik Aileen. Benar, laki-laki yang saat ini sedang ada di hadapan Aileen adalah Marcel, ia benar-benar menepati perkataannya yang akan datang ke apartemen Aileen untuk mengambil cookies yang Aileen siapkan setelah ia selesai dengan jadwal kerjanya.</p>

<p>“Nggak enak Ai aku nerobos masuk malem-malem gini. Iya kalau waktu aku masuk kamu langung ngenalin kalau itu aku? Kalau nggak? Yang ada nanti malah bikin kamu jantungan lihat cowok pakek baju item-item kayak maling begini masuk apart kamu tiba-tiba,” jawab Marcel dengan sedikit bercanda. Situasi dan kondisi sekarang memang bisa menyebabkan Marcel di salah anggap sebagai &#39;maling&#39; karena cara berpakaiannya yang mencurigakan, apalagi saat ini ia menemui Aileen di waktu hampir menuju tengah malam. Jika ditanya apakah Marcel merasa lelah saat ini karena harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk datang menemui Aileen dan disaat ia baru saja pulang bekerja? Jawabannya adalah iya. Dia tidak akan berbohong jika ia merasa lelah, tapi perlahan rasa lelah itu perlahan terangkat saat ia bisa melihat Aileen ada di hadapannya dengan mata kepalanya sendiri.  Ya walaupun saat ia datang tadi harus terkena sedikit semprotan dari Aileen, tapi tidak masalah, gadis itu terlihat lucu ketika mengomel seperti itu.</p>

<p>“Ya kan maksud aku tuh—” Sesungguhnya Aileen tidak ada intensi mengomeli Marcel saat laki-laki itu baru saja mendaratkan pantatnya di sofa ruang tamu miliknya. Tapi karena Marcel yang tidak mau mengikuti intruksinya, jadilah mode mengomelnya yang seperti ibu-ibu menyala tanpa rencana.</p>

<p>Maksud Aileen memberitahukan kode sandi pintu apartemennya dan menyuruh Marcel langsung masuk adalah agar Marcel tidak perlu menunggu dirinya membukakan pintu. Bisa sajakan waktu Marcel datang dirinya sedang berada di ruangan yang menyebabkan ia tidak mendengar suara bel pintu? Selain itu juga untuk meminimalisir penghuni lain mengenali bahwa laki-laki yang berdiri di depan pintu apartemennya adalah seorang idol bernama Henry Marcel. Kendati niatnya meminimalisir sudah terbantu dengan pakaian penyamaran Marcel dan kondisi gedung apartemennya yang sepi karena sekarang waktu menunjukkan pukul sebelas malam, tapi tidak salah kan jika dirinya tetap antisipasi seperti itu?</p>

<p>“Udah ya, case closed. Masak kamu mau marah-marah ketemu aku? Nggak kangen? Aku kangen loh.” Sepenggal kalimat yang diucapkan Marcel menghentikan omelan Aileen yang belum selesai ia utarakan. Kala mulutnya mengatup, visinya baru bisa menamati guratan-guratan lelah yang terpatri di wajah sang adam. Ah Aileen merasa bodoh karena menyambut Marcel dengan omelan dan bukannya sambutan hangat, padahal laki-laki itu mau menahan rasa lelah hanya untuk datang kesini.</p>

<p>“Maaf, nggak maksud marah-marah. Kamu udah makan belom? Aku barusan banget angetin masakanku. Makan ya? Aku ambilin.” Keduanya sama-sama beranjak dari sofa namun dengan tujuan berbeda. Sang gadis menuju ke dapur untuk menyiapkan makanan sementara sang pria menuju ke meja makan dan menanti sang gadis disana.</p>

<p>“Kamu belum makan Ai?” tanya Marcel saat dirinya melihat Aileen mengambilkan makanan untuk porsi dua orang.</p>

<p>“Belum hehe, nungguin kamu,” jawab Aileen dengan senyum pepsodent.</p>

<p>“Kenapa? Kan bisa makan daritadi, nggak perlu nungguin aku.”</p>

<p>“Pengen aja, lebih enak makan berdua sama kamu daripada sendiri.”</p>

<p>“Kamu ini ya, nanti kalau sak—”</p>

<p>“Udah ya, case closed. Masak kamu makan bareng aku mau marah-marah terus? Ini aku yang masak loh.” Kalimat Marcel yang Aileen tiru membuat Aileen memenangkan sesi perdebatan dengan Marcel. Ia mengatkan kalimat itu dengan nada dibuat semirip Marcel dan wajah mengejek diakhir kalimat. Disisi lain Marcel hanya menggeleng-gelengkan kepala dan mengalah—tidak ingin memperpanjang.</p>

<p>Hening kemudian, hanya suara sendok yang beradu dengan piring yang mengisi ruang diantara keduanya. Tak membutuhkan waktu lama untuk Aileen dan Marcel menghabiskan semua hidangan yang ada di meja makan.</p>

<p>“Eumm enak Ai… kayaknya aku kalo makan masakan kamu bisa habis banyak deh. Terus tau-tau timbanganku naik banyak,” puji Marcel. Piringnya pun tak menyisakan apapun. Walaupun bukan menu mewah yang Aileen sediakan, tapi usaha dan skill memasak perempuan itu harus di acungi jempol.</p>

<p>“Hehehe syukur deh, aku sempat takut tadi kalau ada yang miss atau yang nggak kamu suka.” Setelah mengatakan itu, Aileen ijin ke Marcel untuk pergi ke dapur dan membersihkan semua peralatan makan yang keduanya barusan pakai. bawa bawa Kembali ke dapur</p>

<p>Setelah menyelesaikan semua cucian piringnya, Aileen berniat untuk kembali menghampiri Marcel. Namun saat membalikkan badannya, ia berjingkat kaget mengetahui Marcel berdiri menjulang di belakangnya tanpa mengeluarkan suara.
“Ini Marcel ngapain disiniii??!! Mau ngapain?!” Batinnya berteriak panik.</p>

<p>Perlahan Marcel kikis jarak antara dirinya dengan Aileen hingga menipis. Tangan kanannya ia angkat dan ia tangkupkan di pipi kiri Aileen sambil mengelus pipi sang hawa dengan lembut. Netranya ia arahkan menghujam tepat di kedua netra Aileen.</p>

<p>“Kamu tadi nangis ya Ai? Aku sempat lihat tweet nya Freya. Kebetulan lewat timeline aku. Kamu nangis gara-gara aku ya?”</p>

<p>“E-eh?” Aileen gelagapan, dirinya tak tahu harus menjawab apa.</p>

<p>“Aku bikin kamu sakit hati ya?” kini kedua telapak tangan Marcel sudah menangkup kedua pipi Aileen. Raut wajahnya yang tadi menampilkan lengkung keatas sekarang mulai terlihat memuram.</p>

<p>“Nggak kok, cuma… aku ngerasa bersyukur aja sama kamu. Sama semua perhatian yang kamu kasih, kalimat-kalimat yang ngingetin aku buat jangan overthinking dan bilang kalau aku cantik mau gimanapun keadaannya. I feel overwhelmed because of that, makanya aku nangis. Mungkin ini kedengeran lebay dan alay... tapi makasih ya kamu udah hadir di kehidupan aku.” Niat Aileen untuk hanya menangis dua kali di hari ini ternyata dikhianati oleh dirinya sendiri. Dirinya tak kuasa menahan tangis saat mengatakan kalimat itu. Sehingga berjatuhanlah bulir-bulir bening dari kedua bola matanya. Mungkin orang lain akan menganggap kalau aileen terlalu lebay menangis karena hal-hal sederhana yang marcel lakukan. Tapi ia tidak peduli, apa yang ia rasakan saat ini adalah perasaan tulus tanpa di buat-buat.</p>

<p>Marcel lepas kedua telapak tangannya dari pipi aileen, kemudian ia hela tubuh mungil dan rapuh milik sang gadis kedalam rengkuhannya. Kedua tangan Aileen yang semula menggantung di samping tubuhnya perlahan terangkat dan membalas pelukan Marcel. Melalui pelukan itu hati keduanya dipenuhi perasaan hangat dan utuh, seolah-seolah pelukan itu memberitahukan bahwa disitulah tempat ternyaman untuk keduanya pulang.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://royals-melody.writeas.com/ting-tong</guid>
      <pubDate>Sat, 29 Jan 2022 05:00:21 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sungai Han</title>
      <link>https://royals-melody.writeas.com/sungai-han?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sungai Han&#xA;&#xA;Sungai Han&#xA;&#xA;Dari balik kemudi mobil yang Marcel kendarai, netranya menangkap sosok yang ia nanti. Senyumnya tak luntur melihat sang gadis yang sedang berjalan mendekat. Dari kejauhan saja, aura kecantikan yang dipancarkan oleh gadis itu sudah bisa menyita perhatian Marcel.&#xA;&#xA;Tuk tuk&#xA;&#xA;Karena terlalu fokus memperhatikan sang gadis, membuat Marcel tak menyadari bahwa Aileen sudah berdiri di samping pintu mobil. Setelah tersadar dari lamanunannya dengan tergesa Marcel membuka kunci pintu itu dari dalam. &#xA;&#xA;“Hai, lama nunggunya?” sapa Aileen dengan senyum manis yang terpatri di bibirnya sambil menyamankan posisi duduk. Walaupun ia terlihat santai seolah-seolah ia sudah terbiasa bertemu dengan Marcel, tapi percayalah, rongga dadanya saat ini sedang berdentum dengan sangat kencang. Ia merasa gugup dan tidak percaya diri dengan penampilannya sekarang, yang hanya mengenakan outfit casual dan wajah tanpa polesan make up. Jika saja ia tahu bahwa Marcel akan menghampirinya seperti ini, pasti sebelum pergi tadi ia akan sedikit berdandan. Tapi mau bagaimana lagi, hal ini tidak di rencanakan.&#xA; &#xA;“Nggak kok, kamu ngapain malem-malem ke Sungai Han? Sendirian pula,” tanya marcel. &#xA;&#xA;“Bosen aja di apart, Freya nggak bisa di ajak. Dia lagi keluar sama temen-temen kuliahnya. Makanya aku keluar sendiri.” timpal Aileen.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa nggak ngajak aku? Kan bisa aku temenin.&#34; Alis Aileen sedikit terangkat mendengar penuturan Marcel, kalimat itu masih terasa asing di indera pendengarannya. Selain karena ia tidak berani mengajak Marcel keluar--takut mengganggu jadwal sang pria--juga karena Aileen tidak ingin cari mati dengan terang-terangan berkeliaran bersama seorang idol tampan di tengah-tengah Kota Seoul. &#xA;&#xA;&#34;Emang nggak ada pikiran buat ngajak kamu, pikirku sih biar kamu istirahat aja di apart. Pasti capek kan habis kerja seharian, nggak mungkin aku tega ngajak kamu cuma buat nemenin aku yang keluar nggak ada tujuannya gini,&#34; jelas Aileen.&#xA; &#xA;“Ya udah kalau gitu. Tapi kalo kamu aku ajak jalan-jalan sekarang, kamu mau kan Ai?” &#xA;&#xA;“Kemana?”&#xA;&#xA;“Nanti pasti tahu.” Marcel nyalakan mesin roda empat itu, saat akan menginjak pedal gas. Ujung netranya mendapati Aileen belum mengenakan sabuk pengamannya. Langsung saja Marcel mencondongkan badannya kearah Aileen untuk meraih sabuk pengaman itu dan memasangkannya dengan benar. Tentu saja Aileen kaget bukan main dengan tindakan tiba-tiba marcel, ia sempat menahan napas dan sedikit menarik kepalanya kebelakang karena jarak wajah Marcel dan dirinya tadi hanya terlampau dekat. Bahkan jika tadi Aileen majukan kepalanya kedepan beberapa inci saja, bibirnya sudah pasti mengenai pipi pria itu. &#xA;&#xA;“Kalau naik mobil jangan lupa pakai sabuk pengaman Ai.” Peringat Marcel. Aileen hanya menjawab dengan anggukan kepala, lidahnya masih kelu untuk menjawab walaupun hanya sepatah kata. &#34;Gila, gila. Dia kenapa gitu sih, ga ngerti apa kalau bikin jantung gue makin dag dig dug.&#34; oceh Aileen dalam batin. Kemudian segera mereka pergi ke tempat tujuan Marcel. &#xA;---&#xA;Sepanjang perjalanan, suasana yang terjadi diantara keduanya sudah tidak secanggung tadi. Selain karena terbantu dengan musik yang Marcel nyalakan di speaker mobilnya, juga karena Marcel yang berusaha untuk mencari topik bahasan—memaksimalkan kesempatan pertamanya bisa berbincang santai dengan sang pujaan hati. Pertanyaan yang mereka berdua obrolkan pun hanya obrolan ringan seperti makanan favorit, warna favorit, hingga tempat favorit mereka untuk melakukan healing. Dari obrolan itu juga Marcel mengetahui bahwa Sungai Han adalah tempat favorite Aileen. &#xA;&#xA;“Terus kamu kalau healing biasanya kemana Cel?” tanya Aileen penasaran. &#xA;&#xA;&#34;Sebenernya aku suka dateng ke Namsan Tower, cari angin sambil liatin Seoul pas malem, rasanya kayak bisa napas dengan bebas gitu. Tapi karena kamu suka Sungai Han. Aku ajak kamu ke tempat khusus. Tempat ini sering aku sama datengin sama anak-anak.&#34; terang Marcel. &#xA;&#xA;Beberapa saat kemudian, akhirnya tiba lah mereka di destinasi yang Marcel katakan. Keduanya berhenti di sebuah Restaurant yang bernuansa klasik. Restaurant ini masih berada di pinggir sungai Han yang berada delapan kilometer dari pusat Kota Seoul, tepatnya di distrik Mapo. &#xA; &#xA;“Ayok Ai turun” ajak marcel kepada Aileen. Dirinya saat ini sudah mengenakan topi, masker, dan hoodie untuk menutupi identitasnya. &#xA;“Ini kita mau makan di sini? Nanti kalo ada yang ngenalin kamu gimana?” Otak Aileen langsung memberikan kode peringatan, mengatakan bahwa dine-in di resto ini bukanlah ide yang bagus. Karena saat mobil mereka memasuki perkarangan restaurant sudah di penuhi oleh mobil yang berjejer, yang mengartikan bahwa di dalam restaurant itu juga penuh.&#xA; &#xA;“Tenang aja, yang punya restaurant ini aku sama anak-anak. Restonya udah di desain punya ruangan khusus.Jadi kami bisa bebas tanpa harus takut ketahuan. Yuk turun.” &#xA;&#xA;Marcel memakirkan mobilnya di belakang gedung bersama kendaraan para karyawannya juga tempat parkir ini dijaga oleh seorang satpam. Sehingga tidak semua orang bisa masuk ke area belakang restaurant. &#xA;Kedua langsung masuk kedalam restaurant melalui pintu khusus karyawan. Aileen terus mengikuti Langkah marcel, hingga keduanya sampai di suatu ruangan yang memiliki kaca besar-besar yang menampilkan pemandangan hamparan Sungai Han yang indah. &#xA;&#xA;Aileen sempat takjub beberapa saat, menamati perpaduan indahnya interior bernuansa klasik dengan sentuhan modern. Disini selain ada meja makan yang berada dekat dengan jendela, juga ada sofa beserta tv led berukuran 24 inch dengan playstation yang tersambung. Benar-benar ruangan yang cocok yang digunakan untuk bersantai.&#xA;Hingga ia tersadar saat tangan Marcel dengan lembut meraih tangannya menuntun untuk duduk di meja makan itu. &#xA;&#xA;“Pemandangannya cantik ya Cel.” Saat ini keduanya sudah duduk berhadap-hadapan, tak lupa tadi dengan gentle Marcel menarik kursi untuk Aileen dan mempersilahkannya duduk sebelum mendudukkan diri. Mereka kembali tenggelam dalam perbincangan ringan, hingga tiba-tiba seorang pegawai--dengan tag bertuliskan manajer masuk menginterupsi keduanya. Ada berbagai menu seafood yang ditawarkan di buku menu itu, Aileen hanya memesan haemul pajeon,  spicy seafood japchae  dan grilled galbi* dengan jus jeruk. Ia memesan sedikit banyak karena mendengar Marcel yang hanya memesan minum. &#xA;&#xA;Saat pesanan mereka sudah berada di atas meja makan, Aileen langsung menggeser piring makanan ke hadapan Marcel dan mengangsurkan sendok kepada Marcel. &#xA;&#xA;Tapi marcel hanya diam seperti patung dan hanya menatap Aileen bingung. Greget karena Marcel yang tidak segera mengambil sendok yang ia berikan, Aileen langsung mengambil sendok itu dan memaksa Marcel untuk memegangnya. &#xA;  &#xA;“Nggak ada cerita cuma aku yang makan. Kamu juga harus ikut makan Cel. Nggak ada penolakan ya, kalo nolak aku suap kamu secara paksa.” Marcel ingin menolak, tapi saat baru saja bibirnya akan terbuka Aileen langsung mengatakan kalimat itu dengan nada yang menyiratkan ia tidak ingin dibantah--Marcel langsung mengatupkan mulutnya kembali, dan ikut memakan penasanan Aileen. &#xA;&#xA;Aileen tertawa keras dalam hati saat melihat ekspresi Marcel yang kicep tidak berani membantah, benar-benar terlihat seperti seorang anak yang takut dimarahi oleh sang Bunda. Kemudian hatinya perlahan menghangat, bisa melihat Marcel yang saat ini ada di hadapannya dan bisa menghabiskan waktu bersama dengan santai di sebuah restaurant yang berada di pinggir Sungai Han benar-benar perpaduan yang tak ada dibayangannya. Indah, sangat indah.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://i.pinimg.com/564x/c8/9f/6a/c89f6a26ecfc14452549f83cd72698de.jpg" alt="Sungai Han"/></p>

<h1 id="sungai-han" id="sungai-han">Sungai Han</h1>

<p>Dari balik kemudi mobil yang Marcel kendarai, netranya menangkap sosok yang ia nanti. Senyumnya tak luntur melihat sang gadis yang sedang berjalan mendekat. Dari kejauhan saja, aura kecantikan yang dipancarkan oleh gadis itu sudah bisa menyita perhatian Marcel.</p>

<p><strong>Tuk tuk</strong></p>

<p>Karena terlalu fokus memperhatikan sang gadis, membuat Marcel tak menyadari bahwa Aileen sudah berdiri di samping pintu mobil. Setelah tersadar dari lamanunannya dengan tergesa Marcel membuka kunci pintu itu dari dalam.</p>

<p>“Hai, lama nunggunya?” sapa Aileen dengan senyum manis yang terpatri di bibirnya sambil menyamankan posisi duduk. Walaupun ia terlihat santai seolah-seolah ia sudah terbiasa bertemu dengan Marcel, tapi percayalah, rongga dadanya saat ini sedang berdentum dengan sangat kencang. Ia merasa gugup dan tidak percaya diri dengan penampilannya sekarang, yang hanya mengenakan outfit casual* dan wajah tanpa polesan make up. Jika saja ia tahu bahwa Marcel akan menghampirinya seperti ini, pasti sebelum pergi tadi ia akan sedikit berdandan. Tapi mau bagaimana lagi, hal ini tidak di rencanakan.</p>

<p>“Nggak kok, kamu ngapain malem-malem ke Sungai Han? Sendirian pula,” tanya marcel.</p>

<p>“Bosen aja di apart, Freya nggak bisa di ajak. Dia lagi keluar sama temen-temen kuliahnya. Makanya aku keluar sendiri.” timpal Aileen.</p>

<p>“Kenapa nggak ngajak aku? Kan bisa aku temenin.” Alis Aileen sedikit terangkat mendengar penuturan Marcel, kalimat itu masih terasa asing di indera pendengarannya. Selain karena ia tidak berani mengajak Marcel keluar—takut mengganggu jadwal sang pria—juga karena Aileen tidak ingin cari mati dengan terang-terangan berkeliaran bersama seorang idol tampan di tengah-tengah Kota Seoul.</p>

<p>“Emang nggak ada pikiran buat ngajak kamu, pikirku sih biar kamu istirahat aja di apart. Pasti capek kan habis kerja seharian, nggak mungkin aku tega ngajak kamu cuma buat nemenin aku yang keluar nggak ada tujuannya gini,” jelas Aileen.</p>

<p>“Ya udah kalau gitu. Tapi kalo kamu aku ajak jalan-jalan sekarang, kamu mau kan Ai?”</p>

<p>“Kemana?”</p>

<p>“Nanti pasti tahu.” Marcel nyalakan mesin roda empat itu, saat akan menginjak pedal gas. Ujung netranya mendapati Aileen belum mengenakan sabuk pengamannya. Langsung saja Marcel mencondongkan badannya kearah Aileen untuk meraih sabuk pengaman itu dan memasangkannya dengan benar. Tentu saja Aileen kaget bukan main dengan tindakan tiba-tiba marcel, ia sempat menahan napas dan sedikit menarik kepalanya kebelakang karena jarak wajah Marcel dan dirinya tadi hanya terlampau dekat. Bahkan jika tadi Aileen majukan kepalanya kedepan beberapa inci saja, bibirnya sudah pasti mengenai pipi pria itu.</p>

<p>“Kalau naik mobil jangan lupa pakai sabuk pengaman Ai.” Peringat Marcel. Aileen hanya menjawab dengan anggukan kepala, lidahnya masih kelu untuk menjawab walaupun hanya sepatah kata. “Gila, gila. Dia kenapa gitu sih, ga ngerti apa kalau bikin jantung gue makin dag dig dug.” oceh Aileen dalam batin. Kemudian segera mereka pergi ke tempat tujuan Marcel.</p>

<hr/>

<p>Sepanjang perjalanan, suasana yang terjadi diantara keduanya sudah tidak secanggung tadi. Selain karena terbantu dengan musik yang Marcel nyalakan di <em>speaker</em> mobilnya, juga karena Marcel yang berusaha untuk mencari topik bahasan—memaksimalkan kesempatan pertamanya bisa berbincang santai dengan sang pujaan hati. Pertanyaan yang mereka berdua obrolkan pun hanya obrolan ringan seperti makanan favorit, warna favorit, hingga tempat favorit mereka untuk melakukan <em>healing</em>. Dari obrolan itu juga Marcel mengetahui bahwa Sungai Han adalah tempat <em>favorite</em> Aileen.</p>

<p>“Terus kamu kalau healing biasanya kemana Cel?” tanya Aileen penasaran.</p>

<p>“Sebenernya aku suka dateng ke Namsan Tower, cari angin sambil liatin Seoul pas malem, rasanya kayak bisa napas dengan bebas gitu. Tapi karena kamu suka Sungai Han. Aku ajak kamu ke tempat khusus. Tempat ini sering aku sama datengin sama anak-anak.” terang Marcel.</p>

<p>Beberapa saat kemudian, akhirnya tiba lah mereka di destinasi yang Marcel katakan. Keduanya berhenti di sebuah Restaurant yang bernuansa klasik. Restaurant ini masih berada di pinggir sungai Han yang berada delapan kilometer dari pusat Kota Seoul, tepatnya di distrik Mapo.</p>

<p>“Ayok Ai turun” ajak marcel kepada Aileen. Dirinya saat ini sudah mengenakan topi, masker, dan hoodie untuk menutupi identitasnya.
“Ini kita mau makan di sini? Nanti kalo ada yang ngenalin kamu gimana?” Otak Aileen langsung memberikan kode peringatan, mengatakan bahwa <em>dine-in</em> di resto ini bukanlah ide yang bagus. Karena saat mobil mereka memasuki perkarangan <em>restaurant</em> sudah di penuhi oleh mobil yang berjejer, yang mengartikan bahwa di dalam <em>restaurant</em> itu juga penuh.</p>

<p>“Tenang aja, yang punya restaurant ini aku sama anak-anak. Restonya udah di desain punya ruangan khusus.Jadi kami bisa bebas tanpa harus takut ketahuan. Yuk turun.”</p>

<p>Marcel memakirkan mobilnya di belakang gedung bersama kendaraan para karyawannya juga tempat parkir ini dijaga oleh seorang satpam. Sehingga tidak semua orang bisa masuk ke area belakang restaurant.
Kedua langsung masuk kedalam restaurant melalui pintu khusus karyawan. Aileen terus mengikuti Langkah marcel, hingga keduanya sampai di suatu ruangan yang memiliki kaca besar-besar yang menampilkan pemandangan hamparan Sungai Han yang indah.</p>

<p>Aileen sempat takjub beberapa saat, menamati perpaduan indahnya interior bernuansa klasik dengan sentuhan modern. Disini selain ada meja makan yang berada dekat dengan jendela, juga ada sofa beserta tv led berukuran 24 inch dengan playstation yang tersambung. Benar-benar ruangan yang cocok yang digunakan untuk bersantai.
Hingga ia tersadar saat tangan Marcel dengan lembut meraih tangannya menuntun untuk duduk di meja makan itu.</p>

<p>“Pemandangannya cantik ya Cel.” Saat ini keduanya sudah duduk berhadap-hadapan, tak lupa tadi dengan gentle Marcel menarik kursi untuk Aileen dan mempersilahkannya duduk sebelum mendudukkan diri. Mereka kembali tenggelam dalam perbincangan ringan, hingga tiba-tiba seorang pegawai—dengan tag bertuliskan manajer masuk menginterupsi keduanya. Ada berbagai menu seafood yang ditawarkan di buku menu itu, Aileen hanya memesan <em>haemul pajeon</em>,  <em>spicy seafood japchae</em>  dan <em>grilled galbi</em> dengan jus jeruk. Ia memesan sedikit banyak karena mendengar Marcel yang hanya memesan minum.</p>

<p>Saat pesanan mereka sudah berada di atas meja makan, Aileen langsung menggeser piring makanan ke hadapan Marcel dan mengangsurkan sendok kepada Marcel.</p>

<p>Tapi marcel hanya diam seperti patung dan hanya menatap Aileen bingung. Greget karena Marcel yang tidak segera mengambil sendok yang ia berikan, Aileen langsung mengambil sendok itu dan memaksa Marcel untuk memegangnya.</p>

<p>“Nggak ada cerita cuma aku yang makan. Kamu juga harus ikut makan Cel. Nggak ada penolakan ya, kalo nolak aku suap kamu secara paksa.” Marcel ingin menolak, tapi saat baru saja bibirnya akan terbuka Aileen langsung mengatakan kalimat itu dengan nada yang menyiratkan ia tidak ingin dibantah—Marcel langsung mengatupkan mulutnya kembali, dan ikut memakan penasanan Aileen.</p>

<p>Aileen tertawa keras dalam hati saat melihat ekspresi Marcel yang kicep tidak berani membantah, benar-benar terlihat seperti seorang anak yang takut dimarahi oleh sang Bunda. Kemudian hatinya perlahan menghangat, bisa melihat Marcel yang saat ini ada di hadapannya dan bisa menghabiskan waktu bersama dengan santai di sebuah restaurant yang berada di pinggir Sungai Han benar-benar perpaduan yang tak ada dibayangannya. Indah, sangat indah.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://royals-melody.writeas.com/sungai-han</guid>
      <pubDate>Tue, 18 Jan 2022 11:44:06 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sungai Han</title>
      <link>https://royals-melody.writeas.com/dari-balik-kemudi-mobil-yang-marcel-kendarai-netranya-menangkap-sosok-yang-ia?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sungai Han&#xA;Sungai Han&#xA;&#xA;Dari balik kemudi mobil yang Marcel kendarai, netranya menangkap sosok yang ia nanti. Senyumnya tak luntur melihat sang gadis yang sedang berjalan mendekat. Dari kejauhan saja, aura kecantikan yang dipancarkan oleh gadis itu sudah bisa menyita perhatian Marcel.&#xA;&#xA;Tuk tuk&#xA;&#xA;Karena terlalu fokus memperhatikan sang gadis, membuat Marcel tak menyadari bahwa Aileen sudah berdiri di samping pintu mobil. Setelah tersadar dari lamanunannya dengan tergesa Marcel membuka kunci pintu itu dari dalam. &#xA;&#xA;“Hai, lama nunggunya?” sapa Aileen dengan senyum manis yang terpatri di bibirnya sambil menyamankan posisi duduk. Walaupun ia terlihat santai seolah-seolah ia sudah terbiasa bertemu dengan Marcel, tapi percayalah, rongga dadanya saat ini sedang berdentum dengan sangat kencang. Ia merasa gugup dan tidak percaya diri dengan penampilannya sekarang, yang hanya mengenakan outfit casual dan wajah tanpa polesan make up. Jika saja ia tahu bahwa Marcel akan menghampirinya seperti ini, pasti sebelum pergi tadi ia akan sedikit berdandan. Tapi mau bagaimana lagi, hal ini tidak di rencanakan.&#xA; &#xA;“Nggak kok, kamu ngapain malem-malem ke Sungai Han? Sendirian pula,” tanya marcel. &#xA;&#xA;“Bosen aja di apart, Freya nggak bisa di ajak. Dia lagi keluar sama temen-temen kuliahnya. Makanya aku keluar sendiri.” timpal Aileen.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa nggak ngajak aku? Kan bisa aku temenin.&#34; Alis Aileen sedikit terangkat mendengar penuturan Marcel, kalimat itu masih terasa asing di indera pendengarannya. Selain karena ia tidak berani mengajak Marcel keluar--takut mengganggu jadwal sang pria--juga karena Aileen tidak ingin cari mati dengan terang-terangan berkeliaran bersama seorang idol tampan di tengah-tengah Kota Seoul. &#xA;&#xA;&#34;Emang nggak ada pikiran buat ngajak kamu, pikirku sih biar kamu istirahat aja di apart. Pasti capek kan habis kerja seharian, nggak mungkin aku tega ngajak kamu cuma buat nemenin aku yang keluar nggak ada tujuannya gini,&#34; jelas Aileen.&#xA; &#xA;“Ya udah kalau gitu. Tapi kalo kamu aku ajak jalan-jalan sekarang, kamu mau kan Ai?” &#xA;&#xA;“Kemana?”&#xA;&#xA;“Nanti pasti tahu.” Marcel nyalakan mesin roda empat itu, saat akan menginjak pedal gas. Ujung netranya mendapati Aileen belum mengenakan sabuk pengamannya. Langsung saja Marcel mencondongkan badannya kearah Aileen untuk meraih sabuk pengaman itu dan memasangkannya dengan benar. Tentu saja Aileen kaget bukan main dengan tindakan tiba-tiba marcel, ia sempat menahan napas dan sedikit menarik kepalanya kebelakang karena jarak wajah Marcel dan dirinya tadi hanya terlampau dekat. Bahkan jika tadi Aileen majukan kepalanya kedepan beberapa inci saja, bibirnya sudah pasti mengenai pipi pria itu. &#xA;&#xA;“Kalau naik mobil jangan lupa pakai sabuk pengaman Ai.” Peringat Marcel. Aileen hanya menjawab dengan anggukan kepala, lidahnya masih kelu untuk menjawab walaupun hanya sepatah kata. &#34;Gila, gila. Dia kenapa gitu sih, ga ngerti apa kalau bikin jantung gue makin dag dig dug.&#34; oceh Aileen dalam batin. Kemudian segera mereka pergi ke tempat tujuan Marcel. &#xA;---&#xA;Sepanjang perjalanan, suasana yang terjadi diantara keduanya sudah tidak secanggung tadi. Selain karena terbantu dengan musik yang Marcel nyalakan di speaker mobilnya, juga karena Marcel yang berusaha untuk mencari topik bahasan—memaksimalkan kesempatan pertamanya bisa berbincang santai dengan sang pujaan hati. Pertanyaan yang mereka berdua obrolkan pun hanya obrolan ringan seperti makanan favorit, warna favorit, hingga tempat favorit mereka untuk melakukan healing. Dari obrolan itu juga Marcel mengetahui bahwa Sungai Han adalah tempat favorite Aileen. &#xA;&#xA;“Terus kamu kalau healing biasanya kemana Cel?” tanya Aileen penasaran. &#xA;&#xA;&#34;Sebenernya aku suka dateng ke Namsan Tower, cari angin sambil liatin Seoul pas malem, rasanya kayak bisa napas dengan bebas gitu. Tapi karena kamu suka Sungai Han. Aku ajak kamu ke tempat khusus. Tempat ini sering aku sama datengin sama anak-anak.&#34; terang Marcel. &#xA;&#xA;Beberapa saat kemudian, akhirnya tiba lah mereka di destinasi yang Marcel katakan. Keduanya berhenti di sebuah Restaurant yang bernuansa klasik. Restaurant ini masih berada di pinggir sungai Han yang berada delapan kilometer dari pusat Kota Seoul, tepatnya di distrik Mapo. &#xA; &#xA;“Ayok Ai turun” ajak marcel kepada Aileen. Dirinya saat ini sudah mengenakan topi, masker, dan hoodie untuk menutupi identitasnya. &#xA;“Ini kita mau makan di sini? Nanti kalo ada yang ngenalin kamu gimana?” Otak Aileen langsung memberikan kode peringatan, mengatakan bahwa dine-in di resto ini bukanlah ide yang bagus. Karena saat mobil mereka memasuki perkarangan restaurant sudah di penuhi oleh mobil yang berjejer, yang mengartikan bahwa di dalam restaurant itu juga penuh.&#xA; &#xA;“Tenang aja, yang punya restaurant ini aku sama anak-anak. Restonya udah di desain punya ruangan khusus.Jadi kami bisa bebas tanpa harus takut ketahuan. Yuk turun.” &#xA;&#xA;Marcel memakirkan mobilnya di belakang gedung bersama kendaraan para karyawannya juga tempat parkir ini dijaga oleh seorang satpam. Sehingga tidak semua orang bisa masuk ke area belakang restaurant. &#xA;Kedua langsung masuk kedalam restaurant melalui pintu khusus karyawan. Aileen terus mengikuti Langkah marcel, hingga keduanya sampai di suatu ruangan yang memiliki kaca besar-besar yang menampilkan pemandangan hamparan Sungai Han yang indah. &#xA;&#xA;Aileen sempat takjub beberapa saat, menamati perpaduan indahnya interior bernuansa klasik dengan sentuhan modern. Disini selain ada meja makan yang berada dekat dengan jendela, juga ada sofa beserta tv led berukuran 24 inch dengan playstation yang tersambung. Benar-benar ruangan yang cocok yang digunakan untuk bersantai.&#xA;Hingga ia tersadar saat tangan Marcel dengan lembut meraih tangannya menuntun untuk duduk di meja makan itu. &#xA;&#xA;“Pemandangannya cantik ya Cel.” Saat ini keduanya sudah duduk berhadap-hadapan, tak lupa tadi dengan gentle Marcel menarik kursi untuk Aileen dan mempersilahkannya duduk sebelum mendudukkan diri. Mereka kembali tenggelam dalam perbincangan ringan, hingga tiba-tiba seorang pegawai--dengan tag bertuliskan manajer masuk menginterupsi keduanya. Ada berbagai menu seafood yang ditawarkan di buku menu itu, Aileen hanya memesan haemul pajeon,  spicy seafood japchae  dan grilled galbi* dengan jus jeruk. Ia memesan sedikit banyak karena mendengar Marcel yang hanya memesan minum. &#xA;&#xA;Saat pesanan mereka sudah berada di atas meja makan, Aileen langsung menggeser piring makanan ke hadapan Marcel dan mengangsurkan sendok kepada Marcel. &#xA;&#xA;Tapi marcel hanya diam seperti patung dan hanya menatap Aileen bingung. Greget karena Marcel yang tidak segera mengambil sendok yang ia berikan, Aileen langsung mengambil sendok itu dan memaksa Marcel untuk memegangnya. &#xA;  &#xA;“Nggak ada cerita cuma aku yang makan. Kamu juga harus ikut makan Cel. Nggak ada penolakan ya, kalo nolak aku suap kamu secara paksa.” Marcel ingin menolak, tapi saat baru saja bibirnya akan terbuka Aileen langsung mengatakan kalimat itu dengan nada yang menyiratkan ia tidak ingin dibantah--Marcel langsung mengatupkan mulutnya kembali, dan ikut memakan penasanan Aileen. &#xA;&#xA;Aileen tertawa keras dalam hati saat melihat ekspresi Marcel yang kicep tidak berani membantah, benar-benar terlihat seperti seorang anak yang takut dimarahi oleh sang Bunda. Kemudian hatinya perlahan menghangat, bisa melihat Marcel yang saat ini ada di hadapannya dan bisa menghabiskan waktu bersama dengan santai di sebuah restaurant yang berada di pinggir Sungai Han benar-benar perpaduan yang tak ada dibayangannya. Indah, sangat indah.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://i.pinimg.com/564x/c8/9f/6a/c89f6a26ecfc14452549f83cd72698de.jpg" alt="Sungai Han"/></p>

<h1 id="sungai-han" id="sungai-han">Sungai Han</h1>

<p>Dari balik kemudi mobil yang Marcel kendarai, netranya menangkap sosok yang ia nanti. Senyumnya tak luntur melihat sang gadis yang sedang berjalan mendekat. Dari kejauhan saja, aura kecantikan yang dipancarkan oleh gadis itu sudah bisa menyita perhatian Marcel.</p>

<p><strong>Tuk tuk</strong></p>

<p>Karena terlalu fokus memperhatikan sang gadis, membuat Marcel tak menyadari bahwa Aileen sudah berdiri di samping pintu mobil. Setelah tersadar dari lamanunannya dengan tergesa Marcel membuka kunci pintu itu dari dalam.</p>

<p>“Hai, lama nunggunya?” sapa Aileen dengan senyum manis yang terpatri di bibirnya sambil menyamankan posisi duduk. Walaupun ia terlihat santai seolah-seolah ia sudah terbiasa bertemu dengan Marcel, tapi percayalah, rongga dadanya saat ini sedang berdentum dengan sangat kencang. Ia merasa gugup dan tidak percaya diri dengan penampilannya sekarang, yang hanya mengenakan outfit casual* dan wajah tanpa polesan make up. Jika saja ia tahu bahwa Marcel akan menghampirinya seperti ini, pasti sebelum pergi tadi ia akan sedikit berdandan. Tapi mau bagaimana lagi, hal ini tidak di rencanakan.</p>

<p>“Nggak kok, kamu ngapain malem-malem ke Sungai Han? Sendirian pula,” tanya marcel.</p>

<p>“Bosen aja di apart, Freya nggak bisa di ajak. Dia lagi keluar sama temen-temen kuliahnya. Makanya aku keluar sendiri.” timpal Aileen.</p>

<p>“Kenapa nggak ngajak aku? Kan bisa aku temenin.” Alis Aileen sedikit terangkat mendengar penuturan Marcel, kalimat itu masih terasa asing di indera pendengarannya. Selain karena ia tidak berani mengajak Marcel keluar—takut mengganggu jadwal sang pria—juga karena Aileen tidak ingin cari mati dengan terang-terangan berkeliaran bersama seorang idol tampan di tengah-tengah Kota Seoul.</p>

<p>“Emang nggak ada pikiran buat ngajak kamu, pikirku sih biar kamu istirahat aja di apart. Pasti capek kan habis kerja seharian, nggak mungkin aku tega ngajak kamu cuma buat nemenin aku yang keluar nggak ada tujuannya gini,” jelas Aileen.</p>

<p>“Ya udah kalau gitu. Tapi kalo kamu aku ajak jalan-jalan sekarang, kamu mau kan Ai?”</p>

<p>“Kemana?”</p>

<p>“Nanti pasti tahu.” Marcel nyalakan mesin roda empat itu, saat akan menginjak pedal gas. Ujung netranya mendapati Aileen belum mengenakan sabuk pengamannya. Langsung saja Marcel mencondongkan badannya kearah Aileen untuk meraih sabuk pengaman itu dan memasangkannya dengan benar. Tentu saja Aileen kaget bukan main dengan tindakan tiba-tiba marcel, ia sempat menahan napas dan sedikit menarik kepalanya kebelakang karena jarak wajah Marcel dan dirinya tadi hanya terlampau dekat. Bahkan jika tadi Aileen majukan kepalanya kedepan beberapa inci saja, bibirnya sudah pasti mengenai pipi pria itu.</p>

<p>“Kalau naik mobil jangan lupa pakai sabuk pengaman Ai.” Peringat Marcel. Aileen hanya menjawab dengan anggukan kepala, lidahnya masih kelu untuk menjawab walaupun hanya sepatah kata. “Gila, gila. Dia kenapa gitu sih, ga ngerti apa kalau bikin jantung gue makin dag dig dug.” oceh Aileen dalam batin. Kemudian segera mereka pergi ke tempat tujuan Marcel.</p>

<hr/>

<p>Sepanjang perjalanan, suasana yang terjadi diantara keduanya sudah tidak secanggung tadi. Selain karena terbantu dengan musik yang Marcel nyalakan di <em>speaker</em> mobilnya, juga karena Marcel yang berusaha untuk mencari topik bahasan—memaksimalkan kesempatan pertamanya bisa berbincang santai dengan sang pujaan hati. Pertanyaan yang mereka berdua obrolkan pun hanya obrolan ringan seperti makanan favorit, warna favorit, hingga tempat favorit mereka untuk melakukan <em>healing</em>. Dari obrolan itu juga Marcel mengetahui bahwa Sungai Han adalah tempat <em>favorite</em> Aileen.</p>

<p>“Terus kamu kalau healing biasanya kemana Cel?” tanya Aileen penasaran.</p>

<p>“Sebenernya aku suka dateng ke Namsan Tower, cari angin sambil liatin Seoul pas malem, rasanya kayak bisa napas dengan bebas gitu. Tapi karena kamu suka Sungai Han. Aku ajak kamu ke tempat khusus. Tempat ini sering aku sama datengin sama anak-anak.” terang Marcel.</p>

<p>Beberapa saat kemudian, akhirnya tiba lah mereka di destinasi yang Marcel katakan. Keduanya berhenti di sebuah Restaurant yang bernuansa klasik. Restaurant ini masih berada di pinggir sungai Han yang berada delapan kilometer dari pusat Kota Seoul, tepatnya di distrik Mapo.</p>

<p>“Ayok Ai turun” ajak marcel kepada Aileen. Dirinya saat ini sudah mengenakan topi, masker, dan hoodie untuk menutupi identitasnya.
“Ini kita mau makan di sini? Nanti kalo ada yang ngenalin kamu gimana?” Otak Aileen langsung memberikan kode peringatan, mengatakan bahwa <em>dine-in</em> di resto ini bukanlah ide yang bagus. Karena saat mobil mereka memasuki perkarangan <em>restaurant</em> sudah di penuhi oleh mobil yang berjejer, yang mengartikan bahwa di dalam <em>restaurant</em> itu juga penuh.</p>

<p>“Tenang aja, yang punya restaurant ini aku sama anak-anak. Restonya udah di desain punya ruangan khusus.Jadi kami bisa bebas tanpa harus takut ketahuan. Yuk turun.”</p>

<p>Marcel memakirkan mobilnya di belakang gedung bersama kendaraan para karyawannya juga tempat parkir ini dijaga oleh seorang satpam. Sehingga tidak semua orang bisa masuk ke area belakang restaurant.
Kedua langsung masuk kedalam restaurant melalui pintu khusus karyawan. Aileen terus mengikuti Langkah marcel, hingga keduanya sampai di suatu ruangan yang memiliki kaca besar-besar yang menampilkan pemandangan hamparan Sungai Han yang indah.</p>

<p>Aileen sempat takjub beberapa saat, menamati perpaduan indahnya interior bernuansa klasik dengan sentuhan modern. Disini selain ada meja makan yang berada dekat dengan jendela, juga ada sofa beserta tv led berukuran 24 inch dengan playstation yang tersambung. Benar-benar ruangan yang cocok yang digunakan untuk bersantai.
Hingga ia tersadar saat tangan Marcel dengan lembut meraih tangannya menuntun untuk duduk di meja makan itu.</p>

<p>“Pemandangannya cantik ya Cel.” Saat ini keduanya sudah duduk berhadap-hadapan, tak lupa tadi dengan gentle Marcel menarik kursi untuk Aileen dan mempersilahkannya duduk sebelum mendudukkan diri. Mereka kembali tenggelam dalam perbincangan ringan, hingga tiba-tiba seorang pegawai—dengan tag bertuliskan manajer masuk menginterupsi keduanya. Ada berbagai menu seafood yang ditawarkan di buku menu itu, Aileen hanya memesan <em>haemul pajeon</em>,  <em>spicy seafood japchae</em>  dan <em>grilled galbi</em> dengan jus jeruk. Ia memesan sedikit banyak karena mendengar Marcel yang hanya memesan minum.</p>

<p>Saat pesanan mereka sudah berada di atas meja makan, Aileen langsung menggeser piring makanan ke hadapan Marcel dan mengangsurkan sendok kepada Marcel.</p>

<p>Tapi marcel hanya diam seperti patung dan hanya menatap Aileen bingung. Greget karena Marcel yang tidak segera mengambil sendok yang ia berikan, Aileen langsung mengambil sendok itu dan memaksa Marcel untuk memegangnya.</p>

<p>“Nggak ada cerita cuma aku yang makan. Kamu juga harus ikut makan Cel. Nggak ada penolakan ya, kalo nolak aku suap kamu secara paksa.” Marcel ingin menolak, tapi saat baru saja bibirnya akan terbuka Aileen langsung mengatakan kalimat itu dengan nada yang menyiratkan ia tidak ingin dibantah—Marcel langsung mengatupkan mulutnya kembali, dan ikut memakan penasanan Aileen.</p>

<p>Aileen tertawa keras dalam hati saat melihat ekspresi Marcel yang kicep tidak berani membantah, benar-benar terlihat seperti seorang anak yang takut dimarahi oleh sang Bunda. Kemudian hatinya perlahan menghangat, bisa melihat Marcel yang saat ini ada di hadapannya dan bisa menghabiskan waktu bersama dengan santai di sebuah restaurant yang berada di pinggir Sungai Han benar-benar perpaduan yang tak ada dibayangannya. Indah, sangat indah.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://royals-melody.writeas.com/dari-balik-kemudi-mobil-yang-marcel-kendarai-netranya-menangkap-sosok-yang-ia</guid>
      <pubDate>Sun, 16 Jan 2022 16:25:17 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sidang Meja Persegi</title>
      <link>https://royals-melody.writeas.com/sidang-meja-persegi?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sidang Meja Persegi&#xA;&#xA;Sidang Meja Persegi&#xA;&#xA;Suasana hening dan mencekam menyergap ruang makan apartemen member Seven Dreamer saat ini. Mereka sudah duduk di masing-masing kursi meja makan yang tersedia dengan tersangka utama yang duduk di kursi paling ujung. Tak lupa kelimanya—kecuali Kenzie—memberikan tatapan maut, menuntut penjelasan kepada sang tersangka. Sementara yang ditatap hanya bisa memperlihatkan wajah memelas dengan perasaan was-was. Pasalnya, jika sudah dalam mode serius seperti ini, adik-adiknya benar-benar menyeramkan. Marcel sudah memasrahkan diri akan diadili seperti apa dia nanti. &#xA;&#xA;“Ekhem-ekhem..., baiklah karena semua pihak yang berkepentingan telah hadir, maka sidang malam ini dapat dimulai. Kepada para penuntut dipersilahkan mengajukan pertanyaan kepada terdakwa,” ujar Hayza dengan tampang tengil sok serius. Setelahnya yang terjadi malah mereka saling lempar pandang dan lempar kode. Saling suruh-menyuruh untuk melemparkan pertanyaan terlebih dahulu. Apabila situasi tersebut diterjemahkan ke bahasa lisan, percakapannya akan seperti ini. ‘Heh! Lo dulu sana yang tanya, kan lo yang ngajak sidang.’ ‘Nggak mau! Lo dulu aja, kan lo yang punya bukti tweetnya.’ ‘Nath, lo dulu Nath.’ ‘Ogah.’ &#xA;&#xA;“Jadi, berdasarkan bukti yang kemarin malem Ilo kirim di grup…, lo udah punya cewek Bang?” Akhirnya setelah saling lempar kode tidak jelas, Reynard yang pertama kali menyuarakan pertanyaannya.&#xA;“Udah berapa lama lo pacaran sama dia Bang? Kok gue nggak pernah tahu?” Pertanyaan kedua datang dari Nathan.&#xA;“Terus itu emang sengaja mau lo post di twitter? Mau pamer biar kita semua tahu? Apa lo salah akun Bang?” Kemudian pertanyaan ketiga ditanyakan oleh sang pengirim bukti di grup mereka--siapa lagi kalau bukan Ilo. &#xA;&#xA;Mendapat pertanyaan bertubi-tubi membuat kepala Marcel pusing tujuh keliling, ia bingung harus menjawab dan menjelaskan mulai dari mana. Sejak semalam Marcel merutuki dirinya sendiri, bisa-bisanya ia seceroboh seperti itu. Untung saja akun twitternya adalah akun pribadi, jadi yang tahu kalau ia mem–posting foto Aileen hanya para adiknya sehingga tidak menimbulkan kekacauan besar. Walaupun ia harus disidang oleh mereka berenam, tapi ini lebih baik. Karena nasi sudah menjadi bubur, maka satu-satunya cara Marcel bisa menyelamatkan diri adalah dengan bercerita sejujur-jujurnya. Oh, jangan pernah memiliki ide untuk berbohong di situasi seperti ini jika tidak ingin ditendang keluar dari apartement. Mereka tidak akan segan-segan menendang siapapun keluar dari apartemen--terbukti dengan Hayza yang pernah ditendang keluar.&#xA;&#xA;“Okay-okay, gua jawab satu-satu pertanyaan kalian. So, the girl that I posted last night isn’t my girlfriend—yet? Maybe? Pokoknya begitu. Namanya Aileen, she is one of our fans. Gua ketemu dia waktu event fansign terakhir kali, and that was our first met, Karena emang di event fansign sebelum-sebelumnya gua nggak pernah ketemu dia. Jadi jelas kalo dia bukan cewek gua. Terus buat pertanyaan Ilo, iya, gua salah akun waktu mau post foto itu jadi gua nggak ada niatan buat pamer atau apalah itu.” Mendengar jawaban Marcel, sontak kelimanya menaikkan sebelah alis mereka, raut heran, curiga, dan bingung menghiasi masing-masing wajah kelimanya. Sementara Kenzi sedari tadi tidak ikut menimbrung. Mendengarkan, menikmati, dan menahan tawa adalah tugas yang sedang dia laksanakan dan sialnya tugas terakhir merupakan tugas terberat bagi Kenzie. Mati-matian Kenzie menahan tawa karena tidak ingin mengganggu jalannya persidangan, padahal wajah memelas Marcel saat ini sangat cocok untuk ditertawakan. &#xA;&#xA;“Fans? Lah gimana cara lo bisa dapet fotonya?”&#xA;“Lo stalk sosmednya Bang?”&#xA;“Lo diem-diem nyuri fotonya ya bang?! Wah parah-parah, nggak habis thinking gua”&#xA;“Astaga tuhannn. Kalian nanya satu-satu bisa nggak sihh?!” erang Marcel frustasi. Seketika semuanya mengunci mulut rapat-rapat.&#xA;&#xA;“Haahhhh.... Intinya gua bisa kenalan sama dia gara-gara nemu akun twitternya. Terus gua dm-dm an, ngobrol biasa. Kalo kalian tanya, motivasi gua apa sampek berani dm-dm an sama dia? Gua juga nggak tau. Terus kalau kalian tanya lagi, gua ini lagi pdkt apa nggak? Terus gua mau jadiin dia pacar apa nggak? Jawabannya masih sama. Gua nggak tahu. Sampek sini udah jelas? Mau nanya apalagi?” Mendengar penjelasan singkat, padat, dan frustasi dari Marcel membuat keenamnya hanya mengangguk-angguk mengerti. &#xA;&#xA;&#34;Bagaimana para penyidik apakah ada yang ditanyakan lagi atau merasa sidang ini sudah cukup?&#34; tanya Hayza yang langsung dijawab dengan gelengan serempak oleh mereka.&#xA;&#xA;“Baiklah, karena dirasa permasalahan yang dibahas dalam sidang kali ini sudah mendapat kejelasan. Maka saya nyatakan sidang ini saya tutup.” &#xA;&#xA;Duk duk duk &#xA;&#xA;Setelah Hayza menutup sidang menegangkan itu dengan mengetukkan pantat gelas yang ada didepannya ke permukaan meja makan, Marcel langsung bangkit dari kursi panas yang dia duduki dan melesatkan daksanya menuju tempat ternyaman baginya--kamarnya—dan mengunci pintu dari dalam. Hal itu sebagai bentuk antisipasi agar tidak ada yang memasuki kamarnya dan tiba-tiba melakukan interograsi kedua. Ia sandarkan punggungnya ke pintu sembari memijat pelan pelipisnya yang cenat-cenut bukan main. &#xA;Kemudian ia langkahkan tungkainya menuju ranjang untuk merebahkan diri. Marcel buka ponselnya berniat menghubungi Aileen. Yah mungkin mengobrol dengan Aileen bisa sedikit meredakan rasa pening dikepalanya&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://i.pinimg.com/564x/8e/a1/db/8ea1db38598879709facaedf836c1e32.jpg" alt="Sidang Meja Persegi"/></p>

<h1 id="sidang-meja-persegi" id="sidang-meja-persegi">Sidang Meja Persegi</h1>

<p>Suasana hening dan mencekam menyergap ruang makan apartemen member <em>Seven Dreamer</em> saat ini. Mereka sudah duduk di masing-masing kursi meja makan yang tersedia dengan tersangka utama yang duduk di kursi paling ujung. Tak lupa kelimanya—kecuali Kenzie—memberikan tatapan maut, menuntut penjelasan kepada sang tersangka. Sementara yang ditatap hanya bisa memperlihatkan wajah memelas dengan perasaan was-was. Pasalnya, jika sudah dalam mode serius seperti ini, adik-adiknya benar-benar menyeramkan. Marcel sudah memasrahkan diri akan diadili seperti apa dia nanti.</p>

<p>“Ekhem-ekhem..., baiklah karena semua pihak yang berkepentingan telah hadir, maka sidang malam ini dapat dimulai. Kepada para penuntut dipersilahkan mengajukan pertanyaan kepada terdakwa,” ujar Hayza dengan tampang tengil sok serius. Setelahnya yang terjadi malah mereka saling lempar pandang dan lempar kode. Saling suruh-menyuruh untuk melemparkan pertanyaan terlebih dahulu. Apabila situasi tersebut diterjemahkan ke bahasa lisan, percakapannya akan seperti ini. <em>‘Heh! Lo dulu sana yang tanya, kan lo yang ngajak sidang.’</em> <em>‘Nggak mau! Lo dulu aja, kan lo yang punya bukti tweetnya.’</em> <em>‘Nath, lo dulu Nath.’</em> <em>‘Ogah.’</em></p>

<p>“Jadi, berdasarkan bukti yang kemarin malem Ilo kirim di grup…, lo udah punya cewek Bang?” Akhirnya setelah saling lempar kode tidak jelas, Reynard yang pertama kali menyuarakan pertanyaannya.
“Udah berapa lama lo pacaran sama dia Bang? Kok gue nggak pernah tahu?” Pertanyaan kedua datang dari Nathan.
“Terus itu emang sengaja mau lo <em>post</em> di twitter? Mau pamer biar kita semua tahu? Apa lo salah akun Bang?” Kemudian pertanyaan ketiga ditanyakan oleh sang pengirim bukti di grup mereka—siapa lagi kalau bukan Ilo.</p>

<p>Mendapat pertanyaan bertubi-tubi membuat kepala Marcel pusing tujuh keliling, ia bingung harus menjawab dan menjelaskan mulai dari mana. Sejak semalam Marcel merutuki dirinya sendiri, bisa-bisanya ia seceroboh seperti itu. Untung saja akun twitternya adalah akun pribadi, jadi yang tahu kalau ia mem–<em>posting</em> foto Aileen hanya para adiknya sehingga tidak menimbulkan kekacauan besar. Walaupun ia harus disidang oleh mereka berenam, tapi ini lebih baik. Karena nasi sudah menjadi bubur, maka satu-satunya cara Marcel bisa menyelamatkan diri adalah dengan bercerita sejujur-jujurnya. Oh, jangan pernah memiliki ide untuk berbohong di situasi seperti ini jika tidak ingin ditendang keluar dari apartement. Mereka tidak akan segan-segan menendang siapapun keluar dari apartemen—terbukti dengan Hayza yang pernah ditendang keluar.</p>

<p>“Okay-okay, gua jawab satu-satu pertanyaan kalian. <em>So, the girl that I posted last night isn’t my girlfriend—yet? Maybe?</em> Pokoknya begitu. Namanya Aileen, <em>she is one of our fans.</em> Gua ketemu dia waktu <em>event fansign</em> terakhir kali, <em>and that was our first met</em>, Karena emang di <em>event fansign</em> sebelum-sebelumnya gua nggak pernah ketemu dia. Jadi jelas kalo dia bukan cewek gua. Terus buat pertanyaan Ilo, iya, gua salah akun waktu mau <em>post</em> foto itu jadi gua nggak ada niatan buat pamer atau apalah itu.” Mendengar jawaban Marcel, sontak kelimanya menaikkan sebelah alis mereka, raut heran, curiga, dan bingung menghiasi masing-masing wajah kelimanya. Sementara Kenzi sedari tadi tidak ikut menimbrung. Mendengarkan, menikmati, dan menahan tawa adalah tugas yang sedang dia laksanakan dan sialnya tugas terakhir merupakan tugas terberat bagi Kenzie. Mati-matian Kenzie menahan tawa karena tidak ingin mengganggu jalannya persidangan, padahal wajah memelas Marcel saat ini sangat cocok untuk ditertawakan.</p>

<p>“Fans? Lah gimana cara lo bisa dapet fotonya?”
“Lo <em>stalk</em> sosmednya Bang?”
“Lo diem-diem nyuri fotonya ya bang?! Wah parah-parah, nggak habis <em>thinking</em> gua”
“Astaga tuhannn. Kalian nanya satu-satu bisa nggak sihh?!” erang Marcel frustasi. Seketika semuanya mengunci mulut rapat-rapat.</p>

<p>“Haahhhh.... Intinya gua bisa kenalan sama dia gara-gara nemu akun twitternya. Terus gua dm-dm an, ngobrol biasa. Kalo kalian tanya, motivasi gua apa sampek berani dm-dm an sama dia? Gua juga nggak tau. Terus kalau kalian tanya lagi, gua ini lagi pdkt apa nggak? Terus gua mau jadiin dia pacar apa nggak? Jawabannya masih sama. Gua nggak tahu. Sampek sini udah jelas? Mau nanya apalagi?” Mendengar penjelasan singkat, padat, dan frustasi dari Marcel membuat keenamnya hanya mengangguk-angguk mengerti.</p>

<p>“Bagaimana para penyidik apakah ada yang ditanyakan lagi atau merasa sidang ini sudah cukup?” tanya Hayza yang langsung dijawab dengan gelengan serempak oleh mereka.</p>

<p>“Baiklah, karena dirasa permasalahan yang dibahas dalam sidang kali ini sudah mendapat kejelasan. Maka saya nyatakan sidang ini saya tutup.”</p>

<p><strong>Duk duk duk</strong></p>

<p>Setelah Hayza menutup sidang menegangkan itu dengan mengetukkan pantat gelas yang ada didepannya ke permukaan meja makan, Marcel langsung bangkit dari kursi panas yang dia duduki dan melesatkan daksanya menuju tempat ternyaman baginya—kamarnya—dan mengunci pintu dari dalam. Hal itu sebagai bentuk antisipasi agar tidak ada yang memasuki kamarnya dan tiba-tiba melakukan interograsi kedua. Ia sandarkan punggungnya ke pintu sembari memijat pelan pelipisnya yang cenat-cenut bukan main.
Kemudian ia langkahkan tungkainya menuju ranjang untuk merebahkan diri. Marcel buka ponselnya berniat menghubungi Aileen. Yah mungkin mengobrol dengan Aileen bisa sedikit meredakan rasa pening dikepalanya</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://royals-melody.writeas.com/sidang-meja-persegi</guid>
      <pubDate>Mon, 27 Dec 2021 15:39:46 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Benarkah</title>
      <link>https://royals-melody.writeas.com/hujan-mengguyur-daratan-kota-seoul-sore-hari-ini-cukup-deras-hingga-membuat?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Benarkah&#xA;&#xA;Benarkah?&#xA;&#xA;Hujan mengguyur daratan kota Seoul sore hari ini, cukup deras hingga menyebabkan para manusia memilih untuk berdiam diri di dalam kediaman mereka masing-masing. Begitupun Aileen, ia sekarang sedang berada di ruang tamu apartemennya yang nyaman sembari menelpon Bunda. Di tengah-tengah keasyikannya berceloteh dengan Bunda, tiba-tiba seseorang mendobrak masuk ke apartemennya. &#xA;&#xA;BRAK&#xA;&#xA;“AILENNN, NGAKU LO! SEMALEM DAPET FOTO MARCEL DARIMANA?!!” Suara itu berasal dari pintu yang terbanting dengan keras disusul suara teriakan seseorang yang tak asing bagi Aileen. Pelaku utamanya tidak lain dan tidak bukan adalah ‘tuyul kesayangannya&#39;--panggilan khusus untuk Freya jika bertingkah seperti ini. Aileen kaget bukan main, jantungnya hampir saja merosot ke perut, ponselnya juga sampai melayang ke udara dan jatuh entah kemana. &#xA;&#xA;“Frey itu lama-lama pintu apart gua rusak yaampunnnn, nanti kalau apart gua nggak ada pintunya gimana coba?!” seru Aileen. &#xA;“Ya nggak gimana-gimana. Kalau pintu apart lo rusak, tinggal pindah ke apart gua. Tinggal bareng. Gitu aja susah amat,” balas Freya. Cuek dan enteng sekali bukan jawabannya? Memang begitulah seorang Freya, omong-omong mereka berdua memang tinggal di unit apartemen yang berbeda. Alasannya karena Aileen ingin mendapat ketenangan hidup dan agar perabotan apartemennya tidak cepat rusak—dari tingkah laku Freya yang grasah-grusuh—padahal, Freya sudah memohon-mohon hingga berguling-guling dilantai bahkan Bunda ikut turun tangan membujuk Aileen agar mau tinggal bersama Freya. Tapi sekali Aileen mengatakan &#34;Tidak&#34; ya tetap &#34;Tidak&#34;. &#xA;&#xA;“Halo dek, itu siapa yang dobrak pintu apart kamu? Halo? Halo?” Mendengar suara pintu yang terbanting dan teriakan keras tentu membuat Bunda khawatir bukan main, takut-takut jika ada orang asing yang berniat mencelakakan putri semata wayangnya. Karena suara bunda yang terdengar begitu khawatir dari pengeras suara ponselnya, membuat Aileen langsung memusatkan atensinya mencari benda pipih itu—yang ternyata jatuh kebawah kolong sofa. &#xA;&#xA;“Halo Bun? Maaf tadi hpnya jatuh ke kolong. Itu tadi Freya kok Bun, anaknya nggak sengaja buka pintu pakai tenaga dalam makanya jadi kebanting, jangan khawatir ya Bun.”&#xA;“Eh lin, itu Mami?” Mendengar Aileen menyebut kata ‘Bunda’ spontan Freya melemparkan pertanyaan, meminta konfirmasi apakah benar yang sedang berada di sambungan telepon adalah Mami cantiknya atau bukan. &#xA;&#xA;“Iya gua teleponan sama Bunda, kenapa?” Tanpa aba-aba Freya langsung menyambar handphone Aileen dan menyerobot ingin mengobrol dengan Bunda, Aileen hanya bisa menghela nafas dan memanjangkan sabar. Memahami bahwa manusia sejenis Freya ini tidak ada duplikatnya. Cerah, wajah Freya terlihat sangat cerah selama ia mengobrol dengan Bunda. Freya menceritakan banyak hal mengenai kegiatan yang sudah ia dan Aileen lakukan selama berada di Korea. Sementara Aileen sendiri hanya diam mendengarkan, seraya menyunggingkan senyum melihat interaksi diantara keduanya. Dirinya bersyukur, atas kehadiran Freya di kehidupannya dan Bunda yang kosong, sehingga ia tidak merasakan sepi. Aileen biarkan Freya mengobrol dengan Bunda sampai puas, mungkin dengan mendengar ocehan Freya Bunda bisa terhibur. “Okedeh Mami, Freya tutup telponnya ya? Kalo kangen sama Freya, langsung telpon Freya aja. Dadah mamiii, lopyuuuu.”&#xA;&#xA;Tut &#xA;&#xA;Bunyi itu menjadi penanda terputusnya telpon antar keduanya, segera Freya letakkan handphone Aileen di meja kecil yang ada di depan mereka kemudian ia ubah posisi duduknya menghadap Aileen sepenuhnya dengan menampilkan ekspresi serius. Seketika suhu udara yang melingkupi keduanya turun ke titik terendah.&#xA;&#xA;“Kenapa Frey? Lo kok mendadak serius gini?” cicit Aileen, jujur saja bulu kuduknya mulai meremang sekarang.&#xA;“Semalem foto Marcel yang lo tweet dapet darimana?” tanya Freya penuh selidik. Ah ternyata perihal itu yang ingin Freya bahas, semalam memang Aileen sudah berjanji kepada Freya bahwa hari ini ia akan bercerita mengenai asal mula dirinya bisa mendapatkan foto Marcel itu. &#xA;&#xA;“Oke, gua certain dari awal. Tapi disclaimer dulu, gue nggak ada maksud buat sembunyiin ini dari lo. Gue cuma masih ragu-ragu, makanya belum cerita. Jadi awal kejadiannya itu gini….” Aileen uraikan semua kejadian dari awal hingga akhir secara runtut, taklupa ia tunjukkan semua percakapan yang terjadi diantara dirinya dengan Marcel baik di dm twitter maupun i-messages. Tak ada yang terlewat dan tak ada yang ditutup-tutupi, toh dirinya bercerita kepada sahabatnya sendiri.&#xA;&#xA;Hingga Aileen selesai bercerita Freya masih dalam posisi diam seperti patung. Kepalanya masih memproses segala penuturan dari Aileen serta sedang berada di persimpangan antara haruskah ia percaya atau tidak. Bukan, bukannya Freya meragukan Aileen, namun karguannya lebih mengarah kepada apakah yang menghubungi Aileen benarlah seorang Henry Marcel? Kemudian sebersit pertanyaan lain terlintas di kepalanya.&#xA;&#xA;“Lin kalau dipikir-pikir nih ya, di sini gua ngomongnya Marcel sebagai cowok ya bukan sebagai idol terus gua anggep itu beneran Marcel walaupun gua masih nggak percaya sih, kayaknya dia nggak sekedar iseng deh ngechat lo. I mean kayakya dia punya interest deh sama lo.” Jika berpikir menggunakan logika pada umumnya, tingkah kaum adam yang seperti itu menunjukkan tanda-tanda sedang melakukan pendekatan bukan? Iya, Freya yakin seratus persen tanpa koma.&#xA;&#xA;Mendengar penuturan Freya barusan ada secuil bagian dari otak Aileen yang mengatakan &#39;ya, mungkin bisa jadi seperti itu&#39;, tapi disisi lain sebagian besar otaknya mengatakan hal yang sebaliknya. &#39;Ah nggak mungkin, Henry Marcel yang seorang bintang besar yang dielu-elukan dan diidam-idamkan oleh beribu-ribu orang memiliki ketertarikan kepadanya yang hanya seorang…, Aileen? Iya, seorang Valeri Aileen yang biasa saja dan hanya memiliki dunianya yang kecil&#39;. &#xA;&#xA;Menurut Aileen pernyataan kedua yang dibuat oleh otaknya lebih logis dan terasa lebih pas dengan kenyataan, memangnya siapa dia? Kasta dimana Aileen berpijak dan kasta dimana Marcel berada sangat berbeda jauh, bagai langit dan bumi.  Jadi Aileen sangat amat sadar dengan posisinya disini. ‘Jangan mimpi dan halu terlalu tinggi, ingat posisimu yang hanya sebagai fans biasa, Aileen’ Kalimat itu sudah menancap di kepalanya sejak lama.&#xA;&#xA;“Nggak ah Frey, gua yakin deh Marcel nge-chat gua dari kemarin emang karena dia butuh teman ngobrol aja atau mungkin nanti bisa aja dia ngehubungin gua buat tanya pendapat mengenai cewek? Lagipula gua sadar posisi Frey, kita ini cuma fans yang peran utamanya ngedukung mereka dan nggak lebih.” Hahhh..., Freya hanya menghela nafas, paham dengan jalan berpikir Aileen yang mencoba untuk sadar posisi, tapi dia juga begitu yakin dengan opininya mengenai Marcel yang kelihatannya ingin menjadi lebih dari sekedar teman dengan Aileen.&#xA;&#xA;Jika opini Freya memang benar-benar sebuah fakta, maka menyadarkan Aileen untuk tidak denial adalah suatu pekerjaan yang sulit dan akan membutuhkan waktu yang lama—karena tingkat keras kepala seorang Aileen melebihi kerasnya batu—jadi daripada Freya berdebat dengan Aileen sekarang, ia lebih memilih mengalah dan melihat situasi dan kondisi kedepannya apakah opininya akan benar-benar terjadi atau hanya akan tetap menjadi sekedar opini.&#xA;&#xA;“Ya udah kalau begitu, awas lu kalau besok-besok nggak mau cerita sampek harus gua todong kayak begini. Gua gibeng beneran.”&#xA;“Iyaaa gua bakal update terus ke lo kalau emang ada yang harus di update. Selain itu, lo pantau aja bales-balesan gue di twitter, kalau perlu akun gue lo bawa aja sekalian.” Daripada ribet kedepannya, jika Freya benar-benar meminta akun twitternya maka dengan ikhlas akan Aileen berikan, toh twitter nya juga bersih tidak ada hal-hal yang mencurigakan di sana.&#xA;“Oke gua tagih nanti, kalau gitu ayo makan, tapi lo yang harus traktir. Salah sendiri main petak umpet sama gua, itung-itung permohonan maaf.”&#xA;&#xA;“Cih, bilang aja lo lagi miskin makanya minta ditraktir.” Akhirnya Aileen dapat bernafas lega, lega karena Freya tidak membombardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang dapat membuat Aileen pusing tujuh keliling juga lega karena Freya tidak mengajaknya berdebat. Jika seperti ini berarti asumsi Aileen benar adanya, kan?&#xA;&#xA;  but who knows? we don&#39;t know how the universe works, do we?&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://i.pinimg.com/564x/1c/2c/38/1c2c38b4df9dc34afb64ef2c0c73e313.jpg" alt="Benarkah"/></p>

<h1 id="benarkah" id="benarkah">Benarkah?</h1>

<p>Hujan mengguyur daratan kota Seoul sore hari ini, cukup deras hingga menyebabkan para manusia memilih untuk berdiam diri di dalam kediaman mereka masing-masing. Begitupun Aileen, ia sekarang sedang berada di ruang tamu apartemennya yang nyaman sembari menelpon Bunda. Di tengah-tengah keasyikannya berceloteh dengan Bunda, tiba-tiba seseorang mendobrak masuk ke apartemennya.</p>

<p><strong>BRAK</strong></p>

<p>“AILENNN, NGAKU LO! SEMALEM DAPET FOTO MARCEL DARIMANA?!!” Suara itu berasal dari pintu yang terbanting dengan keras disusul suara teriakan seseorang yang tak asing bagi Aileen. Pelaku utamanya tidak lain dan tidak bukan adalah ‘tuyul kesayangannya&#39;—panggilan khusus untuk Freya jika bertingkah seperti ini. Aileen kaget bukan main, jantungnya hampir saja merosot ke perut, ponselnya juga sampai melayang ke udara dan jatuh entah kemana.</p>

<p>“Frey itu lama-lama pintu apart gua rusak yaampunnnn, nanti kalau apart gua nggak ada pintunya gimana coba?!” seru Aileen.
“Ya nggak gimana-gimana. Kalau pintu apart lo rusak, tinggal pindah ke apart gua. Tinggal bareng. Gitu aja susah amat,” balas Freya. Cuek dan enteng sekali bukan jawabannya? Memang begitulah seorang Freya, omong-omong mereka berdua memang tinggal di unit apartemen yang berbeda. Alasannya karena Aileen ingin mendapat ketenangan hidup dan agar perabotan apartemennya tidak cepat rusak—dari tingkah laku Freya yang grasah-grusuh—padahal, Freya sudah memohon-mohon hingga berguling-guling dilantai bahkan Bunda ikut turun tangan membujuk Aileen agar mau tinggal bersama Freya. Tapi sekali Aileen mengatakan “Tidak” ya tetap “Tidak”.</p>

<p>“Halo dek, itu siapa yang dobrak pintu apart kamu? Halo? Halo?” Mendengar suara pintu yang terbanting dan teriakan keras tentu membuat Bunda khawatir bukan main, takut-takut jika ada orang asing yang berniat mencelakakan putri semata wayangnya. Karena suara bunda yang terdengar begitu khawatir dari pengeras suara ponselnya, membuat Aileen langsung memusatkan atensinya mencari benda pipih itu—yang ternyata jatuh kebawah kolong sofa.</p>

<p>“Halo Bun? Maaf tadi hpnya jatuh ke kolong. Itu tadi Freya kok Bun, anaknya nggak sengaja buka pintu pakai tenaga dalam makanya jadi kebanting, jangan khawatir ya Bun.”
“Eh lin, itu Mami?” Mendengar Aileen menyebut kata ‘Bunda’ spontan Freya melemparkan pertanyaan, meminta konfirmasi apakah benar yang sedang berada di sambungan telepon adalah Mami cantiknya atau bukan.</p>

<p>“Iya gua teleponan sama Bunda, kenapa?” Tanpa aba-aba Freya langsung menyambar <em>handphone</em> Aileen dan menyerobot ingin mengobrol dengan Bunda, Aileen hanya bisa menghela nafas dan memanjangkan sabar. Memahami bahwa manusia sejenis Freya ini tidak ada duplikatnya. Cerah, wajah Freya terlihat sangat cerah selama ia mengobrol dengan Bunda. Freya menceritakan banyak hal mengenai kegiatan yang sudah ia dan Aileen lakukan selama berada di Korea. Sementara Aileen sendiri hanya diam mendengarkan, seraya menyunggingkan senyum melihat interaksi diantara keduanya. Dirinya bersyukur, atas kehadiran Freya di kehidupannya dan Bunda yang kosong, sehingga ia tidak merasakan sepi. Aileen biarkan Freya mengobrol dengan Bunda sampai puas, mungkin dengan mendengar ocehan Freya Bunda bisa terhibur. “Okedeh Mami, Freya tutup telponnya ya? Kalo kangen sama Freya, langsung telpon Freya aja. Dadah mamiii, lopyuuuu.”</p>

<p><em>Tut</em></p>

<p>Bunyi itu menjadi penanda terputusnya telpon antar keduanya, segera Freya letakkan handphone Aileen di meja kecil yang ada di depan mereka kemudian ia ubah posisi duduknya menghadap Aileen sepenuhnya dengan menampilkan ekspresi serius. Seketika suhu udara yang melingkupi keduanya turun ke titik terendah.</p>

<p>“Kenapa Frey? Lo kok mendadak serius gini?” cicit Aileen, jujur saja bulu kuduknya mulai meremang sekarang.
“Semalem foto Marcel yang lo tweet dapet darimana?” tanya Freya penuh selidik. Ah ternyata perihal itu yang ingin Freya bahas, semalam memang Aileen sudah berjanji kepada Freya bahwa hari ini ia akan bercerita mengenai asal mula dirinya bisa mendapatkan foto Marcel itu.</p>

<p>“Oke, gua certain dari awal. Tapi <em>disclaimer</em> dulu, gue nggak ada maksud buat sembunyiin ini dari lo. Gue cuma masih ragu-ragu, makanya belum cerita. Jadi awal kejadiannya itu gini….” Aileen uraikan semua kejadian dari awal hingga akhir secara runtut, taklupa ia tunjukkan semua percakapan yang terjadi diantara dirinya dengan Marcel baik di dm twitter maupun <em>i-messages</em>. Tak ada yang terlewat dan tak ada yang ditutup-tutupi, toh dirinya bercerita kepada sahabatnya sendiri.</p>

<p>Hingga Aileen selesai bercerita Freya masih dalam posisi diam seperti patung. Kepalanya masih memproses segala penuturan dari Aileen serta sedang berada di persimpangan antara haruskah ia percaya atau tidak. Bukan, bukannya Freya meragukan Aileen, namun karguannya lebih mengarah kepada apakah yang menghubungi Aileen benarlah seorang Henry Marcel? Kemudian sebersit pertanyaan lain terlintas di kepalanya.</p>

<p>“Lin kalau dipikir-pikir nih ya, di sini gua ngomongnya Marcel sebagai cowok ya bukan sebagai idol terus gua anggep itu beneran Marcel walaupun gua masih nggak percaya sih, kayaknya dia nggak sekedar iseng deh ngechat lo. I mean kayakya dia punya <em>interest</em> deh sama lo.” Jika berpikir menggunakan logika pada umumnya, tingkah kaum adam yang seperti itu menunjukkan tanda-tanda sedang melakukan pendekatan bukan? Iya, Freya yakin seratus persen tanpa koma.</p>

<p>Mendengar penuturan Freya barusan ada secuil bagian dari otak Aileen yang mengatakan <em>&#39;ya, mungkin bisa jadi seperti itu&#39;,</em> tapi disisi lain sebagian besar otaknya mengatakan hal yang sebaliknya. <em>&#39;Ah nggak mungkin, Henry Marcel yang seorang bintang besar yang dielu-elukan dan diidam-idamkan oleh beribu-ribu orang memiliki ketertarikan kepadanya yang hanya seorang…, Aileen? Iya, seorang Valeri Aileen yang biasa saja dan hanya memiliki dunianya yang kecil&#39;.</em></p>

<p>Menurut Aileen pernyataan kedua yang dibuat oleh otaknya lebih logis dan terasa lebih pas dengan kenyataan, memangnya siapa dia? Kasta dimana Aileen berpijak dan kasta dimana Marcel berada sangat berbeda jauh, bagai langit dan bumi.  Jadi Aileen sangat amat sadar dengan posisinya disini. <em>‘Jangan mimpi dan halu terlalu tinggi, ingat posisimu yang hanya sebagai fans biasa, Aileen’</em> Kalimat itu sudah menancap di kepalanya sejak lama.</p>

<p>“Nggak ah Frey, gua yakin deh Marcel nge-<em>chat</em> gua dari kemarin emang karena dia butuh teman ngobrol aja atau mungkin nanti bisa aja dia ngehubungin gua buat tanya pendapat mengenai cewek? Lagipula gua sadar posisi Frey, kita ini cuma fans yang peran utamanya ngedukung mereka dan nggak lebih.” Hahhh..., Freya hanya menghela nafas, paham dengan jalan berpikir Aileen yang mencoba untuk sadar posisi, tapi dia juga begitu yakin dengan opininya mengenai Marcel yang kelihatannya ingin menjadi lebih dari sekedar teman dengan Aileen.</p>

<p>Jika opini Freya memang benar-benar sebuah fakta, maka menyadarkan Aileen untuk tidak <em>denial</em> adalah suatu pekerjaan yang sulit dan akan membutuhkan waktu yang lama—karena tingkat keras kepala seorang Aileen melebihi kerasnya batu—jadi daripada Freya berdebat dengan Aileen sekarang, ia lebih memilih mengalah dan melihat situasi dan kondisi kedepannya apakah opininya akan benar-benar terjadi atau hanya akan tetap menjadi sekedar opini.</p>

<p>“Ya udah kalau begitu, awas lu kalau besok-besok nggak mau cerita sampek harus gua todong kayak begini. Gua gibeng beneran.”
“Iyaaa gua bakal <em>update</em> terus ke lo kalau emang ada yang harus di <em>update</em>. Selain itu, lo pantau aja bales-balesan gue di twitter, kalau perlu akun gue lo bawa aja sekalian.” Daripada ribet kedepannya, jika Freya benar-benar meminta akun twitternya maka dengan ikhlas akan Aileen berikan, toh twitter nya juga bersih tidak ada hal-hal yang mencurigakan di sana.
“Oke gua tagih nanti, kalau gitu ayo makan, tapi lo yang harus traktir. Salah sendiri main petak umpet sama gua, itung-itung permohonan maaf.”</p>

<p>“Cih, bilang aja lo lagi miskin makanya minta ditraktir.” Akhirnya Aileen dapat bernafas lega, lega karena Freya tidak membombardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang dapat membuat Aileen pusing tujuh keliling juga lega karena Freya tidak mengajaknya berdebat. Jika seperti ini berarti asumsi Aileen benar adanya, kan?</p>

<blockquote><p>but who knows? we don&#39;t know how the universe works, do we?</p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://royals-melody.writeas.com/hujan-mengguyur-daratan-kota-seoul-sore-hari-ini-cukup-deras-hingga-membuat</guid>
      <pubDate>Thu, 09 Dec 2021 12:48:22 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Who Is She</title>
      <link>https://royals-melody.writeas.com/semerbak-wangi-bunga-lavender-dari-pengharum-ruangan-memenuhi-kamar-berukuran?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Who Is She&#xA;&#xA;Who Is She?&#xA;&#xA;Semerbak harum cedar wood dari purrifier yang menyala memenuhi kamar berukuran enam belas meter persegi yang telah dihuni Marcel beberapa tahun belakangan. Dirinya saat ini sedang bersantai merebahkan diri di atas kasur kesayangannya sembari fokus membalas direct messages yang ia kirimkan kepada Aileen. Sangking fokusnya membalas, hingga membuat Marcel tak tahu bahwa Kenzi mengirim pesan beberapa saat yang lalu. Dirinya sempat terkejut saat membaca pesan itu, tidak mengira bahwa salah satu member yang sudah ia anggap seperti adik sendiri akan bertanya mendadak di tengah malam begini. Setelah diam beberapa saat memikirkan apa saja yang harus ia jelaskan kepada Kenzi nanti, Marcel langkahkan tungkainya menuju dimana Kenzie berada.&#xA;&#xA;Hal pertama yang Marcel lakukan ketika sudah berada di depan pintu kamar Kenzi yang tidak tertutup secara sempurna adalah mengintip kedalam, memastikan apakah sang pemilik kamar sudah terlelap atau belum, dari celah kecil itu terlihat Kenzi yang sedang fokus bermain game online di personal computernya--diantara mereka bertujuh memang Hayza dan Kenzilah yang paling gemar bermain game. Setelah puas mengintip untuk memastikan, Marcel ketuk pintu itu dengan perlahan. &#xA;&#xA;Tok tok&#xA;&#xA;“Masuk,” ucap Kenzi tanpa mengalihkan fokusnya dari layar komputer di hadapannya. Dari sudut matanya Kenzi dapat melihat raga Marcel yang memasuki kamar dan langsung menuju kasur miliknya. &#39;Pasti mau bahas yang gue imess tadi&#39; batin Kenzi, lantas segera ia selesaikan sesi bermainnya dan ikut merebahkan diri di atas kasur bersama Marcel.&#xA;&#xA;&#34;Lo kesini pasti mau bahas apa yang gua tanyain kan bang? Jadi gimana? Siapa tu cewek? Kok gue nggak pernah tau?&#34; Rentetan pertanyaan to the point tanpa pembuka dan tanpa basa-basi dari Kenzi adalah pertanda dibukanya sesi bercerita diantara keduanya. Begitulah Kenzi, jika sudah kepalang kepo, ia tidak akan segan-segan melontarkan sederet pertanyaan sekaligus. &#xA;&#xA;&#34;Udah pertanyaannya panjang kayak gerbong kereta, nggak ada basi-basinya pula, kebiasaan,&#34; ucap Marcel sembari geleng-geleng kepala. Marcel tidak heran dan memaklumi perangai Kenzi yang seperti itu, setelahnya Marcel mulai menjelaskan topik utama pembahasan mereka berdua malam ini. &#xA;&#xA;&#34;Jadi cewek itu fans kita Ken, lebih tepatnya fans gua--kayaknya sih. Makanya lo ngga pernah tahu dia. Gua tau akun twitternya gara-gara gua iseng coba nyari namanya di search bar dan ketemu. Terus habis itu gua mulai reply-reply tweetnya dia, sampek akhirnya tadi sore dia private akunnya mungkin risih gara-gara ada reply ghaib di tweetnya.... which is me. Karena gua nggak ada pilihan lain, akhirnya gua follow deh, terus gua dm mau minta maaf. Tapi malah lanjut dm an, gitu doang Ken.&#34; Mendengar penuturan singkat dari Marcel tentu saja menimbulkan berbagai pertanyaan di kepala Kenzi, terbukti dengan tercetaknya kerutan di alisnya saat ini. Logikanya sedang mencerna sekaligus berpikir bagaimana bisa abangnya ini sesantai itu berinteraksi dengan salah satu fans mereka--mulai dari memfollow hingga melakukan komunikasi menggungakan Direct Messages. Bukan, bukan maksud Kenzi untuk negatif thinking tapi kalau di pikir menggunakan akal sehat miliknya, seharusnya tidak seperti itu. Apalagi Marcel menggunakan akun pribadinya, apakah Marcel tidak takut kalau nanti akun pribadinya tersebar? Jujur saja Kenzi heran dengan tingkah Marcel. &#xA;&#xA;&#34;Bang lo nggak takut kalau nanti dia nyebarin akun pribadi lo?&#34; Tanya Kenzi&#xA;&#xA;&#34;Nggak, tapi gue juga nggak tahu kenapa gue bisa sesantai ini. Terus kalo dari hasil dm an gue tadi sama dia tadi, gue rasa dia nggak bakal nyebarin kok. Nih, baca aja dmnya.&#34; Marcel angsurkan ponselnya kepada Kenzi, membiarkan Kenzi membaca seluruh runtutan percakapan yang terjadi antara dirinya dan Aileen disitu. Setelah Kenzi baca keseluruhan chat itu ia mendapatkan suatu kesimpulan, sepertinya Marcel memiliki perasaan kepada si Aileen ini yang entah baru perasaan suka atau yang bagaimana Kenzi tidak tahu. Kenzi bisa menyimpulkan seperti itu karena saat ia melihat profile picture yang di pajang Aileen di akunnya--setelah selesai membaca, Kenzi langsung mengecek akun Aileen tadi--Aileen adalah gadis yang cantik, jadi wajar kalau Marcel bertingkah begini. &#xA;&#xA;“Bang tujuan lo kayak gini ke si Aileen apa bang? Lo suka sama dia? Nggak mungkin lo begini kalau cuma iseng. Terus lo habis ini mau gimana?” &#xA;&#xA;“Iya, mungkin gue punya rasa suka sama dia. But im not too sure with my feelings yet. Gua juga belum tahu mau gimana habis ini, maybe i will go with the flow..., gua sekarang malah lebih kepikiran hal ini.... Gua nggak salah kan ngelakuin kayak gini, Ken?&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://i.pinimg.com/564x/94/c9/70/94c9700dfe5d1446936c9218c2d2f148.jpg" alt="Who Is She"/></p>

<h1 id="who-is-she" id="who-is-she">Who Is She?</h1>

<p>Semerbak harum <em>cedar wood</em> dari <em>purrifier</em> yang menyala memenuhi kamar berukuran enam belas meter persegi yang telah dihuni Marcel beberapa tahun belakangan. Dirinya saat ini sedang bersantai merebahkan diri di atas kasur kesayangannya sembari fokus membalas <em>direct messages</em> yang ia kirimkan kepada Aileen. Sangking fokusnya membalas, hingga membuat Marcel tak tahu bahwa Kenzi mengirim pesan beberapa saat yang lalu. Dirinya sempat terkejut saat membaca pesan itu, tidak mengira bahwa salah satu member yang sudah ia anggap seperti adik sendiri akan bertanya mendadak di tengah malam begini. Setelah diam beberapa saat memikirkan apa saja yang harus ia jelaskan kepada Kenzi nanti, Marcel langkahkan tungkainya menuju dimana Kenzie berada.</p>

<p>Hal pertama yang Marcel lakukan ketika sudah berada di depan pintu kamar Kenzi yang tidak tertutup secara sempurna adalah mengintip kedalam, memastikan apakah sang pemilik kamar sudah terlelap atau belum, dari celah kecil itu terlihat Kenzi yang sedang fokus bermain <em>game online</em> di <em>personal computernya</em>—diantara mereka bertujuh memang Hayza dan Kenzilah yang paling gemar bermain game. Setelah puas mengintip untuk memastikan, Marcel ketuk pintu itu dengan perlahan.</p>

<p><em>Tok tok</em></p>

<p>“Masuk,” ucap Kenzi tanpa mengalihkan fokusnya dari layar komputer di hadapannya. Dari sudut matanya Kenzi dapat melihat raga Marcel yang memasuki kamar dan langsung menuju kasur miliknya. <em>&#39;Pasti mau bahas yang gue imess tadi&#39;</em> batin Kenzi, lantas segera ia selesaikan sesi bermainnya dan ikut merebahkan diri di atas kasur bersama Marcel.</p>

<p>“Lo kesini pasti mau bahas apa yang gua tanyain kan bang? Jadi gimana? Siapa tu cewek? Kok gue nggak pernah tau?” Rentetan pertanyaan <em>to the point</em> tanpa pembuka dan tanpa basa-basi dari Kenzi adalah pertanda dibukanya sesi bercerita diantara keduanya. Begitulah Kenzi, jika sudah kepalang <em>kepo</em>, ia tidak akan segan-segan melontarkan sederet pertanyaan sekaligus.</p>

<p>“Udah pertanyaannya panjang kayak gerbong kereta, nggak ada basi-basinya pula, kebiasaan,” ucap Marcel sembari geleng-geleng kepala. Marcel tidak heran dan memaklumi perangai Kenzi yang seperti itu, setelahnya Marcel mulai menjelaskan topik utama pembahasan mereka berdua malam ini.</p>

<p>“Jadi cewek itu fans kita Ken, lebih tepatnya fans gua—kayaknya sih. Makanya lo ngga pernah tahu dia. Gua tau akun twitternya gara-gara gua iseng coba nyari namanya di <em>search bar</em> dan ketemu. Terus habis itu gua mulai reply-reply tweetnya dia, sampek akhirnya tadi sore dia <em>private</em> akunnya mungkin risih gara-gara ada reply ghaib di tweetnya.... <em>which is me</em>. Karena gua nggak ada pilihan lain, akhirnya gua follow deh, terus gua dm mau minta maaf. Tapi malah lanjut dm an, gitu doang Ken.” Mendengar penuturan singkat dari Marcel tentu saja menimbulkan berbagai pertanyaan di kepala Kenzi, terbukti dengan tercetaknya kerutan di alisnya saat ini. Logikanya sedang mencerna sekaligus berpikir bagaimana bisa abangnya ini sesantai itu berinteraksi dengan salah satu fans mereka—mulai dari memfollow hingga melakukan komunikasi menggungakan <em>Direct Messages</em>. Bukan, bukan maksud Kenzi untuk <em>negatif thinking</em> tapi kalau di pikir menggunakan akal sehat miliknya, seharusnya tidak seperti itu. Apalagi Marcel menggunakan akun pribadinya, apakah Marcel tidak takut kalau nanti akun pribadinya tersebar? Jujur saja Kenzi heran dengan tingkah Marcel.</p>

<p>“Bang lo nggak takut kalau nanti dia nyebarin akun pribadi lo?” Tanya Kenzi</p>

<p>“Nggak, tapi gue juga nggak tahu kenapa gue bisa sesantai ini. Terus kalo dari hasil dm an gue tadi sama dia tadi, gue rasa dia nggak bakal nyebarin kok. Nih, baca aja dmnya.” Marcel angsurkan ponselnya kepada Kenzi, membiarkan Kenzi membaca seluruh runtutan percakapan yang terjadi antara dirinya dan Aileen disitu. Setelah Kenzi baca keseluruhan chat itu ia mendapatkan suatu kesimpulan, sepertinya Marcel memiliki perasaan kepada si Aileen ini yang entah baru perasaan suka atau yang bagaimana Kenzi tidak tahu. Kenzi bisa menyimpulkan seperti itu karena saat ia melihat <em>profile picture</em> yang di pajang Aileen di akunnya—setelah selesai membaca, Kenzi langsung mengecek akun Aileen tadi—Aileen adalah gadis yang cantik, jadi wajar kalau Marcel bertingkah begini.</p>

<p>“Bang tujuan lo kayak gini ke si Aileen apa bang? Lo suka sama dia? Nggak mungkin lo begini kalau cuma iseng. Terus lo habis ini mau gimana?”</p>

<p>“Iya, mungkin gue punya rasa suka sama dia. <em>But im not too sure with my feelings yet</em>. Gua juga belum tahu mau gimana habis ini, <em>maybe i will go with the flow</em>..., gua sekarang malah lebih kepikiran hal ini.... Gua nggak salah kan ngelakuin kayak gini, Ken?”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://royals-melody.writeas.com/semerbak-wangi-bunga-lavender-dari-pengharum-ruangan-memenuhi-kamar-berukuran</guid>
      <pubDate>Fri, 26 Nov 2021 10:23:15 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>